Laman

Rabu, 24 Oktober 2018

Konsep Penelitian


konsep, variabel, teori, asumsi, serta hipotesis pada metodologi penelitian.Konsep adalah istilah dan definisi yang digunakan untuk menggambarkan gejala secara abstrak, contohnya seperti kejadian, keadaan, kelompok. ... Proposisi adalah hubungan yang logis antara dua konsep

Kerangka konseptual penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antarakonsep satu terhadap konsep yang lainya dari masalah yang ingin diteliti.Kerangka konsep ini gunanya untuk menghubungkan atau menjelaskan secara panjang lebar tentang suatu topik yang akan dibahas

Dasar-dasar dalam Penelitian Pendidikan 1. ... Sukmadinata (2011) menjelaskan bahwa penelitian merupakan suatu proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara sistematis dan logis untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Adapun pengumpulan data dan analisis data menggunakan metode ilmia

Senin, 22 Oktober 2018

Ihtiar Penerapan Komunikasi dalam Islam


DAKWAH DAN KOMUNIKASI PART2
(Prinsip-Prinsi Komunikasi dalam Islam)
Matkul : Kapita Selekta Islam dan Komunikasi

Penerapan Komunikasi dalam Islam
Dalam berdakwah, tetunya semua dai dan mubaligh berkomunikasi dengan jamaahanya. Tak satupun mubaligh yang hendak berdakwah ia tidak melakukan proses komunikasi. Dakwah dengan lisan (komunikasi verbal) adalah salah satu cara dai/mubaligh untuk menyampaikan ide dan gagasan dalam dakwahnya. Sejak awal aquran telah memberikan batasan pada manusia untuk melakukan komunikasi (dakwah) kepada masyarakat sesuai dengan kapasitas keilmuan masyarakat tersebut. Tentunya factor budaya menjadi salah satu pertimbangan dalam proses dakwah yang disampaikan. Jangan samapai komunikasi yang disampaikan oleh para mubaligh tidak sesuai dengan dinamuka budaya yang berkembang di suatu masyarakat tersebut.
Rasululah telah memberikan isyarat bahwa dalam berakwah dan berkomuniaksi dengan masyarakat itu harus esuai dengan takarannya “ala qadri uqulihim” hadis tersebut memberikan isyarat pada kita untuk cerdas melihat budaya yang berkembang di suatu masyarakat, maka hakikat komunikasi dalam islam yakni mengenal budaya dan kebiasaan masyarakat tersebut sebelum jauh melakukan proses dialog secara panjang. Maka pendekatan komunikasi lintas budaya menjadi elemen penting dalam penguasaan konsep komunikasi di dalam islam. Dimana kita fahami bahwa Komunikasi Lintas budaya adalah proses dimana dialihkan ide atau gagasan suatu budaya yang satu kepada budaya yang lainnya dan sebaliknya, dan hal ini bisa antar dua kebudayaan yang terkait ataupun lebih, tujuannya untuk saling mempengaruhi satu sama lainnya, baik itu untuk kebaikan sebuah kebudayaan maupun untuk menghancurkan suatu kebudayaan, atau bisa jadi sebagai tahap awal dari proses akulturasi (penggabungan dua kebudayaan atau lebih yang menghasilkan budaya baru.
Dalam menympaikan pesan-pesan risalahnya, tentu tidak bias berdiri sendiri hanya dengan mengaIndalkan  lisan, melainkan komunikasi yang efektif begitu dibutuhkan dalam dakwah. Melalui kounikasi yang efektif inilah seorang mubaligh akan mendapat feedback dari jamaahnya. Ketika proses komuikasi ini terjadi,terdapat feedback dari jamaahnya, maka ketika itu dakwah sudah terjalin dua arah, dimana komunikator dengan mudah mengekpresikan perasaannya, memelihara kedekatan, mengatur suara, serta merumuskan pesan untuk menyapa audiennya, Karena itu mudah difahami bahwa aplikasi komunikasi bagi para mubaligh sangat bermanfaat dalam rangka menyampaikan pesan-pesan agama kepada para jamaahnya.
Seperti jiga para wali yang menyenandungkan pesan-pesan itu lewat uara gamelan yang sesuai dengan jamananya. Seperti diisyaratkan oleh sejarah, para wali adalah komunikator handal yang cerdas membaca zaman sekaligus pandai memanfaatkan bahsa umatnya. Juru dakwah, mubaligh, penyeru agama dan wali adalah actor komunikasi yang piawai menyampaikan pesan-pesan Tuhan dalam Bahasa yang mudah diterima.
Peran Jurnalis dalam Komunikasi Islam
The Council on American Islamic Relations (CAIR) merasa perlu berterima kasih pada CNN atas poeran positifnya dalam menyebarkan informasi islam ecara objektif dan terbuka. Penyerluasan islam seperti yang dilakukan oleh CAIR dilakukan karena situasinya dipandang positif, terutama setelah opini public terbentuk. CNN telah membentuk citra baru tentang islam yang berbeda dari bangunan citra sebelumnya. Halini menunjukan bahwa peran jurnalis dalammenyebarkan pesan-pesan keisalaman cukup efektif di amerika. Komunikasi islam melalui para jurnalis begitu memiliki peranan penting dalam perkembangan islam di Amerika juga berperan aktif dalam membangun citra islam di Amerika.
Terlebih lagi pada era informasi seperti sekarang ini, usaha tersebut menjadi sangat mudah karena di dukung oleh tersedianya media massa yang memadai. Peranan jurnalis alam mengkomunikasikan islam sangat terbuka, peristiwa yang berkaiatand engan dunia islam baik itu politik sosiall dan ekonomi, dapat disebarluaskan denganmudah melalui teknologi komunikasi dan informasi. Penggunaan media sebagai alat propaganda sudah tidak dapat lagi di bending, media menjelma menjadi alat untuk menusuk dan m,enikam lawan.
Mc Luhan yang terkenal dengan teori perpanjangan tangan alat indra, menyebutkan bahwa media merupakan perluasan dari alat indra. Melalui media kita bias menikmati peristiwa-peristiwa dunia yang terjadi pada saat yang sama telinga kita bias memanjangkan sketika dengan bantuan telepon, seoarang mubaligh dapat menyampikan pesan-pesan agamanya melalui media massa yang ada. Dengan adanya seperti itu, sejatiya setiap juru dkwah dapat menyebarluaskan dakwahnya keberbagai pelosok negeri tanpa perlu memikirkan transportasi lagi. Karena sentuhan-sentuhan komunkasi dengan jamaahnya dapat di maksimalkan melalui media yang tersedia, baik melalui media elektronik maupun media maya.
Melalui cara seperti itu, seorang mubaligh dapat mengkomunikasikan pean-pesan keislamannya pada ruang dan tempo yang sama dapat menjangkau ratusan, bahkan jutaan public pembaca ataupun pendengar. Media jurnalistik telah memainkan peranan yang cikup besar bagi kpentingan dakwah islam. Pada sisi ini lah dipandang perlunya kemampuan jurnalistik dimiliki oleh lembaga-lembaga dkwah islam. Karena melalui pemahaman kan jurnalistiklah mereka dapat mengolah pesan dan menyampaikan pesan-pesan quran kepada seluruh khalayak dengan tepat guna dan tepat sasaran.
Pers dan Penyebaran Pesan-Pesan Agama
Pers, baik itu cetak maupun elektronik merupakan media alternative yang efektif untuk dijadikan alat komunikasi massa. Efektif karena kekuatan daya persuasinya yang mampu menembus daya rasa dan daya piker para pembaca dan pendengarnya. Efisien karena pembaya dan pendengarnya sangat luas bias menjangkau puluhan bahkan jutaan pendengar dalam satu kali siaran. Munculnya pers yang bernuansa agama mengindikasikan bahwa adanya respon positif atas kecenderungan masyarakat dalam beragama. Maalah-masalah yang menyangkut pemahaman keagamaan, pembaharuan pemikiran islam, aspirasi umat dan lain-laian akan dpat dengan mudah di kaji dan didekati dengan kacamata dan melalui media komunikasi.
Ronal Compesi, pernah melakukan risset media massa pada program televise All My Children di Oregon Amerika. Hasil yang didapat dari 221 penonton acara tersebut bahwa salah satu alasan mereka menonton acara tersebut yakni untuk melarikan diri dari masalah yang dihadapinya. Karena mereka membutuhkan nasihat-nasihat yang terdapat dalam acara tersebut. Hal ini menunjukan bahw kebutuhan spiritualitas semakin meningkat, maka komunikasi yang efektif melalui program-program media massa perlu di tingkatkan kualitas dan kuantitasnya.
Fenomena semakin derasnya arus sajian rubric keagamaan pada media massa, baik cetak maupun elektronik telah mendorong para pemogram acara ataupun pengasuh rubric untuk lebih serius mengelola pesan dakwahnya di media.
Disini diperlukan suatu metode yang tepat bagaimana seseorang mampu menyiasati massa melalui penggunaansuatu media. Bagi para juru dakwah bagaimana mereka mampu menafaatkan media itu sevara tepat, memindahkan bahsa mimbar menjadi Bahasa koran, mendesaian gaya tabligh akbar dilapangan terbuka menjadi suatu program acara mimbar agama islam di televise yangsingkat tetapi menarik perhatian pemirsa. Begitupun dalam merancang dakwah di media-medai social berbasis internet, kemapuan seorang dai dalam merancang program dakwahnya patut di perhitungkan, itu semua dapatterjadi jika semua elemen islam memahami pentingnya dan urgensi komunikasi massa.
Itulah sebabnya untuk mewujudkan rancangan ideal sajian agama di media massa, perlu terus dikembangkan kolaborasi produktif antara ulama dan media massa. Ulama menanfaatkan media massa lewat usaha merumuskan tema-tema keagamaan untuk dikomunikasikan kepada masyarakat, dan insan pers juga dapat meningkatkan pengetahuannya dalam menterjemahkan tema-tema itu kedalam pesan-pesan komunikasi agama yang lebih universal.
Lewat media massa juru dakwah dapat mengunjungi rumah-rumah, kantor-kantor bahkan kamar rahasia sekalipun, untuk membisikan pesan etika dan moral. Melalui pesan-pesan persuasinya media massa akan menghadirkan nilai-nilai moral dan agama secara universal, sekaligus menghindario munculnya kesan eklusif. Globalisasi informasi yang berkembang saat ini tidak menutup kemungkinan akan mengahirkan phenomena baru. Bahwa bukan hanya umat islam yang akan mengkonsumsi materi-materi dakwh yang disamapikananya, bias jadi umat di luar islam puna kan mengakses hal yang sama. Mereka dapat denga mudah membaca mengamati dan mengkaji aajaran-ajaran islam yang disampaikan melalui media massa.

