DAKWAH DAN KOMUNIKASI PART2
(Prinsip-Prinsi Komunikasi dalam Islam)
Matkul : Kapita Selekta Islam dan Komunikasi
Penerapan Komunikasi dalam Islam
Dalam
berdakwah, tetunya semua dai dan mubaligh berkomunikasi dengan jamaahanya. Tak
satupun mubaligh yang hendak berdakwah ia tidak melakukan proses komunikasi. Dakwah
dengan lisan (komunikasi verbal) adalah salah satu cara dai/mubaligh untuk
menyampaikan ide dan gagasan dalam dakwahnya. Sejak awal aquran telah
memberikan batasan pada manusia untuk melakukan komunikasi (dakwah) kepada
masyarakat sesuai dengan kapasitas keilmuan masyarakat tersebut. Tentunya
factor budaya menjadi salah satu pertimbangan dalam proses dakwah yang
disampaikan. Jangan samapai komunikasi yang disampaikan oleh para mubaligh
tidak sesuai dengan dinamuka budaya yang berkembang di suatu masyarakat
tersebut.
Rasululah
telah memberikan isyarat bahwa dalam berakwah dan berkomuniaksi dengan
masyarakat itu harus esuai dengan takarannya “ala qadri uqulihim” hadis tersebut memberikan isyarat pada kita
untuk cerdas melihat budaya yang berkembang di suatu masyarakat, maka hakikat
komunikasi dalam islam yakni mengenal budaya dan kebiasaan masyarakat tersebut
sebelum jauh melakukan proses dialog secara panjang. Maka pendekatan komunikasi
lintas budaya menjadi elemen penting dalam penguasaan konsep komunikasi di
dalam islam. Dimana kita fahami bahwa Komunikasi Lintas budaya adalah proses dimana dialihkan
ide atau gagasan suatu budaya yang satu kepada budaya yang lainnya dan
sebaliknya, dan hal ini bisa antar dua kebudayaan yang terkait ataupun lebih,
tujuannya untuk saling mempengaruhi satu sama lainnya, baik itu untuk kebaikan
sebuah kebudayaan maupun untuk menghancurkan suatu kebudayaan, atau bisa jadi
sebagai tahap awal dari proses akulturasi (penggabungan dua kebudayaan atau
lebih yang menghasilkan budaya baru.
Dalam menympaikan pesan-pesan risalahnya, tentu
tidak bias berdiri sendiri hanya dengan mengaIndalkan lisan, melainkan komunikasi yang efektif
begitu dibutuhkan dalam dakwah. Melalui kounikasi yang efektif inilah seorang
mubaligh akan mendapat feedback dari jamaahnya. Ketika proses komuikasi ini
terjadi,terdapat feedback dari jamaahnya, maka ketika itu dakwah sudah terjalin
dua arah, dimana komunikator dengan mudah mengekpresikan perasaannya,
memelihara kedekatan, mengatur suara, serta merumuskan pesan untuk menyapa
audiennya, Karena itu mudah difahami bahwa aplikasi komunikasi bagi para
mubaligh sangat bermanfaat dalam rangka menyampaikan pesan-pesan agama kepada
para jamaahnya.
Seperti jiga para wali yang menyenandungkan
pesan-pesan itu lewat uara gamelan yang sesuai dengan jamananya. Seperti
diisyaratkan oleh sejarah, para wali adalah komunikator handal yang cerdas
membaca zaman sekaligus pandai memanfaatkan bahsa umatnya. Juru dakwah,
mubaligh, penyeru agama dan wali adalah actor komunikasi yang piawai
menyampaikan pesan-pesan Tuhan dalam Bahasa yang mudah diterima.
Peran Jurnalis dalam Komunikasi Islam
The Council on American Islamic Relations (CAIR) merasa perlu berterima kasih pada CNN atas poeran positifnya
dalam menyebarkan informasi islam ecara objektif dan terbuka. Penyerluasan
islam seperti yang dilakukan oleh CAIR dilakukan karena situasinya dipandang
positif, terutama setelah opini public terbentuk. CNN telah membentuk citra
baru tentang islam yang berbeda dari bangunan citra sebelumnya. Halini
menunjukan bahwa peran jurnalis dalammenyebarkan pesan-pesan keisalaman cukup
efektif di amerika. Komunikasi islam melalui para jurnalis begitu memiliki
peranan penting dalam perkembangan islam di Amerika juga berperan aktif dalam
membangun citra islam di Amerika.
Terlebih lagi pada era informasi seperti sekarang
ini, usaha tersebut menjadi sangat mudah karena di dukung oleh tersedianya
media massa yang memadai. Peranan jurnalis alam mengkomunikasikan islam sangat
terbuka, peristiwa yang berkaiatand engan dunia islam baik itu politik sosiall
dan ekonomi, dapat disebarluaskan denganmudah melalui teknologi komunikasi dan
informasi. Penggunaan media sebagai alat propaganda sudah tidak dapat lagi di
bending, media menjelma menjadi alat untuk menusuk dan m,enikam lawan.
Mc Luhan yang terkenal dengan teori perpanjangan
tangan alat indra, menyebutkan bahwa media merupakan perluasan dari alat indra.
