DAKWAH DAN KOMUNIKASI
A.
Pendahuluan
Dinamika dakwah yang berkembang saat ini masih menunjukan pasang surut
yang dalam pengamatan penulis masih terus menjajaki konsitensinya gerakannya.
Atau mungkin satu hal yang perlu penulis pertanyakan, sebetulnya bagaimana
respon dan dampak dari adanya gerakan dakwah yang acapkali dilakukan dengan
berbagai sistematika. Secara kasat mata, kita bisa menyaksikan berbagai variasi
dari gerakan dakwah yang kali ini mulai banyak fenomena.
Bila diurutkan, setidaknya penulis dapat mengkategorikan dakwah yang
dimasuk dalam berbagai hal. Pertama ada yang melakukan dakwah dengan
pendekatan politik dan kekuasaan. Golongan yang satu ini mengatakan bahwa
dengan syiasah dakwah atau dakwah politik, ini bisa membangun peradaban Islam
yang madani. Karena unsur-unsur kekuasaan dapat dikuasai oleh para dai.
Golongan yang ini bisaanya diwakili oleh beebrapa partai politik yang menamakan
diri sebagai partai dakwah atau partai Islam. Kedua, ada yang bersintesa
bahwa gerakan dakwah yang dimaksud untuk mengembalikan kemulyaan Islam yakni
dengan mendirikan Negara Islam. Golongan yang satu ini diwakili oleh gerakan
dakwah hijbut tahrir. Ketiga adanya gerakan dakwah yang menitik
beratkan pada pembentukan kulur. Atau
gerakan dakwah kultural yang bisaanya
diwakili oleh para ormas Islam dalam dakwahnya.
Dalam makalah ini, penulis ingin mencoba
melihat, masyarakat sebagai bagian terpenting dalam pelaksanaan komunikasi. Artinya,
antara dakwah dan komunikasi itu tidak akan bisa dipisahkan. Meskipun ada sebagian
golongan yang menganggap adanya dakwah bil hall –dakwah dengan
menampilkan perilaku terpuji- namun tetap saja dalam pandangan ilmu komunikasi
itu digolongkan kepada komunikasi simbolik, atau komunikasi nonverbal.
Karena itulah makalah ini ingin memfokuskan bahwa bagaimana masyarakat
bila ditinjau dalam komunikasi serta bentuk-bentuk komunikasi, sebagai bagian
penting dalam proses dakwah yang terjadi. Sehingga dalam akhir pembahasan
diharapkan mampu terjawab, bagaimana unsur-unsur yang terdapat dalam komunikasi mampu melihat serta memprediksi
kegiatan dakwah yang sudah berjalan atau yang akan dijalankan kembali.
B.
Dakwah
dalam tinjauan Komunikasi
Keumuman orang, memandang dakwah
sebagai suatu kegiatan yang multi tafsir dan pemahaman, setidaknya dakwah
difahami sebagai suatu penerangan. Artinya mempunyai suatu tujuan tertentu
sekurang-kurangnya menarik orang atau memberikan pengertian kepada orang lain
tentang sesuatu hal. Penerangan lebih cenderung kepada pasif artinya tidak
memerlukan reaksi yang nyata dari orang yang menerima penerangan itu[1]. Selain itu dakwah juga disamakan dengan
penyiaran. Karena penyiaran juga salah satu dari dakwah atau salah satu cara
dari pelaksanaannya. Tetapi penyiaran
bisa dipergunakan untuk penjelasan yang sudah ada pokok-pokok pesoalannya, dan
bsia pula dipergunakan untuk menyiarkan persoalan-persoalan pokok.