Jumat, 19 Oktober 2018


DAKWAH DAN KOMUNIKASI


A.    Pendahuluan
Dinamika dakwah yang berkembang saat ini masih menunjukan pasang surut yang dalam pengamatan penulis masih terus menjajaki konsitensinya gerakannya. Atau mungkin satu hal yang perlu penulis pertanyakan, sebetulnya bagaimana respon dan dampak dari adanya gerakan dakwah yang acapkali dilakukan dengan berbagai sistematika. Secara kasat mata, kita bisa menyaksikan berbagai variasi dari gerakan dakwah yang kali ini mulai banyak fenomena.
Bila diurutkan, setidaknya penulis dapat mengkategorikan dakwah yang dimasuk dalam berbagai hal. Pertama ada yang melakukan dakwah dengan pendekatan politik dan kekuasaan. Golongan yang satu ini mengatakan bahwa dengan syiasah dakwah atau dakwah politik, ini bisa membangun peradaban Islam yang madani. Karena unsur-unsur kekuasaan dapat dikuasai oleh para dai. Golongan yang ini bisaanya diwakili oleh beebrapa partai politik yang menamakan diri sebagai partai dakwah atau partai Islam. Kedua, ada yang bersintesa bahwa gerakan dakwah yang dimaksud untuk mengembalikan kemulyaan Islam yakni dengan mendirikan Negara Islam. Golongan yang satu ini diwakili oleh gerakan dakwah hijbut tahrir. Ketiga adanya gerakan dakwah yang menitik beratkan pada pembentukan kulur.  Atau gerakan dakwah kultural  yang bisaanya diwakili oleh para ormas Islam dalam dakwahnya.
Dalam makalah ini, penulis ingin mencoba melihat, masyarakat sebagai bagian terpenting dalam pelaksanaan komunikasi. Artinya, antara dakwah dan komunikasi itu tidak akan bisa dipisahkan. Meskipun ada sebagian golongan yang menganggap adanya dakwah bil hall –dakwah dengan menampilkan perilaku terpuji- namun tetap saja dalam pandangan ilmu komunikasi itu digolongkan kepada komunikasi simbolik, atau komunikasi nonverbal.
Karena itulah makalah ini ingin memfokuskan bahwa bagaimana masyarakat bila ditinjau dalam komunikasi serta bentuk-bentuk komunikasi, sebagai bagian penting dalam proses dakwah yang terjadi. Sehingga dalam akhir pembahasan diharapkan mampu terjawab, bagaimana unsur-unsur yang terdapat dalam komunikasi mampu melihat serta memprediksi kegiatan dakwah yang sudah berjalan atau yang akan dijalankan kembali.

