Oleh : Ahmad Rifai
Apa Dan Mengapa
Dengan Komunikasi
Komunikasi
merupakan suatu proses sosial yang sangat mendasar dan vital dalam kehidupan
manusia. Dikatakan mendasar karena setiap masyarakat manusia, baik yang
primitif maupun yang modern, berkeinginan mempertahankan suatu persetujuan
mengenai berbagai aturan sosial melalui komunikasi. Dikatakan vital karena
setiap individu memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan individu –
individu lainnya sehingga meningkatkan kesempatan individu itu untuk tetap
hidup (Rakhmat, 1998:1). Kata komunikasi atau communication dalam bahasa
Inggris berasl dari bahasa Latin communis yang berarti
“sama”, communico,
communicatio, atau communicare yang berarti “membuat sama”
(to
make common).
Istilah pertama (communis)
adalah
istilah yang paling sering sebagai asal usul komunikasi, yangmerupakan
akar dari kata-kata Latin lainnya yang mirip. Komunikasi menyarankan
bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama
(Mulyana, 2005 : 4).
Secara
paradigmatis, komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh
seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau mengubah sikap, pendapat,
atau perilaku, baik langsung secara lisan maupun tak langsung melalui media
(Effendy, 2006 : 5). Masih menurut Muyana, beliau memberikan makna komunikasi
dari sudut yang lain. Beberapa pengertian komunikasi terkadang difahami dalam sudut
yang sempit seperti komunikasi adalah penyampaian pesan, atau dimaknai teralu
luas sebagai proses interaksi antar dua mahluk. Sehingga pelaku komunikasi
tersebut bermakna lebih luas lagi bisa manusia, bisa hewan tumbuhan bahkan Jin.
Sejatinya makna komunkasi tidak sesempit itud an tidak pula seluas yang kita
bayangkan. Ada tigapemahaman mengenai komunikasi yakni komunikasi sebagai
tindakan satu arah, komunikasi sebagai interaksi dan komunikasi sebagai
transaksi (Mulyana, 2002;60).
Definisi spiritualitas
menurut beberapa ahli :
·
Parks menggambarkan spiritualitas sebagai
sebuah pencarian personal untuk menjadi berarti, transenden, menyadari
keseluruhan jiwa, mencari tujuan, dan memahami spirit sebagai yang menghidupkan
esensi pada hidup. Dewit-Weaver (dalam McEwen, 2004) mendefinisikan spiritualitas sebagai
bagaian dari dalam diri individu (core of individuals) yang tidak terlihat
(unseen, invisible) yang berkontribusi terhadap keunikan serta dapat menyatu dengan
nilai-nilai transendental (suatu kekuatan yang maha tinggi/high power dengan
Tuhan/God) yang memberikan makna, tujuan, dan keterhubungan.
·
Spiritualitas juga didefinisikan sebagai
suatu tindakan untuk membuat dan mencari makna melalui rasa keterhubungan pada
dimensi yang melebihi diri sendiri (Reed, dalam McEwen, 2004). Definisi lain menyatakan bahwa spiritualitas adalah
prinsip hidup seseorang untuk menemukan makna dan tujuan hidup serta hubungan
dan rasa keterikatan dengan sesuatu yang misteri, maha tinggi, Tuhan, atau
sesuatu yang universal (Burkhardt, dalam McEwen 2004).
·
Tischler (2002) mengatakan bahwa spiritualitas mirip
dengan suatu cara yang berhubungan dengan emosi atau perilaku dan sikap
tertentu dari seorang individu. Menjadi seorang yang spiritual berarti zmenjadi
seorang yang terbuka, memberi, dan penuh kasih. Larson (2003) menyatakan bahwa spiritualitas mengacu
kepada orientasi seseorang terhadap pengalaman-pengalaman transedensi atau
karakteristik hakiki dari kehidupan, seperti makna, arah dan tujuan hidup,
serta keterkaitannya. Kadang-kadang spiritualitas mengacu pada pencarian
hal-hal suci dalam kehidupan.
·
Spiritualitas merupakan sebuah bentuk multidimensi dan dinamis. Emmons (2003)
mengatakan bahwa sangatlah terlalu sederhana untuk mengangg’ap spiritualitas
sebagai tingkah laku yang pasif « lencarian aktivitas-aktivitas yang
mengembalikan seseorang kepada rasa keterpaduan (coherence), menuju kualitas
keutuhan dan kedamaian dalam diri.