Sehingga dakwah difahami sebagai usaha-usaha menyerukan dan menyampaikan
kepada perorangan manusia dan seluruh umat manusia konsepsi Islam tentang
pandangan dan tujuan hidup manusia di dunia ini, dan yang meliputi amal
makruf dan nahyi mungkar dengan berbagai macam cara dan media yang
diperbolehkan ahklak dan membimbing pengalamannya dalam kehidupan bermasyarakat[2]. sedangkan Ali Mahfudz mendefinisikan dakwah
sebagai suatu kegiatan memotiofasi manusia untuk berbuat kebajikan, mengikuti
petunjuk, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, agar mereka
memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Dari beberapa definisi diatas, meskipun digolongkan pada definisi yang
telah lama ada, setidaknya dapat difahami bahwa tidak ada salah satu unsur
dakwah pun yang lepas dari komunikasi. Baik itu ketika dakwah difahami sebagai
kegiatan menyeru, mengajak atau
memberikan informasi kesemua itu menggambarkan akan adanya hubungan komunikiasi
satu sama lainnya. Meskipun Saudra Hybles, memberikan makna bahwa komunikasi
ialah proses pertukaran informasi, gagasan, dan perasaan. Proses itu meliputi
informasi yang disampaikan tidak hanya secara lisan dan tulisan, tetapi juga
dengan bahasa tubuh, gaya maupun penampilan diri, atau menggunakan alat bantu
di sekeliling kita untuk memperkaya sebuah pesan. Sementara Billie J Walhstrm mengungkapkan komunikasi
ialah (1) pernyataan diri yang efektif, (2) pertukaran pesan-pesan yang
tertulis, pesan-pesan dalam percakapan, bahkan melalui imajinasi, (3)
pertukaran informasi atau hiburan dengan kata-kata melalui percakapan atau
dengan metode lain, (4) pengalihan informasi dari seseorang kepada orang lain[3].
Artinya ketika ingin melihat dakwah atau lebih tepatnya proses dakwah
yang telah berlangsung di masyarakat dalam sudut pandang komunikasi. Tidak
cukup hanya memahami bahwa dakwah itu sebagai usaha mengajajak dan menyeru pada
jalan Allah. Bila pemahaman itu hanya diartikan dalam arti sempit, maka tidak
ada pencerahan yang bersifat linier antara dai dengan mad`u-nya. Sementara
komunikasi mengharapkan adanya feedbek dalam proses komunikasinya, untuk
terjalin pemahaman bersama. Tidak bisa difahami hanya sebatas penyampaian pesan
dan ide yang dibawakan secara dogmatis.
Sekali lagi ingin saya tegaskan bahwa komunikasi itu merupakan bentuk
hubungan interpersonal dengan mana, dapat dikatakan orang dapat mengadakan
kontak dengan isi pikiran orang lain. Mekanisme komunikasi meliputi pengkodean
informasi melalui simbol-simbol tingkah laku pengirim dan penerimaan
simbol-simbol itu melaui persepsi, dan
penguraian kode-nya. Dalam
pertukaran pesan atau berita ataupun
pertukaran itu telah terjadi secara jujur dan cukup tepat, maka
penerimaan dan pengirim berita mempunyai informasi yang hampir sama[4].
Keberhasilan komunikator dalam komunikasi, yakni dengan menguji
keberhasilan pertukaran informasi mereka melalui feedback, yaitu dengan
melihat tanda-tanda pada tingkah laku orang lain lain yang melibatkan efek-efek penerima
berita sebelumnya[5].
Artinya komunikasi memandang bahwa salah satu keberhasilan dalam adanya proses
komunikasi yakni dengan melihat sejauh mana perubahan perilaku yang di
tampilkan oleh penerim pesan.
Nah! ketika analogi ini dimasukan dalam melihat dakwah sebagai salah satu
kegiatan yang tidak pernah dan tidak akan lepas dari komunikasi. Maka dakwah
ketika ingin dilihat dari sudut pandang ilmu komnikasi maka salah satu butir
untuk melihat bagaiman keefektipan dari dakwah itu sendiri yakni dengan melihat
feedback yang diberikan oleh mad`u. Setelah feedback itu
ditemukan atau difahami oleh pemberi pesan yaitu dai. Maka dalam hal ini, tidak dikatakan
terjadi proses dakwah jikalau tidak adanya
feedback dari mad`u serta tidak ada perubahan sikap yang dialami
leh mad`u. Karena dakwah itu ialah proses pemberian pesan dengan disertai
adanya respon dan perubahan sikap, jika dipandang dalam sudut pandang
komunikasi.