B.     Dakwah dalam tinjauan Komunikasi
Keumuman orang, memandang  dakwah sebagai suatu kegiatan yang multi tafsir dan pemahaman, setidaknya dakwah difahami sebagai suatu penerangan. Artinya mempunyai suatu tujuan tertentu sekurang-kurangnya menarik orang atau memberikan pengertian kepada orang lain tentang sesuatu hal. Penerangan lebih cenderung kepada pasif artinya tidak memerlukan reaksi yang nyata dari orang yang menerima penerangan itu[1].   Selain itu dakwah juga disamakan dengan penyiaran. Karena penyiaran juga salah satu dari dakwah atau salah satu cara dari pelaksanaannya. Tetapi  penyiaran bisa dipergunakan untuk penjelasan yang sudah ada pokok-pokok pesoalannya, dan bsia pula dipergunakan untuk menyiarkan persoalan-persoalan pokok.
Sehingga dakwah difahami sebagai usaha-usaha menyerukan dan menyampaikan kepada perorangan manusia dan seluruh umat manusia konsepsi Islam tentang pandangan dan tujuan hidup manusia di dunia ini, dan yang meliputi amal makruf dan nahyi mungkar dengan berbagai macam cara dan media yang diperbolehkan ahklak dan membimbing pengalamannya dalam kehidupan bermasyarakat[2].  sedangkan Ali Mahfudz mendefinisikan dakwah sebagai suatu kegiatan memotiofasi manusia untuk berbuat kebajikan, mengikuti petunjuk, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, agar mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Dari beberapa definisi diatas, meskipun digolongkan pada definisi yang telah lama ada, setidaknya dapat difahami bahwa tidak ada salah satu unsur dakwah pun yang lepas dari komunikasi. Baik itu ketika dakwah difahami sebagai kegiatan menyeru,  mengajak atau memberikan informasi kesemua itu menggambarkan akan adanya hubungan komunikiasi satu sama lainnya. Meskipun Saudra Hybles, memberikan makna bahwa komunikasi ialah proses pertukaran informasi, gagasan, dan perasaan. Proses itu meliputi informasi yang disampaikan tidak hanya secara lisan dan tulisan, tetapi juga dengan bahasa tubuh, gaya maupun penampilan diri, atau menggunakan alat bantu di sekeliling kita untuk memperkaya sebuah pesan. Sementara  Billie J Walhstrm mengungkapkan komunikasi ialah (1) pernyataan diri yang efektif, (2) pertukaran pesan-pesan yang tertulis, pesan-pesan dalam percakapan, bahkan melalui imajinasi, (3) pertukaran informasi atau hiburan dengan kata-kata melalui percakapan atau dengan metode lain, (4) pengalihan informasi dari seseorang kepada orang lain[3].
Artinya ketika ingin melihat dakwah atau lebih tepatnya proses dakwah yang telah berlangsung di masyarakat dalam sudut pandang komunikasi. Tidak cukup hanya memahami bahwa dakwah itu sebagai usaha mengajajak dan menyeru pada jalan Allah. Bila pemahaman itu hanya diartikan dalam arti sempit, maka tidak ada pencerahan yang bersifat linier antara dai dengan mad`u-nya. Sementara komunikasi mengharapkan adanya feedbek dalam proses komunikasinya, untuk terjalin pemahaman bersama. Tidak bisa difahami hanya sebatas penyampaian pesan dan ide yang dibawakan secara dogmatis.
Sekali lagi ingin saya tegaskan bahwa komunikasi itu merupakan bentuk hubungan interpersonal dengan mana, dapat dikatakan orang dapat mengadakan kontak dengan isi pikiran orang lain. Mekanisme komunikasi meliputi pengkodean informasi melalui simbol-simbol tingkah laku pengirim dan penerimaan simbol-simbol itu melaui  persepsi, dan penguraian kode-nya. Dalam pertukaran pesan atau berita ataupun  pertukaran itu telah terjadi secara jujur dan cukup tepat, maka penerimaan dan pengirim berita mempunyai informasi yang hampir sama[4].
Keberhasilan komunikator dalam komunikasi, yakni dengan menguji keberhasilan pertukaran informasi mereka melalui feedback, yaitu dengan melihat tanda-tanda pada tingkah laku orang lain  lain yang melibatkan efek-efek penerima berita sebelumnya[5]. Artinya komunikasi memandang bahwa salah satu keberhasilan dalam adanya proses komunikasi yakni dengan melihat sejauh mana perubahan perilaku yang di tampilkan oleh penerim pesan.
Nah! ketika analogi ini dimasukan dalam melihat dakwah sebagai salah satu kegiatan yang tidak pernah dan tidak akan lepas dari komunikasi. Maka dakwah ketika ingin dilihat dari sudut pandang ilmu komnikasi maka salah satu butir untuk melihat bagaiman keefektipan dari dakwah itu sendiri yakni dengan melihat feedback yang diberikan oleh mad`u. Setelah feedback itu ditemukan atau difahami oleh pemberi pesan yaitu  dai. Maka dalam hal ini, tidak dikatakan terjadi proses dakwah jikalau tidak adanya  feedback dari mad`u serta tidak ada perubahan sikap yang dialami leh mad`u. Karena dakwah itu ialah proses pemberian pesan dengan disertai adanya respon dan perubahan sikap, jika dipandang dalam sudut pandang komunikasi.
 Dengan demikian pemahaman akan adanya proses dakwah yang sudah berlangsung dari dulu hingga sekarang, sudah sepatutmnya perlu kita renungkan kembali, atau bisa dirubah pemahaman bila diperlukan. Dengan demikian prosesi dakwah yang bisaanya kaku dalam metode komunikasi, melalui paper ini, ingin penulis sampaikan bahwa sebetulnya dakwah itu bisa dikemas dengan metode komunikasi yang efektif hingga bisa menggugah kesadaran para pendengar. Artinya model komunikasi dakwah yang perlu mendapat perhatian lebih jauh. Dengan komunikasi yang dikemas secara efektif dan efisien diharapkan inovasi-inovasi baru dalam pelaksanaan dakwah bisa dilahirkan selama proses itu berlangsung.
Dengan demikian, ketika mengguakan sudut pandang komunikasi dalam melihat dakwah, otomatis dengan sendirinya proses dalam pelaksanaan dakwah itupun harus dirubah. Meskipun Qs, An-Nahl ayat 125 menyerukan akan adanya kewajiban berdakwah bagi umat Islam.  Dalam hal ini tentunya dikatakan sebagai suatu kewajiban manusia untuk berdakwah, jelas sudah bahwa dakwah yang dimaksud pada awalnya syarat dengan nuansa teologis. Namun tatkala hendak ditinjau dalam konsep komunikasi, maka dakwah tidak bisa lagi hanya dipandang sebatas unsur teologis.
Melainkan dakwah harus diturunkan menjadi konsep Teologi-Humanis, karena dalam praksisnya dakwah tidak bisa dilepaskan dari manusia itu sendiri, sebagai mahluk yang senantiasa berkomunikasi satu sama lain. Maka dari itu pemahaman akan dakwah yang lebih humanis, melalui pendekatan komunikasi dengan adanya seruan-seruan persuatif tidak dokriner adalah suatu keharusan. Pengemasan bahasa yang membangun kesadaran bukan mengarahkan secara dikotomis nampakanya menjadi elemen utama jikalau tetap dakwah ingin dilihat dalam pandangan komunikasi. Singkat kata tidak ada salah satu unsur yang lepaspun dalam  dakwah yang terlepas dalam komunikasi. Semua bentuk dakwah tidak bisa lepas dari komunikasi baik verbal maupun nonverbal.