·
Beberapa
ahli menyamakan konsep spiritualitas dengan agama atau praktik-praktik
keagamaan (Emblen & Halstead, 1993; dalam Smith, 1994). Menurut mereka,
spiritualitas tidak bertentangan dengan agama, tetapi spiritualitas merupakan
fenomena yang lebih inklusif. Bagi beberapa individu, spiritualitas bisa
dihubungkan serta diungkapkan melalui agama formal, sedangkan bagi sebagian
individu yang lain, spiritualitas dianggap tidak berkaitan dengan
keyakinan-keyakinan keagamaan ataupun afiliasi keagamaan yang lainnya (Elkins,
et al. 1998, dalam Smith 1994).
Secara
eksplisit, Piedmont (2001) memandang spiritualitas sebagai rangkaian
karakteristik motivasional (motivational trait), kekuatan emosional umum yang
mendorong, mengarahkan, dan memilih beragam tingkah laku individu. Lebih jauh,
Piedmont (2001) mendefinisikan spiritualitas sebagai usaha individu untuk
memahami sebuah makna yang luas akan pemaknaan pribadi dalam konteks kehidupan
setelah mati (eschatological). Elkins, dkk
(dalam Smith, 1994) mendeskripsikan spiritualitas dari perspektif humanis dan
eksistensial dengan menciptakan definisi dari tulisan- tulisan Maslow, Dewey,
dan Frankl tentang potensi-potensi positif manusia. Elkins, dkk. kemudian
memandang spiritualitas sebagai suatu fenomena yang secara potensial berada di
dalam diri setiap manusia. Menurut mereka, spiritualitas dapat diartikan
sebagai jalan untuk menjadi serta mengalami kesadaran spiritual yang diperoleh
melalui kesadaran dimensi transendental yang ditandai oleh nilai-nilai yang
mampu diidentifikasi baik yang datang dari diri sendiri, orang lain, alam,
kehidupan maupun nilai-nilai yang mengarahkan seseorang untuk mencapai tujuan
puncak (Ultimate).
Dimensi Spiritualitas
Elkins, dkk (dalam Smith, 1994) menjelaskan adanya sembilan dimensi dalam
spiritualitas yang berdasarkan studi literatur yang telah dilakukannya adalah
sebagai berikut :
- Dimensi transenden
Orang spiritual
memiliki kepercayaan/belief berdasarkan eksperensial bahwa ada dimensi
transenden dalam hidup. Kepercayaan/belief disini dapat berupa perspektif
tradisional/agama mengenai Tuhan sampai perspektif psikologis bahwa dimensi
transenden adalah eksistensi alamiah dari kesadaran diri dari wilayah
ketidaksadaran atau greater self. Orang spiritual memiliki pengalaman
transenden atau dalam istilah Maslow “peak experience”. Individu melihat apa
yang dilihat tidak hanya apa yang terlihat secara kasat mata, tetapi juga dunia
yang tidak dapat terlihat.
- Dimensi Makna dan Tujuan hidup.
Orang spiritual
akan memiliki makna hidup dan tujuan hidup yang timbul dari keyakinan bahwa
hidup itu penuh makna dan orang akan memiliki eksistensi jika memiliki tujuan
hidup. Secara aktual, makna dan tujuan hidup setiap orang berbeda‐beda atau
bervariasi, tetapi secara umum mereka mampu mengisi “exixtential vacuum” dengan
authentic sense bahwa hidup itu penuh makna dan tujuan.
- Dimensi Misi Hidup.
Orang spiritual
merasa bahwa dirinya harus bertanggung jawab terhadap hidup. Orang spiritual
termotivasi oleh metamotivasi, yang berarti mereka dapat memecah misi hidupnya
dalam target-target konkrit dan tergerak untuk memenuhi misi tersebut.
- Dimensi Kesucian Hidup.
Orang spiritual
percaya bahwa hidup diinfus oleh kesucian dan sering mengalami perasaan
khidmad, takzim, dan kagum meskipun dalam setting nonreligius. Dia tidak
melakukan dikotomi dalam hidup (suci dan sekuler; akhirat dan duniawi), tetapi
percaya bahwa seluruh kehidupannya adalah akhirat dan bahwa kesucian adalah
sebuah keharusan. Orang spiritual dapat sacralize atau religionize dalam
seluruh kehidupannya.
- Dimensi nilai-nilai
material/material values.
Orang spiritual dapat mengapresiasi material good seperti uang dan
kedudukan, tetapi tidak melihat kepuasan tertinggi terletak pada uang atau
jabatan dan tidak mengunakan uang dan jabatan untuk menggantikan kebutuhan
spiritual. Orang spiritual tidak akan menemukan kepuasan dalam materi
tetapi kepuasan diperoleh dari spiritual.
