Laman

Jumat, 19 Oktober 2018


DAKWAH DAN KOMUNIKASI


A.    Pendahuluan
Dinamika dakwah yang berkembang saat ini masih menunjukan pasang surut yang dalam pengamatan penulis masih terus menjajaki konsitensinya gerakannya. Atau mungkin satu hal yang perlu penulis pertanyakan, sebetulnya bagaimana respon dan dampak dari adanya gerakan dakwah yang acapkali dilakukan dengan berbagai sistematika. Secara kasat mata, kita bisa menyaksikan berbagai variasi dari gerakan dakwah yang kali ini mulai banyak fenomena.
Bila diurutkan, setidaknya penulis dapat mengkategorikan dakwah yang dimasuk dalam berbagai hal. Pertama ada yang melakukan dakwah dengan pendekatan politik dan kekuasaan. Golongan yang satu ini mengatakan bahwa dengan syiasah dakwah atau dakwah politik, ini bisa membangun peradaban Islam yang madani. Karena unsur-unsur kekuasaan dapat dikuasai oleh para dai. Golongan yang ini bisaanya diwakili oleh beebrapa partai politik yang menamakan diri sebagai partai dakwah atau partai Islam. Kedua, ada yang bersintesa bahwa gerakan dakwah yang dimaksud untuk mengembalikan kemulyaan Islam yakni dengan mendirikan Negara Islam. Golongan yang satu ini diwakili oleh gerakan dakwah hijbut tahrir. Ketiga adanya gerakan dakwah yang menitik beratkan pada pembentukan kulur.  Atau gerakan dakwah kultural  yang bisaanya diwakili oleh para ormas Islam dalam dakwahnya.
Dalam makalah ini, penulis ingin mencoba melihat, masyarakat sebagai bagian terpenting dalam pelaksanaan komunikasi. Artinya, antara dakwah dan komunikasi itu tidak akan bisa dipisahkan. Meskipun ada sebagian golongan yang menganggap adanya dakwah bil hall –dakwah dengan menampilkan perilaku terpuji- namun tetap saja dalam pandangan ilmu komunikasi itu digolongkan kepada komunikasi simbolik, atau komunikasi nonverbal.
Karena itulah makalah ini ingin memfokuskan bahwa bagaimana masyarakat bila ditinjau dalam komunikasi serta bentuk-bentuk komunikasi, sebagai bagian penting dalam proses dakwah yang terjadi. Sehingga dalam akhir pembahasan diharapkan mampu terjawab, bagaimana unsur-unsur yang terdapat dalam komunikasi mampu melihat serta memprediksi kegiatan dakwah yang sudah berjalan atau yang akan dijalankan kembali.