  1. Bentuk-Bentuk Komunikasi
Dalam melhiat  komunikasi yang terjadi di masyarakat, meskipun sekilas nampak begitu saja terjadi suatu komunikasi di masyarakat. Namun ingin penulis samapaikan bahwa pada dasarnya komunikasi tersebut sudah jauh-jauh hari digolongkan oleh para ahli ilmu komunikasi. Berikut penjelasan dari model-model komunikasi yang dimaksud:

1.      Model Retoris
Model retoris ialah model yang dicetuskan oleh Aristoteles, seorang filosofYunani terkemuka yang hidup pada tahun (340-335 SM). Model ini intinya ialah komunikasi melalui pendekatan persuasi. Ia berjasa dalam merumuskan model komunikasi verbal pertama. Komunikasi terjadi ketika seorang pembicara menyampaikan pembicaraannya kepada khalayak.
Pesan 
 
Pendengar 
 
Pembicara
 
                                                                                       Setting
 


                                                                                      Setting
           
Menurut Aristhoteles persuasi dapat dicapai oleh siapa anda (etos-kepercayaan anda), argument anda (logos-logika dalam pendapat anda), dan dengan memainkan emosi kalayak (Pathos-emosi khalayak)[6]. Salah satu kelemahan dari teori ini yakni, komunikasi dianggap sebagai fenomena yang statis. Seseorang berbicara, pesannya berjalan kepada khalayak dan khalayak mendengarkan. Tahap-tahap dalam peristiwa itu berurutan alih-alih terjadi secara simultan. Disamping itu, model ini juga berfokus pada komunikasi yang bertujuan (disengaja) yang terjadi ketika seseorang berusaha membujuk orang lain untuk menerima pendapatnya. Kelemahan lain dari model retoris ini adalah tdak dibahasnya aspek-aspek nonverbal dalam persuasi.

2.      Model Komunikasi Antar Pribadi-Wilbur Schramm
Model Scharuman yang satu ini, berkenaan dengan model komunikasi antarpersonal antara seseorang dengan orang lain. Schramm menganggap bahwa komunikasi sebagai interaksi dengan kedua belah pihak yang menjadi, menafsirkan, menyadi balik, mentransmisikan, dan  menerima sinyal[7].  Dalam komunikasi antar pribadi terdapat dua karakteristik penting, yakni: pertama, hubungan antarpribadi berlangsung melalui beberapa tahapan, mulai dari tahap interaksi awal sampai ke  pemutusan (dissolution). Kedua, hubungan antar pribadi berbeda-beda dalam keluasan (breadth) dan kedalamannya (dept)[8]. Kebanyakan hubungan mungkin semua, berkembang melalui tahap-tahap. Kita tidak menjadi kawan akrab segera setelah pertemuan terjadi. Kita menumbuhkan keakraban secara bertahap, emlalui serangkaian langkah atau tahap.

3.      Model Komunikasi Dua tahap
Model komunikasi dua tahap pertama kali ditemukanoleh Paul Lazarselfeld dan elihu Katz. Model komunikasi ini dimulai dengan tahap pertama sebagai proses komunikasi, massa dan tahapan berikutnya atau kedua sebagai proses komunikasi antarpersonal. Model ini pada awlanya merupakan model komunikasi yang berhubungan dengan komunikasi massa, karena komunikator pertama menyampaikan pesan lewat media massa, baik cetak maupun elektronik. Kemudian masing-masing anggota kelompok menyampaikannya kembali kepada orang lain dalam berbagai kesempatan dan tempat secara tatap muka[9].
Model ini menggmbarkan bahwa pesan lewat media massa diterima oleh individu-individu yang menaruh perhatian lebih pada media massa, sehingga mereka menjadi  orang yang informasi. Mereka inilah para opinion leader, yang akan menginterpretasikan setiap pesan yang diterimanya sesuai dengan Frame of reference dan field of experence. Kedua dia seorang opinion leader akan menyampaikannya kepada individu lain setelah ia interpretasikan. Opinion leader nampakannya masih amat diperlukan karena kondisi masyarakat Indonesia, amat diperlukan karena kondisi warga indonesia relatif masih jarang diterpa media massa.