- Dimensi Altruisme.
Orang spiritual
memahami bahwa semua orang bersaudara dan tersentuh oleh penderitaan orang
lain. Dia memiliki perasaan/sense kuat mengenai keadilan sosial dan komitmen
terhadap cinta dan perilaku altrusitik.
- Dimensi Idealisme.
Orang spiritual
adalah orang yang visioner, memiliki komitmen untuk membuat dunia menjadi lebih
baik lagi. Mereka berkomitmen pada idealisme yang tinggi dan mengaktualisasikan
potensinya untuk seluruh aspek kehidupan.
- Dimensi Kesadaran Akan Adanya Penderitaan.
Orang spiritual
benar‐benar menyadari adanya penderitaan dan kematian. Kesadaran ini
membuat dirinya serius terhadap kehidupan karena penderitaan dianggap sebagai
ujian. Meskipun demikian, kesadaran ini meningkatkan kegembiraan, apresiasi dan
penilaian individu terhadap hidup.
- Hasil dari spiritualitas
Spiritualitas
yang dimiliki oleh seseorang akan mewarnai kehidupannya. Spiritualitas yang
benar akan berdampak pada hubungan individu dengan dirinya sendiri, orang lain,
alam, kehidupan dan apapun yang menurut individu akan membawa pada Ultimate.
Kemudian Smith (1994) merangkum
sembilan aspek spiritualitas yang diungkapkan oleh Elkins, dkk. tersebut
menjadi empat aspek sebagaimana berikut:
- Merasa yakin bahwa hidup sangat bermakna. Hal ini mencakup rasa memiliki misi dalam hidup.
- Memiliki sebuah
komitmen terhadap aktualisasi potensi-potensi positif dalam setiap aspek
kehidupan. Hal ini mencakup kesadaran bahwa nilai-nilai spiritual
menawarkan kepuasan yang lebih besar dibandingkan nilai-nilai material,
serta spiritualitas memiliki hubungan integral dengan seseorang, diri sendiri,
dan semua orang.
- Menyadari akan
keterkaitan dalam kehidupan. Hal ini mencakup kesadaran akan musibah
dalam kehidupan dan tersentuh oleh penderitaan orang lain.
- Meyakini bahwa berhubungan dengan dimensi
transendensi adalah menguntungkan. Hal ini mencakup perasaan bahwa segala
hal dalam hidup adalah suci.
Sementara itu, Piedmont (2001)
mengembangkan sebuah konsep spiritualitas yang disebutnya sebagai Spiritual
Transcendence, yaitu kemampuan individu untuk berada di luar pemahaman dirinya
akan waktu dan tempat, serta untuk melihat kehidupan dari perspektif yang lebih
luas dan objektif. Perpektif transendensi tersebut merupakan suatu perspektif
di mana seseorang melihat satu kesatuan fundamental yang mendasari beragam
kesimpulan akan alam semesta. Konsep ini terdiri atas tiga aspek, yaitu:
- Prayer Fulfillment (pengamalan
ibadah), yaitu sebuah perasaan gembira dan bahagia yang disebabkan oleh
keterlibatan diri dengan realitas transenden.
- Universality (universalitas),
yaitu sebuah keyakinan akan kesatuan kehidupan alam semesta (nature of
life) dengan dirinya.
- Connectedness (keterkaitan),
yaitu sebuah keyakinan bahwa seseorang merupakan bagian dari realitas
manusia yang lebih besar yang melampaui generasi dan kelompok tertentu.
Komunikasi
Spiritual dalam Islam
Sebagai
agama wahyu, tentunya islam memilki konsep besar dalam makna spiritual. Didalam
islam spiritual dimaknai sebagai bentuk ketundukan pada sang Khalik. Bentuk tersebut
diwujudkan dalam ibadah yang menajdi ciri umat islam. Ibadah dalam islam adalah
bukti spiritualitas dalam beragama. Agama memang tak pernah bisa dilepaskan dari kerohanian
(spiritualitas). Agama tanpa spiritualitas bukanlah agama, hanya simbol-simbol
tanpa makna. Dan, karena itu, ia tiak melahirkan dampak apa-apa. Bahkan,
sungguh tak perlu ada keraguan untuk mengatakan: alpha-omega agama adalah
kerohaniahan. Bermula dari janji keimanan kepada Tuhan, yang diikrarkan saat
(cikal) manusia masih bersifat rohani dan berakhir ketika manusia menjadi
sepenuhnya rohani lagi setelah mati.