B.     Dakwah dalam tinjauan Komunikasi
Keumuman orang, memandang  dakwah sebagai suatu kegiatan yang multi tafsir dan pemahaman, setidaknya dakwah difahami sebagai suatu penerangan. Artinya mempunyai suatu tujuan tertentu sekurang-kurangnya menarik orang atau memberikan pengertian kepada orang lain tentang sesuatu hal. Penerangan lebih cenderung kepada pasif artinya tidak memerlukan reaksi yang nyata dari orang yang menerima penerangan itu[1].   Selain itu dakwah juga disamakan dengan penyiaran. Karena penyiaran juga salah satu dari dakwah atau salah satu cara dari pelaksanaannya. Tetapi  penyiaran bisa dipergunakan untuk penjelasan yang sudah ada pokok-pokok pesoalannya, dan bsia pula dipergunakan untuk menyiarkan persoalan-persoalan pokok.
Sehingga dakwah difahami sebagai usaha-usaha menyerukan dan menyampaikan kepada perorangan manusia dan seluruh umat manusia konsepsi Islam tentang pandangan dan tujuan hidup manusia di dunia ini, dan yang meliputi amal makruf dan nahyi mungkar dengan berbagai macam cara dan media yang diperbolehkan ahklak dan membimbing pengalamannya dalam kehidupan bermasyarakat[2].  sedangkan Ali Mahfudz mendefinisikan dakwah sebagai suatu kegiatan memotiofasi manusia untuk berbuat kebajikan, mengikuti petunjuk, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, agar mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Dari beberapa definisi diatas, meskipun digolongkan pada definisi yang telah lama ada, setidaknya dapat difahami bahwa tidak ada salah satu unsur dakwah pun yang lepas dari komunikasi. Baik itu ketika dakwah difahami sebagai kegiatan menyeru,  mengajak atau memberikan informasi kesemua itu menggambarkan akan adanya hubungan komunikiasi satu sama lainnya. Meskipun Saudra Hybles, memberikan makna bahwa komunikasi ialah proses pertukaran informasi, gagasan, dan perasaan. Proses itu meliputi informasi yang disampaikan tidak hanya secara lisan dan tulisan, tetapi juga dengan bahasa tubuh, gaya maupun penampilan diri, atau menggunakan alat bantu di sekeliling kita untuk memperkaya sebuah pesan. Sementara  Billie J Walhstrm mengungkapkan komunikasi ialah (1) pernyataan diri yang efektif, (2) pertukaran pesan-pesan yang tertulis, pesan-pesan dalam percakapan, bahkan melalui imajinasi, (3) pertukaran informasi atau hiburan dengan kata-kata melalui percakapan atau dengan metode lain, (4) pengalihan informasi dari seseorang kepada orang lain[3].
Artinya ketika ingin melihat dakwah atau lebih tepatnya proses dakwah yang telah berlangsung di masyarakat dalam sudut pandang komunikasi. Tidak cukup hanya memahami bahwa dakwah itu sebagai usaha mengajajak dan menyeru pada jalan Allah. Bila pemahaman itu hanya diartikan dalam arti sempit, maka tidak ada pencerahan yang bersifat linier antara dai dengan mad`u-nya. Sementara komunikasi mengharapkan adanya feedbek dalam proses komunikasinya, untuk terjalin pemahaman bersama. Tidak bisa difahami hanya sebatas penyampaian pesan dan ide yang dibawakan secara dogmatis.
Sekali lagi ingin saya tegaskan bahwa komunikasi itu merupakan bentuk hubungan interpersonal dengan mana, dapat dikatakan orang dapat mengadakan kontak dengan isi pikiran orang lain. Mekanisme komunikasi meliputi pengkodean informasi melalui simbol-simbol tingkah laku pengirim dan penerimaan simbol-simbol itu melaui  persepsi, dan penguraian kode-nya. Dalam pertukaran pesan atau berita ataupun  pertukaran itu telah terjadi secara jujur dan cukup tepat, maka penerimaan dan pengirim berita mempunyai informasi yang hampir sama[4].
Keberhasilan komunikator dalam komunikasi, yakni dengan menguji keberhasilan pertukaran informasi mereka melalui feedback, yaitu dengan melihat tanda-tanda pada tingkah laku orang lain  lain yang melibatkan efek-efek penerima berita sebelumnya[5]. Artinya komunikasi memandang bahwa salah satu keberhasilan dalam adanya proses komunikasi yakni dengan melihat sejauh mana perubahan perilaku yang di tampilkan oleh penerim pesan.
Nah! ketika analogi ini dimasukan dalam melihat dakwah sebagai salah satu kegiatan yang tidak pernah dan tidak akan lepas dari komunikasi. Maka dakwah ketika ingin dilihat dari sudut pandang ilmu komnikasi maka salah satu butir untuk melihat bagaiman keefektipan dari dakwah itu sendiri yakni dengan melihat feedback yang diberikan oleh mad`u. Setelah feedback itu ditemukan atau difahami oleh pemberi pesan yaitu  dai. Maka dalam hal ini, tidak dikatakan terjadi proses dakwah jikalau tidak adanya  feedback dari mad`u serta tidak ada perubahan sikap yang dialami leh mad`u. Karena dakwah itu ialah proses pemberian pesan dengan disertai adanya respon dan perubahan sikap, jika dipandang dalam sudut pandang komunikasi.
 Dengan demikian pemahaman akan adanya proses dakwah yang sudah berlangsung dari dulu hingga sekarang, sudah sepatutmnya perlu kita renungkan kembali, atau bisa dirubah pemahaman bila diperlukan. Dengan demikian prosesi dakwah yang bisaanya kaku dalam metode komunikasi, melalui paper ini, ingin penulis sampaikan bahwa sebetulnya dakwah itu bisa dikemas dengan metode komunikasi yang efektif hingga bisa menggugah kesadaran para pendengar. Artinya model komunikasi dakwah yang perlu mendapat perhatian lebih jauh. Dengan komunikasi yang dikemas secara efektif dan efisien diharapkan inovasi-inovasi baru dalam pelaksanaan dakwah bisa dilahirkan selama proses itu berlangsung.
Dengan demikian, ketika mengguakan sudut pandang komunikasi dalam melihat dakwah, otomatis dengan sendirinya proses dalam pelaksanaan dakwah itupun harus dirubah. Meskipun Qs, An-Nahl ayat 125 menyerukan akan adanya kewajiban berdakwah bagi umat Islam.  Dalam hal ini tentunya dikatakan sebagai suatu kewajiban manusia untuk berdakwah, jelas sudah bahwa dakwah yang dimaksud pada awalnya syarat dengan nuansa teologis. Namun tatkala hendak ditinjau dalam konsep komunikasi, maka dakwah tidak bisa lagi hanya dipandang sebatas unsur teologis.
Melainkan dakwah harus diturunkan menjadi konsep Teologi-Humanis, karena dalam praksisnya dakwah tidak bisa dilepaskan dari manusia itu sendiri, sebagai mahluk yang senantiasa berkomunikasi satu sama lain. Maka dari itu pemahaman akan dakwah yang lebih humanis, melalui pendekatan komunikasi dengan adanya seruan-seruan persuatif tidak dokriner adalah suatu keharusan. Pengemasan bahasa yang membangun kesadaran bukan mengarahkan secara dikotomis nampakanya menjadi elemen utama jikalau tetap dakwah ingin dilihat dalam pandangan komunikasi. Singkat kata tidak ada salah satu unsur yang lepaspun dalam  dakwah yang terlepas dalam komunikasi. Semua bentuk dakwah tidak bisa lepas dari komunikasi baik verbal maupun nonverbal.