Dengan demikian pemahaman akan adanya proses
dakwah yang sudah berlangsung dari dulu hingga sekarang, sudah sepatutmnya
perlu kita renungkan kembali, atau bisa dirubah pemahaman bila diperlukan. Dengan
demikian prosesi dakwah yang bisaanya kaku dalam metode komunikasi, melalui paper
ini, ingin penulis sampaikan bahwa sebetulnya dakwah itu bisa dikemas dengan
metode komunikasi yang efektif hingga bisa menggugah kesadaran para pendengar.
Artinya model komunikasi dakwah yang perlu mendapat perhatian lebih jauh.
Dengan komunikasi yang dikemas secara efektif dan efisien diharapkan
inovasi-inovasi baru dalam pelaksanaan dakwah bisa dilahirkan selama proses itu
berlangsung.
Dengan demikian, ketika mengguakan sudut pandang komunikasi dalam melihat
dakwah, otomatis dengan sendirinya proses dalam pelaksanaan dakwah itupun harus
dirubah. Meskipun Qs, An-Nahl ayat 125 menyerukan akan adanya kewajiban
berdakwah bagi umat Islam. Dalam hal ini
tentunya dikatakan sebagai suatu kewajiban manusia untuk berdakwah, jelas sudah
bahwa dakwah yang dimaksud pada awalnya syarat dengan nuansa teologis. Namun tatkala hendak ditinjau dalam
konsep komunikasi, maka dakwah tidak bisa lagi hanya dipandang sebatas unsur
teologis.
Melainkan dakwah harus diturunkan menjadi konsep “Teologi-Humanis”, karena dalam praksisnya dakwah tidak bisa
dilepaskan dari manusia itu sendiri, sebagai mahluk yang senantiasa
berkomunikasi satu sama lain. Maka dari itu pemahaman akan dakwah yang lebih humanis, melalui pendekatan
komunikasi dengan adanya seruan-seruan persuatif tidak dokriner adalah suatu
keharusan. Pengemasan bahasa yang membangun kesadaran bukan mengarahkan secara
dikotomis nampakanya menjadi elemen utama jikalau tetap dakwah ingin dilihat
dalam pandangan komunikasi. Singkat kata tidak ada salah satu unsur yang
lepaspun dalam dakwah yang terlepas
dalam komunikasi. Semua bentuk dakwah tidak bisa lepas dari komunikasi baik
verbal maupun nonverbal.
- Bentuk-Bentuk Komunikasi
Dalam melhiat komunikasi yang terjadi di masyarakat,
meskipun sekilas nampak begitu saja terjadi suatu komunikasi di masyarakat.
Namun ingin penulis samapaikan bahwa pada dasarnya komunikasi tersebut sudah
jauh-jauh hari digolongkan oleh para ahli ilmu komunikasi. Berikut penjelasan
dari model-model komunikasi yang dimaksud:
1.
Model
Retoris
|
|
|
Menurut Aristhoteles persuasi dapat dicapai oleh siapa anda (etos-kepercayaan anda), argument anda (logos-logika
dalam pendapat anda), dan dengan
memainkan emosi kalayak (Pathos-emosi khalayak)[6]. Salah satu kelemahan dari
teori ini yakni, komunikasi dianggap sebagai fenomena yang statis. Seseorang
berbicara, pesannya berjalan
kepada khalayak dan khalayak mendengarkan. Tahap-tahap dalam peristiwa itu
berurutan alih-alih terjadi secara simultan. Disamping itu, model ini juga berfokus pada komunikasi yang bertujuan (disengaja)
yang terjadi ketika seseorang berusaha membujuk orang lain untuk menerima
pendapatnya. Kelemahan lain dari model retoris ini adalah tdak dibahasnya
aspek-aspek nonverbal dalam persuasi.