Melalui media kita bias menikmati peristiwa-peristiwa dunia yang terjadi pada
saat yang sama telinga kita bias memanjangkan sketika dengan bantuan telepon,
seoarang mubaligh dapat menyampikan pesan-pesan agamanya melalui media massa
yang ada. Dengan adanya seperti itu, sejatiya setiap juru dkwah dapat
menyebarluaskan dakwahnya keberbagai pelosok negeri tanpa perlu memikirkan
transportasi lagi. Karena sentuhan-sentuhan komunkasi dengan jamaahnya dapat di
maksimalkan melalui media yang tersedia, baik melalui media elektronik maupun
media maya.
Melalui cara seperti itu, seorang mubaligh dapat
mengkomunikasikan pean-pesan keislamannya pada ruang dan tempo yang sama dapat
menjangkau ratusan, bahkan jutaan public pembaca ataupun pendengar. Media
jurnalistik telah memainkan peranan yang cikup besar bagi kpentingan dakwah
islam. Pada sisi ini lah dipandang perlunya kemampuan jurnalistik dimiliki oleh
lembaga-lembaga dkwah islam. Karena melalui pemahaman kan jurnalistiklah mereka
dapat mengolah pesan dan menyampaikan pesan-pesan quran kepada seluruh khalayak
dengan tepat guna dan tepat sasaran.
Pers dan Penyebaran Pesan-Pesan Agama
Pers, baik
itu cetak maupun elektronik merupakan media alternative yang efektif untuk
dijadikan alat komunikasi massa. Efektif karena kekuatan daya persuasinya yang
mampu menembus daya rasa dan daya piker para pembaca dan pendengarnya. Efisien
karena pembaya dan pendengarnya sangat luas bias menjangkau puluhan bahkan
jutaan pendengar dalam satu kali siaran. Munculnya pers yang bernuansa agama
mengindikasikan bahwa adanya respon positif atas kecenderungan masyarakat dalam
beragama. Maalah-masalah yang menyangkut pemahaman keagamaan, pembaharuan
pemikiran islam, aspirasi umat dan lain-laian akan dpat dengan mudah di kaji
dan didekati dengan kacamata dan melalui media komunikasi.
Ronal
Compesi, pernah melakukan risset media massa pada program televise All My
Children di Oregon Amerika. Hasil yang didapat dari 221 penonton acara tersebut
bahwa salah satu alasan mereka menonton acara tersebut yakni untuk melarikan
diri dari masalah yang dihadapinya. Karena mereka membutuhkan nasihat-nasihat
yang terdapat dalam acara tersebut. Hal ini menunjukan bahw kebutuhan
spiritualitas semakin meningkat, maka komunikasi yang efektif melalui
program-program media massa perlu di tingkatkan kualitas dan kuantitasnya.
Fenomena
semakin derasnya arus sajian rubric keagamaan pada media massa, baik cetak
maupun elektronik telah mendorong para pemogram acara ataupun pengasuh rubric
untuk lebih serius mengelola pesan dakwahnya di media.
Disini
diperlukan suatu metode yang tepat bagaimana seseorang mampu menyiasati massa
melalui penggunaansuatu media. Bagi para juru dakwah bagaimana mereka mampu
menafaatkan media itu sevara tepat, memindahkan bahsa mimbar menjadi Bahasa
koran, mendesaian gaya tabligh akbar dilapangan terbuka menjadi suatu program
acara mimbar agama islam di televise yangsingkat tetapi menarik perhatian
pemirsa. Begitupun dalam merancang dakwah di media-medai social berbasis
internet, kemapuan seorang dai dalam merancang program dakwahnya patut di
perhitungkan, itu semua dapatterjadi jika semua elemen islam memahami
pentingnya dan urgensi komunikasi massa.
Itulah
sebabnya untuk mewujudkan rancangan ideal sajian agama di media massa, perlu
terus dikembangkan kolaborasi produktif antara ulama dan media massa. Ulama
menanfaatkan media massa lewat usaha merumuskan tema-tema keagamaan untuk
dikomunikasikan kepada masyarakat, dan insan pers juga dapat meningkatkan
pengetahuannya dalam menterjemahkan tema-tema itu kedalam pesan-pesan
komunikasi agama yang lebih universal.
Lewat media
massa juru dakwah dapat mengunjungi rumah-rumah, kantor-kantor bahkan kamar
rahasia sekalipun, untuk membisikan pesan etika dan moral. Melalui pesan-pesan
persuasinya media massa akan menghadirkan nilai-nilai moral dan agama secara
universal, sekaligus menghindario munculnya kesan eklusif. Globalisasi
informasi yang berkembang saat ini tidak menutup kemungkinan akan mengahirkan
phenomena baru. Bahwa bukan hanya umat islam yang akan mengkonsumsi
materi-materi dakwh yang disamapikananya, bias jadi umat di luar islam puna kan
mengakses hal yang sama. Mereka dapat denga mudah membaca mengamati dan
mengkaji aajaran-ajaran islam yang disampaikan melalui media massa.
Oh begitu ya ternyata ada relevansi juga dakwah dan komunikasi
BalasHapusIde bagus terimakasih artikelnya di tunggu update ilmunya
BalasHapustrimakasih..mudah-mudahan sy bisa nulis lagi ya tunggu aja atikel berikutnya
HapusTrimakasih ijin copas ya...
BalasHapussilahkan moga bermanfaat
HapusOk trims.....
BalasHapus