  1. Bentuk-Bentuk Komunikasi
Dalam melhiat  komunikasi yang terjadi di masyarakat, meskipun sekilas nampak begitu saja terjadi suatu komunikasi di masyarakat. Namun ingin penulis samapaikan bahwa pada dasarnya komunikasi tersebut sudah jauh-jauh hari digolongkan oleh para ahli ilmu komunikasi. Berikut penjelasan dari model-model komunikasi yang dimaksud:

1.      Model Retoris
Model retoris ialah model yang dicetuskan oleh Aristoteles, seorang filosofYunani terkemuka yang hidup pada tahun (340-335 SM). Model ini intinya ialah komunikasi melalui pendekatan persuasi. Ia berjasa dalam merumuskan model komunikasi verbal pertama. Komunikasi terjadi ketika seorang pembicara menyampaikan pembicaraannya kepada khalayak.
Pesan 
 
Pendengar 
 
Pembicara
 
                                                                                       Setting
 


                                                                                      Setting
           
Menurut Aristhoteles persuasi dapat dicapai oleh siapa anda (etos-kepercayaan anda), argument anda (logos-logika dalam pendapat anda), dan dengan memainkan emosi kalayak (Pathos-emosi khalayak)[6]. Salah satu kelemahan dari teori ini yakni, komunikasi dianggap sebagai fenomena yang statis. Seseorang berbicara, pesannya berjalan kepada khalayak dan khalayak mendengarkan. Tahap-tahap dalam peristiwa itu berurutan alih-alih terjadi secara simultan. Disamping itu, model ini juga berfokus pada komunikasi yang bertujuan (disengaja) yang terjadi ketika seseorang berusaha membujuk orang lain untuk menerima pendapatnya. Kelemahan lain dari model retoris ini adalah tdak dibahasnya aspek-aspek nonverbal dalam persuasi.