2.
Model
Komunikasi Antar Pribadi-Wilbur Schramm
Model Scharuman yang satu ini, berkenaan dengan model komunikasi
antarpersonal antara seseorang dengan orang lain. Schramm menganggap bahwa
komunikasi sebagai interaksi dengan kedua belah pihak yang menjadi,
menafsirkan, menyadi balik, mentransmisikan, dan menerima sinyal[7]. Dalam komunikasi antar pribadi terdapat dua
karakteristik penting, yakni: pertama, hubungan antarpribadi berlangsung
melalui beberapa tahapan, mulai dari tahap interaksi awal sampai ke pemutusan (dissolution). Kedua,
hubungan antar pribadi berbeda-beda dalam keluasan (breadth) dan kedalamannya (dept)[8]. Kebanyakan hubungan
mungkin semua, berkembang melalui tahap-tahap. Kita tidak menjadi kawan akrab
segera setelah pertemuan terjadi. Kita menumbuhkan keakraban secara bertahap,
emlalui serangkaian langkah atau tahap.
3.
Model
Komunikasi Dua tahap
Model komunikasi dua tahap pertama kali ditemukanoleh Paul Lazarselfeld
dan elihu Katz. Model komunikasi ini dimulai dengan tahap pertama sebagai
proses komunikasi, massa dan tahapan berikutnya atau kedua sebagai
proses komunikasi antarpersonal.
Model ini pada awlanya merupakan model komunikasi yang berhubungan dengan
komunikasi massa, karena komunikator pertama menyampaikan pesan lewat media
massa, baik cetak maupun elektronik. Kemudian masing-masing anggota kelompok
menyampaikannya kembali kepada orang lain dalam berbagai kesempatan dan tempat
secara tatap muka[9].
Model ini menggmbarkan bahwa
pesan lewat media massa diterima oleh individu-individu yang menaruh perhatian
lebih pada media massa, sehingga mereka menjadi
orang yang informasi. Mereka inilah para opinion leader, yang
akan menginterpretasikan setiap pesan yang diterimanya sesuai dengan Frame
of reference dan field of experence. Kedua dia seorang opinion leader
akan menyampaikannya kepada individu lain setelah ia interpretasikan. Opinion
leader nampakannya masih amat diperlukan karena kondisi masyarakat Indonesia,
amat diperlukan karena kondisi warga indonesia relatif masih jarang diterpa
media massa.
D.
Masyarakat
Komunikasi
Secara bahasa masyarakat itu diartikan sebagai pergaulan atau atau
persekutuan, yang diambil dari bahasa arab : “syaroka, yusyariku, musyarokah
“ yang kalau dalam bahasa inggris itu lebih dikenal dengan sebutan “society”
. dalam al-quran masyarakat itu disebutkan dsebagai syu`ub, qaum, dan
ummah berbeda dengan hal diatas
Parker mengartikan masyarakat sebagai suatu kelompok orang yang tinggal dalam
satu wilayah, dan bekerja sama dengan organisasi-organisasi dan lembaga-lembaga
yang dibentuk sesama mereka (1992:92).
Realitas masyarakat, merupakan kenyataan
dinamis dari berbagai cara pandang dan variasi perilaku individu, meskipun
realitas itu seolah-olah dikotomi dengan kenyataan lain, bahwa manusia adalah creator
kehidupan sosial yang potensial. Sebagaimana konsep masyarakat dan budaya
berlaku, maka secara langsung atau tidak langsung potensi individu akan
terjebak dalam sistem kehidupan normatif yang dapat menghentikan proses dinamis
dari berbagai potensi individu yang dimaksud.