D.    Masyarakat Komunikasi
Secara bahasa masyarakat itu diartikan sebagai pergaulan atau atau persekutuan, yang diambil dari bahasa arab : “syaroka, yusyariku, musyarokah “ yang kalau dalam bahasa inggris itu lebih dikenal dengan sebutan “society” . dalam al-quran masyarakat itu disebutkan dsebagai syu`ub, qaum, dan ummah  berbeda dengan hal diatas Parker mengartikan masyarakat sebagai suatu kelompok orang yang tinggal dalam satu wilayah, dan bekerja sama dengan organisasi-organisasi dan lembaga-lembaga yang dibentuk sesama mereka (1992:92).
 Realitas masyarakat, merupakan kenyataan dinamis dari berbagai cara pandang dan variasi perilaku individu, meskipun realitas itu seolah-olah dikotomi dengan kenyataan lain, bahwa manusia adalah creator kehidupan sosial yang potensial. Sebagaimana konsep masyarakat dan budaya berlaku, maka secara langsung atau tidak langsung potensi individu akan terjebak dalam sistem kehidupan normatif yang dapat menghentikan proses dinamis dari berbagai potensi individu yang dimaksud.
Disitulah peranan penting adanya komunikasi yang melingkari itu semua, artinya tanpa ada komunikasi yang berjalan di tengah masyarakat, maka nsicaya tidak ada hubungan yang akrab antar inidvidu. Secara langsung, maka tidak ada proses pembentukan norma dalam kehidupan ini jikalau tidak ada unsur komunikasi yang menghubungkan fungsi-fungsi sosial yang ada dalam masyarakat. Di antara para ahli komunikasi, ada yang menyebutkan bahwa konunikasi antar individu, dinilai efektip. Bagi yang setuju dengan pandangan tersebut, mereka menyebutkan bahwa ketika komunikasi antar individu berlangsung, komunikator dapat melihat seketika tanggapan komunikan, baik secara verbal dalam bentuk jawaban kata-kata maupun secara non verbal dalam bentuk gerak-gerik sehingga komunikator kadang-kadang mengulangi penyampaian pesannya untuk meyakinkan bahwa komunikan mengerti apa yang disampaikannya. Pengertian efektif dalam komunikasi antar individu ini ialah dalam hubungannya dengan perubahan sikap[10]. 
            Sedangkan komunikasi  sosial, memiliki tendensi yang berbeda tidak hanya sebatas menyampiakan pesan dan difahami pesan tersebut oleh komunikan. Lebih jauh dari itu, apa yang dikomunikasikan mempunyai pengaruh dan akibat terhadap hubungan sosial anggota masyarakat yang menerima apa yang disampaikan oleh komunikator. Komunikasi dalam kehidupan  sosial mempunyai kemampuan mengubah masyarakat demikian juga melalui komunikasi maka individu akan mampu  menyelesaikan diri dengan kemlompoknya[11].
Begitu penting dan menariknya komuniasi sosial dalam merubah tatan nilai dan norma sosial, Astrid Susanto, Ph.D, menjelaskan bahwa; komuhikasi sosial adalah suatu kegiatan yang lebih diarahkan kepada pencapaian suatu situasi integrasi sosial. Karena itu kegiatan komunikasi sosial adalah lebih intensif dari pada komunikasi massa. Titik pangkal dari suatu komunikasi sosial karenanya adalah bahwa komunikator dan komunikan perlu seia dan sependapat tentang bahan/materi yang akan dibahas dalamkegiatan komunikasi yang akan dilangsungkan.
Ditinjau dari segi ini suatu komunikasi sosial akan berhasil bila kedua belah pihak yang terlibat dalam proses komunikasi ini menganggap adanya manfaat dalam kegiatan komunikasi tersebut. Melalui komunikasi sosial inilah terjadi aktualisasi dari masalah-masalah yang dibahas. Selain kesadaran dan pengathuan tentang materi yang dibahas makin meluas dan bertambah. Melalui komunikasi sosial sekaligus sosialisasi. Melalui komunikasi sosial, kelangsungan hidup dari suatu kelompok sosial akan terjamin. Melalui komuniaksi sosial nilai-nilai budaya luhur dalam masyarakat akan terus terpelihara. Dan melalui komunikasi soial kesadaran masyarakat akan dipupuk, dibina, diperluas, serta melalui komuniaksi sosial masalah-masalah sosial akan dipecahkan melalui konsesus[12].
Inilah peranan penting dari suatu masyarakat yang berkomunikasi satu sama lainnya. Artinya dari hal ini dapat difahamai bahwa komunikasi tidak hanya sebatas menyampaikan pesan dan berita kepada khalayak yang diajak untuk bicara. Lebih jauh dari itu, komunikasi ini memiliki peranan penting dalam menghidupkan fungsi-fungsi sosial yang ada dalam masyarakat. Justru melalui komunikasi inilah suatu tatanan dalam masyarakat  akan terbentuk.
Karena itulah masyarakat komuniksai yakni masyarakat yang senantiasa terbentuk suatu kesepahaman bersama dalam membentuk aturan-aturan yang kemudian mampu diterapkan sebagai norma yang mengikat bagi penduduknya. Demikian pula dengan dakwah yang selama ini sudah berlangsung. Jika dengan komunikasi dapat terbentuk suatu norma dalam masyarakat, bahkan lebih jauh lagi bisa memcahkan berbagai persoalan yang dihadapi  oleh masyarakat.
Nampaknya begitupun dakwah pula harus bisa menjangkau hingga terbentuknya tatanan atau pranata sosial Islam. Tidak cukup hanya dilakukan dimesjid-mesjid melainkan harus menjelma menjadi suatu kesatuan yang utuh dalam tatanan kehidupna. Maka melalui komunkiasi inilah dakwah sudah saat bisa disosialisasikan dengan baik dan tepat sasaran. Sehingga kehidupan menuju khairo ummah yang dicita-citakan oleh para aktifis dakwah, bukan lagi bahasa langit yang mengapung nun jauh disana. Akan tetapi perlahan nan pasti kedepan khairo ummah yang dimaksud dapat menjelma menjadi kenyataan. Mengkomunikasi dakwah dengan efektif dan tepat guna ialah solusi yang perlu dicoba terus agar pembentukan, masyarakat madani bisa dapat tercapai.