2.      Model Komunikasi Antar Pribadi-Wilbur Schramm
Model Scharuman yang satu ini, berkenaan dengan model komunikasi antarpersonal antara seseorang dengan orang lain. Schramm menganggap bahwa komunikasi sebagai interaksi dengan kedua belah pihak yang menjadi, menafsirkan, menyadi balik, mentransmisikan, dan  menerima sinyal[7].  Dalam komunikasi antar pribadi terdapat dua karakteristik penting, yakni: pertama, hubungan antarpribadi berlangsung melalui beberapa tahapan, mulai dari tahap interaksi awal sampai ke  pemutusan (dissolution). Kedua, hubungan antar pribadi berbeda-beda dalam keluasan (breadth) dan kedalamannya (dept)[8]. Kebanyakan hubungan mungkin semua, berkembang melalui tahap-tahap. Kita tidak menjadi kawan akrab segera setelah pertemuan terjadi. Kita menumbuhkan keakraban secara bertahap, emlalui serangkaian langkah atau tahap.

3.      Model Komunikasi Dua tahap
Model komunikasi dua tahap pertama kali ditemukanoleh Paul Lazarselfeld dan elihu Katz. Model komunikasi ini dimulai dengan tahap pertama sebagai proses komunikasi, massa dan tahapan berikutnya atau kedua sebagai proses komunikasi antarpersonal. Model ini pada awlanya merupakan model komunikasi yang berhubungan dengan komunikasi massa, karena komunikator pertama menyampaikan pesan lewat media massa, baik cetak maupun elektronik. Kemudian masing-masing anggota kelompok menyampaikannya kembali kepada orang lain dalam berbagai kesempatan dan tempat secara tatap muka[9].
Model ini menggmbarkan bahwa pesan lewat media massa diterima oleh individu-individu yang menaruh perhatian lebih pada media massa, sehingga mereka menjadi  orang yang informasi. Mereka inilah para opinion leader, yang akan menginterpretasikan setiap pesan yang diterimanya sesuai dengan Frame of reference dan field of experence. Kedua dia seorang opinion leader akan menyampaikannya kepada individu lain setelah ia interpretasikan. Opinion leader nampakannya masih amat diperlukan karena kondisi masyarakat Indonesia, amat diperlukan karena kondisi warga indonesia relatif masih jarang diterpa media massa.