Ibadah kurban adalah sebuah ritus yang
memberikan pelajaran simbolik akan keikhlasan dan kepasrahan/kelurusan (hanifiyah)
dari Ibrahim dan Ismail (Ishak). Ia memang sepenuhnya melibatkan aspek batin
atau kerohaniahan manusia Ibrahim dan anaknya, bukan ritual pengorbanan yang
bersifat fisik belaka. Bahkan, kenyataan bahwa pengorbanan anak manusia itu
sendiri dibatalkan oleh Tuhan dan digantikan dengan seekor domba membuktikan,
yang bersifat fisik hanyalah simbol belaka. “Daging-daging dan darah (hewan
kurban) tak sekali-kali dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaan (kesadaran
keilahian) (yang mendasari ibadah kurban itu)-mu itulah yang akan mencapai-Nya
(Q.S 22:37). Yakni, kesadaran keilahian yang sepenuhnya bersifat maknawi
atau rohani itu. Ketakwaan itulah yang menjadi makna spiritualitas dalam islam,
muara dari semua ibadah yakni munculnya derajat takwa dalam diri seorang
muslim.
Berdasarkan paradigma Laswell, komunikasi
adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media
menimbulkan efek tertentu. (Effendy, 2007:7). Berbagai defenisi spiritual
menurut sudut pandang masing-masing. Mahmoodishan (2010) dan Vlasblom (2012)
mendefenisikan spiritualitas merupakan konsep yang luas, sangat subjektif dan
individualis, diartikan dengan cara yang berbeda pada setiap orang.
Spiritualitas adalah kepercayaan seseorang akan adanya Tuhan, dan kepercayaan
ini menjadi sumber kekuatan pada saat sakit sehingga akan mempengaruhi
keyakinannya tentang penyebab penyakit, proses penyembuhan penyakit dan memilih
orang yang akan merawatnya (Blais et al, 2002; Hamid, 2008).
Spiritual
mengandung makna rohaniah atau batin. Selalu berkata jujur, tidak pernah bohong
(Saefullah, 2007). Menurut Nina syam (2006) komunikasi spiritual adalah
komunikasi yang terjadi antara manusia dan Tuhan atau berkenaan dengan agama,
melalui amalan-amalan batin, seperti sholat, berdoa zikir dan lain-lain. komunikasi
dalam spritual adalah bentuk komunikasi kita dengan sang pencipta. Bentuk yang
paling konkritnya adalah doa, dari sabda Rasulullah doa adalah ibadah. Dari
hadits tersebut dapat kita telaah dalam setiap ibadah-ibadah yang telah kita
lakukan selalu terkandung doa didalamnya yang kita lakukan untuk berkomunikasi
dengan-Nya baik itu membaca Al-Quran, berdzikir, shalat, berzakat, berpuasa,
dan berhaji.
Secara
sederhana komunikasi spiritual dapat digambarkan dalam model stimulu srespon.
Model S-R adalah moidel komuniksi spiritual, karena pada dasarnya manusi
amelakukan komunikasi langsung dengan Allah SWT.
|
Komunikator
(Doa,Salat,Dll)
|
|
Allah SWT
|
|
Doa Dikabul
|
Dari
model S-R daiatas, dapat difahami bahwa bentuk stimulus dari adanya komunikasi
spiritual yakni adanya kebutuhan manusia akan hajat hidupnya. Maka manusia
sebagai komunikator melakujkan deliveri massage kepada Allah SWT, melalui
ibadah ritual, apakah salat, zakat hajai dan doa sekalipuin. Ketika hamba
berdoa maka ketika itupu;la ia sedang melakukan komunikasi spiritual dengan
snga Khalik. Pesan yang diterima oleh Allah berupa permohonan ampunan, dosa,
atyau keinginan yang diinginkan oleh hambanya.
Perbedaan
yakni terletak pada respon yang diberikan oleh Allah SWT, jika dalam komunikasi
antar manusia pesan tersebut didapat dari komunikator direspon berup[a
tanggapan atau perubahan sikap dan prilaku. Namun dalam komunikasi spiritual
respon tersebut di jawab oleh Allah berupa dikabulkannya doa dan harapan yang
dimaksud. Respon berikutnya disamapaikan oleh Allah berupa balasan yang
setimpal atas segala kebaikan yang pernah ditanam manusia selama hidupnya.
Walahualam
bishowab