Disitulah peranan penting
adanya komunikasi yang melingkari itu semua, artinya tanpa ada komunikasi yang berjalan
di tengah masyarakat, maka nsicaya tidak ada hubungan yang akrab antar
inidvidu. Secara langsung, maka tidak ada proses pembentukan norma dalam
kehidupan ini jikalau tidak ada unsur komunikasi yang menghubungkan
fungsi-fungsi sosial yang ada dalam masyarakat. Di antara para ahli
komunikasi, ada yang menyebutkan bahwa konunikasi antar individu, dinilai
efektip. Bagi yang setuju dengan pandangan
tersebut, mereka menyebutkan bahwa ketika komunikasi antar individu
berlangsung, komunikator dapat melihat seketika tanggapan komunikan, baik
secara verbal dalam bentuk jawaban kata-kata maupun secara non verbal dalam
bentuk gerak-gerik sehingga komunikator kadang-kadang mengulangi penyampaian
pesannya untuk meyakinkan bahwa komunikan mengerti apa yang disampaikannya.
Pengertian efektif dalam komunikasi antar individu ini ialah dalam hubungannya
dengan perubahan sikap[10].
Sedangkan komunikasi sosial, memiliki tendensi yang berbeda tidak
hanya sebatas menyampiakan pesan dan difahami pesan tersebut oleh komunikan.
Lebih jauh dari itu, apa yang dikomunikasikan mempunyai pengaruh dan akibat
terhadap hubungan sosial anggota masyarakat yang menerima apa yang disampaikan
oleh komunikator. Komunikasi dalam kehidupan
sosial mempunyai kemampuan mengubah masyarakat demikian juga melalui
komunikasi maka individu akan mampu menyelesaikan
diri dengan kemlompoknya[11].
Begitu penting dan menariknya
komuniasi sosial dalam merubah tatan nilai dan norma sosial, Astrid Susanto,
Ph.D, menjelaskan bahwa; komuhikasi
sosial adalah suatu kegiatan yang lebih diarahkan kepada pencapaian suatu
situasi integrasi sosial. Karena itu kegiatan komunikasi sosial adalah lebih
intensif dari pada komunikasi massa. Titik pangkal dari suatu komunikasi sosial
karenanya adalah bahwa komunikator dan komunikan perlu seia dan sependapat
tentang bahan/materi yang akan dibahas dalamkegiatan komunikasi yang akan
dilangsungkan.
Ditinjau dari segi ini suatu
komunikasi sosial akan berhasil bila kedua belah pihak yang terlibat dalam
proses komunikasi ini menganggap adanya manfaat dalam kegiatan komunikasi
tersebut. Melalui komunikasi sosial inilah terjadi aktualisasi dari
masalah-masalah yang dibahas. Selain kesadaran dan pengathuan tentang materi
yang dibahas makin meluas dan bertambah. Melalui komunikasi sosial sekaligus
sosialisasi. Melalui komunikasi sosial, kelangsungan hidup dari suatu kelompok
sosial akan terjamin. Melalui komuniaksi sosial nilai-nilai budaya luhur dalam
masyarakat akan terus terpelihara. Dan melalui komunikasi soial kesadaran
masyarakat akan dipupuk, dibina, diperluas, serta melalui komuniaksi sosial
masalah-masalah sosial akan dipecahkan melalui konsesus[12].
Inilah peranan penting dari
suatu masyarakat yang berkomunikasi satu sama lainnya. Artinya dari hal ini
dapat difahamai bahwa komunikasi tidak hanya sebatas menyampaikan pesan dan
berita kepada khalayak yang diajak untuk bicara. Lebih jauh dari itu,
komunikasi ini memiliki peranan penting dalam menghidupkan fungsi-fungsi sosial
yang ada dalam masyarakat. Justru melalui komunikasi inilah suatu tatanan dalam
masyarakat akan terbentuk.
Karena itulah masyarakat
komuniksai yakni masyarakat yang senantiasa terbentuk suatu kesepahaman bersama
dalam membentuk aturan-aturan yang kemudian mampu diterapkan sebagai norma yang
mengikat bagi penduduknya. Demikian pula dengan dakwah yang selama ini sudah
berlangsung. Jika dengan komunikasi dapat terbentuk suatu norma dalam masyarakat,
bahkan lebih jauh lagi bisa memcahkan berbagai persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.