PENUTUP
Demikianlah uraian singkat dalam makalah ini, mengenai dakwah dan komunikasi. Yang pada intinya dimanapun dan kapanpun kegiatan dakwah ini tidak akan bisa lepas dari unsur komunikasi. Bahkan  ketika hanya diam dan memberi suri tauladan pun itu sudah termasuk proses komunikasi, yang para pakar sebut sebagai komunikasi nonverbal. Sehingga ketika dakwah ingin dilihat dalam sudut pandang komunikasi, maka dalam aplikasinya dakwah tidak bisa hanya perpegang pada patokan teologis.
Pendekatanyang lebih lunak dan humanis, bisa dijadikan acuan dalam penerapan dakwah yang dimaksud tadi. Sehingga dengan menggunkan teknik komuniaksi yang tepat dan efisien, diharapkan hasil akhir dari adanya dakwah ini mampu menjelma dalam tatana kehidupan yang penuh dengan keserasian anatar nilai-nilai keislaman yang tertuang dalam Al-Quran. Dengan amalam praksis yang bisa diamati secara langsung baik dalam urusan ibadah –duniawiyah, maupun ibadah yang bertendesi kepada Allah. Inilah renungan dakwah yang ingin penulis utarakan dalam makalah ini.















DAFTAR PUSTAKA

Alo Liliweri, Dr., M.S. Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: LKIS. 2009
Dedi Mulayana. Ilmu Komunikasi; suatu pengantar. Bandung: Remaja Rosda Karya. 2002
Joseph A Devito. Komunikasi antar Manusia. Jakarta: Profesional Books. 1997
Ujang Saefullah. Model Komunikasi Dakwah Jamaah Tabligh. Dalam Jurnal Ilmu Dakwah. Volume 4 No. 14 Juni-Desember 2009
HM Thoha Yahya Omar. Islam dan Dakwah.. Jakarta: Zakia Islami Pres. 2004
Sayamsu Munil Mulkam. Rekontruksi Pemikiran Dakwah Islam. Jakarta: Amzah. 2008
Newcom. Psikologi Sosial. Bandung: CV Diponegoro. 1985
T.A.Latihief Rousydiy. Rethorika Komunikasi dan Informasi. Medan: Firma Rimbow Medan. 1995








[1] HM Thoha Yahya Omar. Islam dan Dakwah. (Jakarta: Zakia Islami Pres, 2004) hal 67
[2] Sayamsu Munil Mulkam. Rekontruksi Pemikiran Dakwah Islam.( Jakarta : Amzah, 2008) hal 5
[3] Alo Liliweri, Dr., M.S. Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya. (Yogyakarta: LKIS, 2009) hal 3-4
[4] Newcom. Psikologi Sosial. (Bandung: CV Diponegoro, 1985) hal 294
[5]  Newcomb. Ibid. hal 294
[6] Dedi Mulayana. Ilmu Komunikasi; suatu pengantar. (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2002) hal 34
[7] Dedi Mulayana.Ibid. hal 140
[8] Joseph A Devito. Komunikasi antar Manusia. (Jakarta: Profesional Books, 1997) hal 232
[9] Ujang Saefullah. Model Komunikasi Dakwah Jamaah Tabligh. Dalam Jurnal Ilmu Dakwah. Volume 4 No. 14 Juni-Desember 2009
[10] T.A. Latihief Rousydiy. Rethorika Komunikasi dan Informasi. (Medan: Firma Rimbow Medan, 1995) hal 87
[11] T.A. Latihief Rousydiy. Ibid. hal 87-88
[12] T.A Lathief Rousydiy..Ibid .  hal 90

Kamis, 11 Oktober 2018

Dakwah


METODE DAKWAH DALAM AL-QURAN


 

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An-Nahl: 125)

Ayat ini berisi panduan khusus mengenai bagaimana berdakwah yang cerdas. Sekalipun dakwah kepada Allah merupakan amal shalih, tetapi seorang aktivis dakwah dalam mengerjakan tugasnya tidak boleh asal-asalan. Sekadar bermodal keyakinan bahwa Allah pasti menolongnya. Tidak, tidak demikian seharusnya seorang aktivis dakwah. Aktivis dakwah harus cerdas dalam menjalankan tugasnya. Sebab, kerja dakwah bukan pekerjaan biasa. Ia pekerjaan yang sangat mulia, menuntut perhatian khusus dan cara-cara penyampaian yang kreatif. Jika tidak, dakwah akan berjalan di tempat. Namanya saja disebut dakwah, sementara pengaruhnya sangat tumpul.
Benar, berdakwah kepada Allah merupakan pekerjaan yang sangat mulia. Sebab, yang memerintahkannya adalah Allah yang Maha Agung. Perhatikan kata ud’u ilaa sabiili rabbika (serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu), ini menunjukkan bahwa tugas dakwah datang langsung dari Allah swt. sebagai bukti pentingnya tugas tersebut. Rasulullah saw. yang menerima tugas ini telah melaksanakannya dengan sungguh-sungguh. Seluruh hidupnya bila kita pelajari secara mendalam, tidak lebih dari cerminan dakwah kepada Allah. Setelah Rasulullah wafat tugas dakwah ini secara otomatis dioper alih kepada umatnya. Karenanya Allah berfirman,

  “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Ali Imran:110)

Tidak bisa dipungkiri bahwa berdakwah di jalan Allah pasti akan berhadapan dengan tantangan yang sangat berat. Renungkan kata ilaa sabiili rabbika, di sini Anda akan mendapatkan kesan bahwa tugas utama manusia sebenarnya adalah mengikuti jalan Allah swt. Tetapi karena setan bekerja keras untuk membuat manusia tergelincir, akhirnya banyak dari manusia yang keluar dari jalan Allah. Seorang aktivis dakwah yang cerdas hendaknya senantiasa berusaha untuk mengembalikan mereka ke jalan yang benar. Tentu saja di sini maksudnya bukan hanya orang kafir, melainkan banyak juga orang-orang Islam yang lemah iman ikut juga tergelincir. Karenanya, fokus utama dakwah selain mengislamkan orang-orang kafir, juga mengembalikan orang-orang Islam ke porosnya yang benar. Untuk ini sangat dibutuhkan langkah-langkah cerdas. Al-Qur’an –sebagaimana pada ayat di atas– mengajarkan tiga langkah, dengannya dakwah akan menjadi efektif di manapun disampaikan:

