Laman

Kamis, 01 November 2018

Komunikasi Spiritual Dalam Islam



Oleh : Ahmad Rifai

Apa Dan Mengapa Dengan Komunikasi
Komunikasi merupakan suatu proses sosial yang sangat mendasar dan vital dalam kehidupan manusia. Dikatakan mendasar karena setiap masyarakat manusia, baik yang primitif maupun yang modern, berkeinginan mempertahankan suatu persetujuan mengenai berbagai aturan sosial melalui komunikasi. Dikatakan vital karena setiap individu memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan individu – individu lainnya sehingga meningkatkan kesempatan individu itu untuk tetap hidup (Rakhmat, 1998:1). Kata komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris berasl dari bahasa Latin communis yang berarti “sama”, communico, communicatio, atau communicare yang berarti “membuat sama” (to make common). 
Istilah pertama (communis) adalah istilah yang paling sering sebagai asal usul komunikasi, yangmerupakan akar dari kata-kata Latin lainnya yang mirip. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama (Mulyana, 2005 : 4).

Secara paradigmatis, komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik langsung secara lisan maupun tak langsung melalui media (Effendy, 2006 : 5). Masih menurut Muyana, beliau memberikan makna komunikasi dari sudut yang lain. Beberapa pengertian komunikasi terkadang difahami dalam sudut yang sempit seperti komunikasi adalah penyampaian pesan, atau dimaknai teralu luas sebagai proses interaksi antar dua mahluk. Sehingga pelaku komunikasi tersebut bermakna lebih luas lagi bisa manusia, bisa hewan tumbuhan bahkan Jin. Sejatinya makna komunkasi tidak sesempit itud an tidak pula seluas yang kita bayangkan. Ada tigapemahaman mengenai komunikasi yakni komunikasi sebagai tindakan satu arah, komunikasi sebagai interaksi dan komunikasi sebagai transaksi (Mulyana, 2002;60).