Nampaknya begitupun dakwah
pula harus bisa menjangkau hingga terbentuknya tatanan atau pranata sosial Islam.
Tidak cukup hanya dilakukan dimesjid-mesjid melainkan harus menjelma menjadi
suatu kesatuan yang utuh dalam tatanan kehidupna. Maka melalui komunkiasi inilah
dakwah sudah saat bisa disosialisasikan dengan baik dan tepat sasaran. Sehingga
kehidupan menuju khairo ummah yang dicita-citakan oleh para
aktifis dakwah, bukan lagi bahasa langit yang mengapung nun jauh disana. Akan
tetapi perlahan nan pasti kedepan khairo ummah yang dimaksud dapat
menjelma menjadi kenyataan. Mengkomunikasi dakwah dengan efektif dan tepat guna
ialah solusi yang perlu dicoba terus agar pembentukan, masyarakat madani bisa
dapat tercapai.
PENUTUP
Demikianlah uraian singkat
dalam makalah ini, mengenai dakwah dan komunikasi. Yang pada intinya dimanapun
dan kapanpun kegiatan dakwah ini tidak akan bisa lepas dari unsur komunikasi.
Bahkan ketika hanya diam dan memberi
suri tauladan pun itu sudah termasuk proses komunikasi, yang para pakar sebut
sebagai komunikasi nonverbal. Sehingga ketika dakwah ingin dilihat dalam sudut
pandang komunikasi, maka dalam aplikasinya dakwah tidak bisa hanya perpegang
pada patokan teologis.
Pendekatanyang lebih lunak dan
humanis, bisa dijadikan acuan dalam penerapan dakwah yang dimaksud tadi. Sehingga
dengan menggunkan teknik komuniaksi yang tepat dan efisien, diharapkan hasil
akhir dari adanya dakwah ini mampu menjelma dalam tatana kehidupan yang penuh dengan
keserasian anatar nilai-nilai keislaman yang tertuang dalam Al-Quran. Dengan
amalam praksis yang bisa diamati secara langsung baik dalam urusan ibadah
–duniawiyah, maupun ibadah yang bertendesi kepada Allah. Inilah renungan dakwah
yang ingin penulis utarakan dalam makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Alo Liliweri, Dr., M.S. Makna Budaya
dalam Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: LKIS. 2009
Dedi
Mulayana. Ilmu Komunikasi; suatu pengantar. Bandung: Remaja Rosda Karya. 2002
Joseph
A Devito. Komunikasi antar Manusia. Jakarta: Profesional Books. 1997
Ujang Saefullah. Model Komunikasi Dakwah Jamaah
Tabligh. Dalam Jurnal Ilmu Dakwah. Volume 4 No. 14 Juni-Desember 2009
HM Thoha Yahya Omar. Islam dan Dakwah.. Jakarta:
Zakia Islami Pres. 2004
Sayamsu Munil Mulkam. Rekontruksi Pemikiran Dakwah
Islam. Jakarta: Amzah. 2008
Newcom. Psikologi Sosial. Bandung: CV Diponegoro. 1985
T.A.Latihief
Rousydiy. Rethorika Komunikasi dan Informasi. Medan: Firma Rimbow Medan. 1995
[3] Alo Liliweri, Dr., M.S. Makna Budaya dalam
Komunikasi Antar Budaya. (Yogyakarta: LKIS, 2009) hal 3-4
[9] Ujang
Saefullah. Model Komunikasi Dakwah Jamaah Tabligh. Dalam Jurnal Ilmu Dakwah.
Volume 4 No. 14 Juni-Desember 2009
[10] T.A. Latihief Rousydiy. Rethorika Komunikasi dan
Informasi. (Medan: Firma Rimbow Medan, 1995) hal 87
[11] T.A. Latihief Rousydiy. Ibid. hal 87-88
[12] T.A Lathief Rousydiy..Ibid . hal 90
Tidak ada komentar:
Posting Komentar