D.    Masyarakat Komunikasi
Secara bahasa masyarakat itu diartikan sebagai pergaulan atau atau persekutuan, yang diambil dari bahasa arab : “syaroka, yusyariku, musyarokah “ yang kalau dalam bahasa inggris itu lebih dikenal dengan sebutan “society” . dalam al-quran masyarakat itu disebutkan dsebagai syu`ub, qaum, dan ummah  berbeda dengan hal diatas Parker mengartikan masyarakat sebagai suatu kelompok orang yang tinggal dalam satu wilayah, dan bekerja sama dengan organisasi-organisasi dan lembaga-lembaga yang dibentuk sesama mereka (1992:92).
 Realitas masyarakat, merupakan kenyataan dinamis dari berbagai cara pandang dan variasi perilaku individu, meskipun realitas itu seolah-olah dikotomi dengan kenyataan lain, bahwa manusia adalah creator kehidupan sosial yang potensial. Sebagaimana konsep masyarakat dan budaya berlaku, maka secara langsung atau tidak langsung potensi individu akan terjebak dalam sistem kehidupan normatif yang dapat menghentikan proses dinamis dari berbagai potensi individu yang dimaksud.
Disitulah peranan penting adanya komunikasi yang melingkari itu semua, artinya tanpa ada komunikasi yang berjalan di tengah masyarakat, maka nsicaya tidak ada hubungan yang akrab antar inidvidu. Secara langsung, maka tidak ada proses pembentukan norma dalam kehidupan ini jikalau tidak ada unsur komunikasi yang menghubungkan fungsi-fungsi sosial yang ada dalam masyarakat. Di antara para ahli komunikasi, ada yang menyebutkan bahwa konunikasi antar individu, dinilai efektip. Bagi yang setuju dengan pandangan tersebut, mereka menyebutkan bahwa ketika komunikasi antar individu berlangsung, komunikator dapat melihat seketika tanggapan komunikan, baik secara verbal dalam bentuk jawaban kata-kata maupun secara non verbal dalam bentuk gerak-gerik sehingga komunikator kadang-kadang mengulangi penyampaian pesannya untuk meyakinkan bahwa komunikan mengerti apa yang disampaikannya. Pengertian efektif dalam komunikasi antar individu ini ialah dalam hubungannya dengan perubahan sikap[10]. 
            Sedangkan komunikasi  sosial, memiliki tendensi yang berbeda tidak hanya sebatas menyampiakan pesan dan difahami pesan tersebut oleh komunikan. Lebih jauh dari itu, apa yang dikomunikasikan mempunyai pengaruh dan akibat terhadap hubungan sosial anggota masyarakat yang menerima apa yang disampaikan oleh komunikator. Komunikasi dalam kehidupan  sosial mempunyai kemampuan mengubah masyarakat demikian juga melalui komunikasi maka individu akan mampu  menyelesaikan diri dengan kemlompoknya[11].
Begitu penting dan menariknya komuniasi sosial dalam merubah tatan nilai dan norma sosial, Astrid Susanto, Ph.D, menjelaskan bahwa; komuhikasi sosial adalah suatu kegiatan yang lebih diarahkan kepada pencapaian suatu situasi integrasi sosial. Karena itu kegiatan komunikasi sosial adalah lebih intensif dari pada komunikasi massa. Titik pangkal dari suatu komunikasi sosial karenanya adalah bahwa komunikator dan komunikan perlu seia dan sependapat tentang bahan/materi yang akan dibahas dalamkegiatan komunikasi yang akan dilangsungkan.
Ditinjau dari segi ini suatu komunikasi sosial akan berhasil bila kedua belah pihak yang terlibat dalam proses komunikasi ini menganggap adanya manfaat dalam kegiatan komunikasi tersebut. Melalui komunikasi sosial inilah terjadi aktualisasi dari masalah-masalah yang dibahas. Selain kesadaran dan pengathuan tentang materi yang dibahas makin meluas dan bertambah. Melalui komunikasi sosial sekaligus sosialisasi. Melalui komunikasi sosial, kelangsungan hidup dari suatu kelompok sosial akan terjamin. Melalui komuniaksi sosial nilai-nilai budaya luhur dalam masyarakat akan terus terpelihara. Dan melalui komunikasi soial kesadaran masyarakat akan dipupuk, dibina, diperluas, serta melalui komuniaksi sosial masalah-masalah sosial akan dipecahkan melalui konsesus[12].
Inilah peranan penting dari suatu masyarakat yang berkomunikasi satu sama lainnya. Artinya dari hal ini dapat difahamai bahwa komunikasi tidak hanya sebatas menyampaikan pesan dan berita kepada khalayak yang diajak untuk bicara. Lebih jauh dari itu, komunikasi ini memiliki peranan penting dalam menghidupkan fungsi-fungsi sosial yang ada dalam masyarakat. Justru melalui komunikasi inilah suatu tatanan dalam masyarakat  akan terbentuk.
Karena itulah masyarakat komuniksai yakni masyarakat yang senantiasa terbentuk suatu kesepahaman bersama dalam membentuk aturan-aturan yang kemudian mampu diterapkan sebagai norma yang mengikat bagi penduduknya. Demikian pula dengan dakwah yang selama ini sudah berlangsung. Jika dengan komunikasi dapat terbentuk suatu norma dalam masyarakat, bahkan lebih jauh lagi bisa memcahkan berbagai persoalan yang dihadapi  oleh masyarakat.
Nampaknya begitupun dakwah pula harus bisa menjangkau hingga terbentuknya tatanan atau pranata sosial Islam. Tidak cukup hanya dilakukan dimesjid-mesjid melainkan harus menjelma menjadi suatu kesatuan yang utuh dalam tatanan kehidupna. Maka melalui komunkiasi inilah dakwah sudah saat bisa disosialisasikan dengan baik dan tepat sasaran. Sehingga kehidupan menuju khairo ummah yang dicita-citakan oleh para aktifis dakwah, bukan lagi bahasa langit yang mengapung nun jauh disana. Akan tetapi perlahan nan pasti kedepan khairo ummah yang dimaksud dapat menjelma menjadi kenyataan. Mengkomunikasi dakwah dengan efektif dan tepat guna ialah solusi yang perlu dicoba terus agar pembentukan, masyarakat madani bisa dapat tercapai.