Definisi spiritualitas menurut beberapa ahli :
·         Parks menggambarkan spiritualitas sebagai sebuah pencarian personal untuk menjadi berarti, transenden, menyadari keseluruhan jiwa, mencari tujuan, dan memahami spirit sebagai yang menghidupkan esensi pada hidup. Dewit-Weaver (dalam McEwen, 2004) mendefinisikan spiritualitas sebagai bagaian dari dalam diri individu (core of individuals) yang tidak terlihat (unseen, invisible) yang berkontribusi terhadap keunikan serta dapat menyatu dengan nilai-nilai transendental (suatu kekuatan yang maha tinggi/high power dengan Tuhan/God) yang memberikan makna, tujuan, dan keterhubungan.
·         Spiritualitas juga didefinisikan sebagai suatu tindakan untuk membuat dan mencari makna melalui rasa keterhubungan pada dimensi yang melebihi diri sendiri (Reed, dalam McEwen, 2004). Definisi lain menyatakan bahwa spiritualitas adalah prinsip hidup seseorang untuk menemukan makna dan tujuan hidup serta hubungan dan rasa keterikatan dengan sesuatu yang misteri, maha tinggi, Tuhan, atau sesuatu yang universal (Burkhardt, dalam McEwen 2004).
·         Tischler (2002) mengatakan bahwa spiritualitas mirip dengan suatu cara yang berhubungan dengan emosi atau perilaku dan sikap tertentu dari seorang individu. Menjadi seorang yang spiritual berarti zmenjadi seorang yang terbuka, memberi, dan penuh kasih. Larson (2003) menyatakan bahwa spiritualitas mengacu kepada orientasi seseorang terhadap pengalaman-pengalaman transedensi atau karakteristik hakiki dari kehidupan, seperti makna, arah dan tujuan hidup, serta keterkaitannya. Kadang-kadang spiritualitas mengacu pada pencarian hal-hal suci dalam kehidupan.
·         Spiritualitas merupakan sebuah bentuk multidimensi dan dinamis. Emmons (2003) mengatakan bahwa sangatlah terlalu sederhana untuk mengangg’ap spiritualitas sebagai tingkah laku yang pasif « lencarian aktivitas-aktivitas yang mengembalikan seseorang kepada rasa keterpaduan (coherence), menuju kualitas keutuhan dan kedamaian dalam diri.
·         Beberapa ahli menyamakan konsep spiritualitas dengan agama atau praktik-praktik keagamaan (Emblen & Halstead, 1993; dalam Smith, 1994). Menurut mereka, spiritualitas tidak bertentangan dengan agama, tetapi spiritualitas merupakan fenomena yang lebih inklusif. Bagi beberapa individu, spiritualitas bisa dihubungkan serta diungkapkan melalui agama formal, sedangkan bagi sebagian individu yang lain, spiritualitas dianggap tidak berkaitan dengan keyakinan-keyakinan keagamaan ataupun afiliasi keagamaan yang lainnya (Elkins, et al. 1998, dalam Smith 1994).
 Secara eksplisit, Piedmont (2001) memandang spiritualitas sebagai rangkaian karakteristik motivasional (motivational trait), kekuatan emosional umum yang mendorong, mengarahkan, dan memilih beragam tingkah laku individu. Lebih jauh, Piedmont (2001) mendefinisikan spiritualitas sebagai usaha individu untuk memahami sebuah makna yang luas akan pemaknaan pribadi dalam konteks kehidupan setelah mati (eschatological).        Elkins, dkk (dalam Smith, 1994) mendeskripsikan spiritualitas dari perspektif humanis dan eksistensial dengan menciptakan definisi dari tulisan- tulisan Maslow, Dewey, dan Frankl tentang potensi-potensi positif manusia. Elkins, dkk. kemudian memandang spiritualitas sebagai suatu fenomena yang secara potensial berada di dalam diri setiap manusia. Menurut mereka, spiritualitas dapat diartikan sebagai jalan untuk menjadi serta mengalami kesadaran spiritual yang diperoleh melalui kesadaran dimensi transendental yang ditandai oleh nilai-nilai yang mampu diidentifikasi baik yang datang dari diri sendiri, orang lain, alam, kehidupan maupun nilai-nilai yang mengarahkan seseorang untuk mencapai tujuan puncak (Ultimate).
Dimensi Spiritualitas
Elkins, dkk (dalam Smith, 1994) menjelaskan adanya sembilan dimensi dalam spiritualitas yang berdasarkan studi literatur yang telah dilakukannya adalah sebagai berikut :
  1. Dimensi transenden
Orang spiritual memiliki kepercayaan/belief berdasarkan eksperensial bahwa ada dimensi transenden dalam hidup. Kepercayaan/belief disini dapat berupa perspektif tradisional/agama mengenai Tuhan sampai perspektif psikologis bahwa dimensi transenden adalah eksistensi alamiah dari kesadaran diri dari wilayah ketidaksadaran atau greater self. Orang spiritual memiliki pengalaman transenden atau dalam istilah Maslow “peak experience”. Individu melihat apa yang dilihat tidak hanya apa yang terlihat secara kasat mata, tetapi juga dunia yang tidak dapat terlihat.