Berdakwah Dengan Hikmah
Hikmah menurut banyak ahli tafsir adalah perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Di dalam kata hikmah terkandung makna kokoh. Allah berfirman: kitaabun uhkimat aayaatuhu. Dikatakan kepada sebuah bangunan yang kokoh: al binaa’ul muhkam. Bila kata hikmah digandengkan dengan dakwah maksudnya di sini adalah bahwa dakwah tersebut dilakukan dengan sungguh-sungguh, tidak pernah kandas di tengah jalan. Ia terus berjalan dalam kondisi apapun. Aktivisnya tidak pernah kenal lelah. Segala kemungkinan yang bisa diterobos demi tegaknya kebenaran ditempuhnya dengan lapang dada.
Di dalam kata hikmah juga terkandung makna bijak (wisdom). Dakwah yang bijak menurut Ustadz Sayyid Quthub adalah yang memperhatikan situasi dan kondisi dari para mad’u (objek dakwah). Sejauh mana kemampuan daya serap yang mereka miliki. Jangan sampai tugas-tugas yang diberikan di luar kemampuan si mad’u. Sebab, kesiapan jiwa masing-masing mad’u berbeda. Diupayakan setiap satuan tugas yang diberikan sejalan dengan kapasitas intelektual dan spiritual mereka (lihat fii dzilaalil Qur’an, Sayyid Quthub vol.4, hal.2202). Perhatikan bagaimana Allah menurunkan Al-Qur’an tidak sekaligus, melainkan secara bertahap dalam berbagai situasi dan kondisi: pertama kali mengenai ayat-ayat keimanan. Karenanya surat-surat periode Makkah lebih terkonsentrasi kepada masalah keimanan. Baru setelah hijrah ke Madinah, di mana iman para sahabat telah kokoh, Allah turunkan ayat-ayat tentang syariat.
Siti A’isyah r.a. pernah mengomentari masalah ini dengan sangat mengagumkan, bahwa sesungguhnya yang pertama kali Allah turunkan adalah ayat-ayat mengenai iman kepada Allah swt. Baru setelah iman para sahabat kuat, diturunkan ayat-ayat tentang halal-haram. Lalu Aisyah berkata: Seandainya yang pertama kali Allah turunkan adalah larangan: jangan kau minum khamer, niscaya mereka akan menjawab: kami tidak akan meninggalkan khamer selamanya. Dan seandainya yang pertama kali Allah turunkan adalah larangan: jangan kau berzina, niscaya mereka akan menjawab: kami tidak akan meninggalkan zina selamanya (HR. Bukhari, no. 4609).
Dalam rangka ini pula ayat-ayat mengenai larangan minum khamer tidak langsung sekaligus, melainkan melalui empat tahap: Tahap pertama Allah memberikan isyarat bahwa barang-barang yang memabukkan itu bukan rezki yang baik:
67“Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.” (An-Nahl: 67).

Pada tahap kedua, Allah berfirman:
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya”.
Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir. (Al-Baqarah: 219)
 Di sini Allah menerangkan bahwa khamer itu sebenarnya berbahaya besar. Kalaupun ada manfaatnya, itu hanya dari segi perdagangan saja, sementara bagi kesehatan ia sangat membahayakan.
Tahap Ketiga, Allah melarang seseorang yang mabuk karena khamer untuk melakukan shalat, tetapi minum khamernya masih belum dilarang. Allah berfirman:
 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.” (An-Nisa’: 43).
Di dalam ayat ini secara tidak langsung terkandung pengharaman minum khamer. Tetapi masih belum ditegaskan. Baru setelah tahapan itu semua, pada tahap keempat, Allah menegaskan bahwa khamer haram hukumnya:
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (Al-Maidah: 90-91)
Jelas sekali bahwa metodologi Al-Qur’an dalam mengembalikan manusia ke titik fitrahnya sungguh sangat bijak. Demikian juga seorang aktivis dakwah yang cerdas, dia selalu berjalan sebagaimana tuntunan Al-Qur’an. Maka ia tidak memaksakan kehendak dengan cara mencaci-maki dan menjelek-jelekkan orang lain yang tidak mau bergerak dalam satu fikrah (baca: visi dan misi perjuangan). Dia selalu tenang, sekalipun dicaci-maki atau dijelek-jelekan. Baginya berdakwah di jalan Allah adalah kemuliaan. Tetapi dengan syarat ilmu yang ia dakwahkan harus benar (baca: bashirah), bukan asal dakwah. Sebab di antara makna hikmah –menurut Ibn Abbas– adalah ilmu tentang Al-Qur’an (lihat mufradat alfadzil Qur’an, Ar Raghib Al Ashfahani, h.250). Jadi, tidak cukup jika hanya bermodal semangat, sementara pemikiran yang dianutnya salah. Karenanya Allah berfirman:
“Katakanlah: Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf: 108).
Jadi, tidak disebut hikmah –sekalipun ia tenang dan bijak– jika ia mengajak kepada kesesatan dan permusuhan terhadap umat Islam yang lain.