PENUTUP
Demikianlah uraian singkat dalam makalah ini, mengenai dakwah dan komunikasi. Yang pada intinya dimanapun dan kapanpun kegiatan dakwah ini tidak akan bisa lepas dari unsur komunikasi. Bahkan  ketika hanya diam dan memberi suri tauladan pun itu sudah termasuk proses komunikasi, yang para pakar sebut sebagai komunikasi nonverbal. Sehingga ketika dakwah ingin dilihat dalam sudut pandang komunikasi, maka dalam aplikasinya dakwah tidak bisa hanya perpegang pada patokan teologis.
Pendekatanyang lebih lunak dan humanis, bisa dijadikan acuan dalam penerapan dakwah yang dimaksud tadi. Sehingga dengan menggunkan teknik komuniaksi yang tepat dan efisien, diharapkan hasil akhir dari adanya dakwah ini mampu menjelma dalam tatana kehidupan yang penuh dengan keserasian anatar nilai-nilai keislaman yang tertuang dalam Al-Quran. Dengan amalam praksis yang bisa diamati secara langsung baik dalam urusan ibadah –duniawiyah, maupun ibadah yang bertendesi kepada Allah. Inilah renungan dakwah yang ingin penulis utarakan dalam makalah ini.















DAFTAR PUSTAKA

Alo Liliweri, Dr., M.S. Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: LKIS. 2009
Dedi Mulayana. Ilmu Komunikasi; suatu pengantar. Bandung: Remaja Rosda Karya. 2002
Joseph A Devito. Komunikasi antar Manusia. Jakarta: Profesional Books. 1997
Ujang Saefullah. Model Komunikasi Dakwah Jamaah Tabligh. Dalam Jurnal Ilmu Dakwah. Volume 4 No. 14 Juni-Desember 2009
HM Thoha Yahya Omar. Islam dan Dakwah.. Jakarta: Zakia Islami Pres. 2004
Sayamsu Munil Mulkam. Rekontruksi Pemikiran Dakwah Islam. Jakarta: Amzah. 2008
Newcom. Psikologi Sosial. Bandung: CV Diponegoro. 1985
T.A.Latihief Rousydiy. Rethorika Komunikasi dan Informasi. Medan: Firma Rimbow Medan. 1995








[1] HM Thoha Yahya Omar. Islam dan Dakwah. (Jakarta: Zakia Islami Pres, 2004) hal 67
[2] Sayamsu Munil Mulkam. Rekontruksi Pemikiran Dakwah Islam.( Jakarta : Amzah, 2008) hal 5
[3] Alo Liliweri, Dr., M.S. Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya. (Yogyakarta: LKIS, 2009) hal 3-4
[4] Newcom. Psikologi Sosial. (Bandung: CV Diponegoro, 1985) hal 294
[5]  Newcomb. Ibid. hal 294
[6] Dedi Mulayana. Ilmu Komunikasi; suatu pengantar. (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2002) hal 34
[7] Dedi Mulayana.Ibid. hal 140
[8] Joseph A Devito. Komunikasi antar Manusia. (Jakarta: Profesional Books, 1997) hal 232
[9] Ujang Saefullah. Model Komunikasi Dakwah Jamaah Tabligh. Dalam Jurnal Ilmu Dakwah. Volume 4 No. 14 Juni-Desember 2009
[10] T.A. Latihief Rousydiy. Rethorika Komunikasi dan Informasi. (Medan: Firma Rimbow Medan, 1995) hal 87
[11] T.A. Latihief Rousydiy. Ibid. hal 87-88
[12] T.A Lathief Rousydiy..Ibid .  hal 90

Tidak ada komentar:

Posting Komentar