  1. Dimensi Makna dan Tujuan hidup.
Orang spiritual akan memiliki makna hidup dan tujuan hidup yang timbul dari keyakinan bahwa hidup itu penuh makna dan orang akan memiliki eksistensi jika memiliki tujuan hidup. Secara aktual, makna dan tujuan hidup setiap orang berbedabeda atau bervariasi, tetapi secara umum mereka mampu mengisi “exixtential vacuum” dengan authentic sense bahwa hidup itu penuh makna dan tujuan.
  1. Dimensi Misi Hidup.
Orang spiritual merasa bahwa dirinya harus bertanggung jawab terhadap hidup. Orang spiritual termotivasi oleh metamotivasi, yang berarti mereka dapat memecah misi hidupnya dalam target-target konkrit dan tergerak untuk memenuhi misi tersebut.
  1. Dimensi Kesucian Hidup.
Orang spiritual percaya bahwa hidup diinfus oleh kesucian dan sering mengalami perasaan khidmad, takzim, dan kagum meskipun dalam setting nonreligius. Dia tidak melakukan dikotomi dalam hidup (suci dan sekuler; akhirat dan duniawi), tetapi percaya bahwa seluruh kehidupannya adalah akhirat dan bahwa kesucian adalah sebuah keharusan. Orang spiritual dapat sacralize atau religionize dalam seluruh kehidupannya.
  1. Dimensi nilai-nilai material/material values.
Orang spiritual dapat mengapresiasi material good seperti uang dan kedudukan, tetapi tidak melihat kepuasan tertinggi terletak pada uang atau jabatan dan tidak mengunakan uang dan jabatan untuk menggantikan kebutuhan spiritual. Orang spiritual tidak akan menemukan kepuasan dalam materi tetapi kepuasan diperoleh dari spiritual.
  1. Dimensi Altruisme.
Orang spiritual memahami bahwa semua orang bersaudara dan tersentuh oleh penderitaan orang lain. Dia memiliki perasaan/sense kuat mengenai keadilan sosial dan komitmen terhadap cinta dan perilaku altrusitik.
  1. Dimensi Idealisme.
Orang spiritual adalah orang yang visioner, memiliki komitmen untuk membuat dunia menjadi lebih baik lagi. Mereka berkomitmen pada idealisme yang tinggi dan mengaktualisasikan potensinya untuk seluruh aspek kehidupan.
  1. Dimensi Kesadaran Akan Adanya Penderitaan.
Orang spiritual benarbenar menyadari adanya penderitaan dan kematian. Kesadaran ini membuat dirinya serius terhadap kehidupan karena penderitaan dianggap sebagai ujian. Meskipun demikian, kesadaran ini meningkatkan kegembiraan, apresiasi dan penilaian individu terhadap hidup.
  1. Hasil dari spiritualitas
Spiritualitas yang dimiliki oleh seseorang akan mewarnai kehidupannya. Spiritualitas yang benar akan berdampak pada hubungan individu dengan dirinya sendiri, orang lain, alam, kehidupan dan apapun yang menurut individu akan membawa pada Ultimate.
Kemudian Smith (1994) merangkum sembilan aspek spiritualitas yang diungkapkan oleh Elkins, dkk. tersebut menjadi empat aspek sebagaimana berikut:
  1. Merasa yakin bahwa hidup sangat bermakna. Hal ini mencakup rasa memiliki misi dalam hidup.
  2. Memiliki sebuah komitmen terhadap aktualisasi potensi-potensi positif dalam setiap aspek kehidupan. Hal ini mencakup kesadaran bahwa nilai-nilai spiritual menawarkan kepuasan yang lebih besar dibandingkan nilai-nilai material, serta spiritualitas memiliki hubungan integral dengan seseorang, diri sendiri, dan semua orang.
  3. Menyadari akan keterkaitan dalam kehidupan. Hal ini mencakup kesadaran akan musibah dalam kehidupan dan tersentuh oleh penderitaan orang lain.
  4. Meyakini bahwa berhubungan dengan dimensi transendensi adalah menguntungkan. Hal ini mencakup perasaan bahwa segala hal dalam hidup adalah suci.
Sementara itu, Piedmont (2001) mengembangkan sebuah konsep spiritualitas yang disebutnya sebagai Spiritual Transcendence, yaitu kemampuan individu untuk berada di luar pemahaman dirinya akan waktu dan tempat, serta untuk melihat kehidupan dari perspektif yang lebih luas dan objektif. Perpektif transendensi tersebut merupakan suatu perspektif di mana seseorang melihat satu kesatuan fundamental yang mendasari beragam kesimpulan akan alam semesta. Konsep ini terdiri atas tiga aspek, yaitu:
  1. Prayer Fulfillment (pengamalan ibadah), yaitu sebuah perasaan gembira dan bahagia yang disebabkan oleh keterlibatan diri dengan realitas transenden.
  2. Universality (universalitas), yaitu sebuah keyakinan akan kesatuan kehidupan alam semesta (nature of life) dengan dirinya.
  3. Connectedness (keterkaitan), yaitu sebuah keyakinan bahwa seseorang merupakan bagian dari realitas manusia yang lebih besar yang melampaui generasi dan kelompok tertentu.
Komunikasi Spiritual dalam Islam
Sebagai agama wahyu, tentunya islam memilki konsep besar dalam makna spiritual. Didalam islam spiritual dimaknai sebagai bentuk ketundukan pada sang Khalik. Bentuk tersebut diwujudkan dalam ibadah yang menajdi ciri umat islam. Ibadah dalam islam adalah bukti spiritualitas dalam beragama. Agama memang tak pernah bisa dilepaskan dari kerohanian (spiritualitas). Agama tanpa spiritualitas bukanlah agama, hanya simbol-simbol tanpa makna. Dan, karena itu, ia tiak melahirkan dampak apa-apa. Bahkan, sungguh tak perlu ada keraguan untuk mengatakan: alpha-omega agama adalah kerohaniahan. Bermula dari janji keimanan kepada Tuhan, yang diikrarkan saat (cikal) manusia masih bersifat rohani dan berakhir ketika manusia menjadi sepenuhnya rohani lagi setelah mati.
 Ibadah kurban adalah sebuah ritus yang memberikan pelajaran simbolik akan keikhlasan dan kepasrahan/kelurusan (hanifiyah) dari Ibrahim dan Ismail (Ishak). Ia memang sepenuhnya melibatkan aspek batin atau kerohaniahan manusia Ibrahim dan anaknya, bukan ritual pengorbanan yang bersifat fisik belaka. Bahkan, kenyataan bahwa pengorbanan anak manusia itu sendiri dibatalkan oleh Tuhan dan digantikan dengan seekor domba membuktikan, yang bersifat fisik hanyalah simbol belaka. “Daging-daging dan darah (hewan kurban) tak sekali-kali dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaan (kesadaran keilahian) (yang mendasari ibadah kurban itu)-mu itulah yang akan mencapai-Nya (Q.S 22:37).  Yakni, kesadaran keilahian yang sepenuhnya bersifat maknawi atau rohani itu. Ketakwaan itulah yang menjadi makna spiritualitas dalam islam, muara dari semua ibadah yakni munculnya derajat takwa dalam diri seorang muslim.
Berdasarkan paradigma Laswell, komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media menimbulkan efek tertentu. (Effendy, 2007:7). Berbagai defenisi spiritual menurut sudut pandang masing-masing. Mahmoodishan (2010) dan Vlasblom (2012) mendefenisikan spiritualitas merupakan konsep yang luas, sangat subjektif dan individualis, diartikan dengan cara yang berbeda pada setiap orang. Spiritualitas adalah kepercayaan seseorang akan adanya Tuhan, dan kepercayaan ini menjadi sumber kekuatan pada saat sakit sehingga akan mempengaruhi keyakinannya tentang penyebab penyakit, proses penyembuhan penyakit dan memilih orang yang akan merawatnya (Blais et al, 2002; Hamid, 2008).
Spiritual mengandung makna rohaniah atau batin. Selalu berkata jujur, tidak pernah bohong (Saefullah, 2007). Menurut Nina syam (2006) komunikasi spiritual adalah komunikasi yang terjadi antara manusia dan Tuhan atau berkenaan dengan agama, melalui amalan-amalan batin, seperti sholat, berdoa zikir dan lain-lain. komunikasi dalam spritual adalah bentuk komunikasi kita dengan sang pencipta. Bentuk yang paling konkritnya adalah doa, dari sabda Rasulullah doa adalah ibadah. Dari hadits tersebut dapat kita telaah dalam setiap ibadah-ibadah yang telah kita lakukan selalu terkandung doa didalamnya yang kita lakukan untuk berkomunikasi dengan-Nya baik itu membaca Al-Quran, berdzikir, shalat, berzakat, berpuasa, dan berhaji.
Secara sederhana komunikasi spiritual dapat digambarkan dalam model stimulu srespon. Model S-R adalah moidel komuniksi spiritual, karena pada dasarnya manusi amelakukan komunikasi langsung dengan Allah SWT.
Komunikator
(Doa,Salat,Dll)
Allah SWT

Doa Dikabul
 





Dari model S-R daiatas, dapat difahami bahwa bentuk stimulus dari adanya komunikasi spiritual yakni adanya kebutuhan manusia akan hajat hidupnya. Maka manusia sebagai komunikator melakujkan deliveri massage kepada Allah SWT, melalui ibadah ritual, apakah salat, zakat hajai dan doa sekalipuin. Ketika hamba berdoa maka ketika itupu;la ia sedang melakukan komunikasi spiritual dengan snga Khalik. Pesan yang diterima oleh Allah berupa permohonan ampunan, dosa, atyau keinginan yang diinginkan oleh hambanya.
Perbedaan yakni terletak pada respon yang diberikan oleh Allah SWT, jika dalam komunikasi antar manusia pesan tersebut didapat dari komunikator direspon berup[a tanggapan atau perubahan sikap dan prilaku. Namun dalam komunikasi spiritual respon tersebut di jawab oleh Allah berupa dikabulkannya doa dan harapan yang dimaksud. Respon berikutnya disamapaikan oleh Allah berupa balasan yang setimpal atas segala kebaikan yang pernah ditanam manusia selama hidupnya.

Walahualam bishowab





Tidak ada komentar:

Posting Komentar