Berdakwah Dengan Mau’idzah Hasanah
Kata wa’dz lebih dekat pengertiannya kepada makna memberikan nasihat atau pelajaran. Imam Al-Asfahani menerangkan bahwa wa’dz bermakna zajrun muqatrinun bit takhawiif (peringatan digabung dengan kabar penakut). Pengertian lain menjelaskan bahwa wa’dz juga bermakna peringatan dengan kebaikan yang bisa menyentuh hati. Dalam Al-Qur’an banyak ayat-ayat yang menggunakan kata wa’zd untuk makna tersebut, di antaranya:
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu (ya’idzukum) agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (An-Nahl: 90).
Dalam surat Yunus 57:
 “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran (mau’idzah) dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
 Dalam surat Ali Imran 138: (Al-Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran (mau’idzah) bagi orang-orang yang bertakwa. Ketika digabung dengan sifat hasanah, maka makna mau’idzah hasanah menjadi pelajaran atau nasihat yang baik. Nasihat yang menyentuh hati dan melembutkannya. Seorang aktivis dakwah yang cerdas selalu menyampaikan apa yang di hatinya. Tidak dibuat-buat, dan tidak pula membuat orang-orang semakin bingung dan ketakutan. Banyak sekali contoh-contoh yang menunjukkan bahwa berdakwah dari hati ke hati sangat besar pengaruhnya terhadap orang lain. Sebuah ungkapan terkenal menarik untuk dikutip di sini bahwa: “apa yang datang dari hati akan sampai ke hati” (maa jaa’a minal qalbi yashilu ilal qalbi).
Bila kita telusuri secara mendalam, Al-Qur’an selalu menggunakan cara ini dalam menyampaikan kebenaran. Hal yang sangat jelas adalah kisah-kisah yang disampaikan Al-Qur’an mengenai umat terdahulu selalu memberikan pelajaran yang sangat mahal bagi umat manusia. Allah swt. tidak pernah bosan mengulang-ulang kisah kaum ‘Aad, Tsamud, dan Fir’un, supaya manusia yang hidup sesudahnya tidak mengikuti perbuatan mereka. Tidak hanya itu, mengenai hari kiamat, surga, dan neraka, selalu Allah ulang-ulang dalam setiap surat-surat Al-Qur’an. Itu tidak lain agar manusia terketuk hatinya lalu bergerak mengisi usianya dengan amal shalih. Perhatikan bagaimana cara ini telah demikian jauh menukik ke dalam hati manusia dari masa ke masa, sehingga banyak dari mereka yang tersadarkan lalu bertaubat dan kembali ke jalan yang benar.
Silakan baca hadits-hadits Rasulullah saw., Anda akan mendapatkan banyak contoh mengenai mau’idzah hasanah yang beliau sampaikan. Bahkan, bisa dikatakan bahwa semua hadits-hadits Rasulullah saw. adalah mau’idzah hasanah. Rasulullah saw. tidak pernah berpesan kecuali kebaikan dan kebenaran yang mengajak kepada keimanan kepada Allah dan ketaatan kepadaNya, menjauhi segala laranganNya dan senantiasa menegakkan akhlak mulia dalam kehidupan bermasyarakat “wamaa yanthiqu ‘anal hawaa in huwa illaa wahyun yuuhaa (dan tiadalah yang diucapkannya itu –Al-Qur’an– menurut kemauan hawa nafsunya) (An-Najm: 3).
Berdialog Dengan Cara Yang Lebih Baik
Langkah berikutnya adalah wajaadilhum billatii hiya ahsan. Kata wajadilhum (bantahlah) menunjukkan agar seorang aktivis dakwah senantiasa meluruskan pandangan yang salah, dan menolak setiap pendapat yang tidak sejalan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tetapi cara menolaknya harus dengan cara yang cerdas, dalam arti lebih baik dari cara mereka billatii hiya ahsan. Sebab jika tidak, penolakan itu akan menjadi tidak berguna. Bahkan, tidak mustahil akan menyebabkan mereka semakin kokoh dengan kebatilan yang mereka tawarkan.
Simaklah perintah Allah swt. kepada Nabi Musa dan Nabi Harun, ketika hendak menghadapi Fir’aun. Di sini Allah swt mengajarkan sebuah cara yang sangat baik. Allah berfirman:
“Pergilah kamu berdua kepada Fir`aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Thaha: 42-43).
Di sini nampak bahwa di antara cara efektif untuk meluruskan pemahaman orang lain, adalah tidak cukup dengan hanya hujjah-hujjah yang kuat, melainkan lebih dari itu harus ditopang dengan cara penyampaian yang lembut, tidak menghina dan mencerca. Bahkan tidak sedikit kebenaran yang ditolak hanya karena penyampaiannya tidak menarik. Dan berapa banyak kebatilan yang diterima hanya karena disampaikan dengan tenang, memukau, meyakinkan, dan menarik hati.
Di antara makna billatii hiya ahsan adalah ia menjauhi pembicaraan yang merendahkan orang lain. Sebab baginya maksud utama bukan menjatuhkan atau mengalahkan lawan, melainkan mengantarkannya kepada kebenaran. Perhatikan Rasulullah saw. ketika suatu hari datang seorang anak muda berkata:
“Wahai Nabi izinkan aku berzina?” (orang-orang ketika itu berteriak. Tetapi Rasulullah saw. minta agar anak muda tersebut mendekat, sampai duduk di sampingnya). Lalu Rasulullah bertanya, “Jika ada orang mau berzina dengan ibumu, kamu terima?” “Tidak, bahkan aku siap mati karenanya,” jawab anak muda. Rasulullah menjawab, “Demikian juga orang lain. Tidak ada yang rela jika ibunya dizinai. Bagaimana jika ada orang mau berzina dengan saudarimu, kamu terima?” “Tidak, bahkan aku siap mati karenanya,” jawab anak muda. Rasulullah menjawab, “Demikian juga orang lain. Tidak ada yang rela jika saudarinya dizinai.” Lalu Rasulullah meletakkan tangannya ke dada anak muda itu, dan berdo’a, “Ya Allah, sucikanlah hatinya, ampunilah dosanya, jagalah kemaluannya.” Maka sejak itu tidak ada yang lebih dibenci oleh anak muda tersebut selain perzinaan.

Supaya para aktivis dakwah selalu tenang dan tidak emosional dalam menghadapi berbagai tantangan, Allah swt. menutup ayat di atas dengan penegasan: “Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” Maksudnya, Allah sebenarnya mengetahui siapa yang sesat dan siapa yang mendapatkan petunjuk, adapun berdialog dengan mereka itu hanyalah sebuah usaha manusiawi, siapa tahu cara tersebut beirama dengan ketentuan-Nya. Toh kalaupun ternyata segala cara yang paling cerdas kita tempuh secara maksimal, tetapi ternyata masih juga belum tercapai target yang diinginkan, segeralah kembali kepada ayat:
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al-Qashash: 56).
 Dalam surat Al-Baqarah ayat 272: Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya.