KOMUNIKASI TRANSENDERNTAL;
Dalam Perspektif Psikologi
(Ruh, Nafsu,
dan Akal)
Menurut ajaran islam, cara untuk memahami manusia dan alam semesta dapat
dilakukan melalui dua pintu, yaitu ayat kauniyah dan ayat kauliyah. Menurut Ancok
& Suroso (2008), untuk menggali manusia kita tidak semata-mata menggunakan
teks Al-Qur’an dan Al-Hadist (ayat kauliyah) namun juga dengan menggunakan,
memikirkan, dan merefleksikan kejadian-kejadian yang berbeda di alam semesta
dan terjadi pada diri manusia (ayat kauniyah) dengan menggunakan
akal, indera, dan intuisi.
Secara umum, sumber pengetahuan yang paling dapat dipercaya adalah
Al-Qur’an dan Al-Hadist. Secara ringkas, dapat dikatakan Al-Qur’an dan Al-Hadist
adalah rujukan utama psikologi Islam. Psikologi islam memfokuskan perhatiannya
pada masalah-masalah aspek dalam manusia. Dalam Al-Qur’an dengan tegas dinyatakan bahwa kehidupan manusia
tergantung pada wujud ruh dalam badannya. Namun bagaimana wujud dan bentuknya dilarang
untuk mempersoalkannya (QS 17:85). Bagaimana ruh itu bersatu dengan badan yang
kemudian membentuk manusia yang menjadi khalifah terdapat dalam Q.S. Al-Hijr
ayat 29:
فَإِذَا
سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ(29)
Artinya: “Maka apabila
aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh
(ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” (Q.S.
Al-Hijr:29)
Tingkah laku manusia adalah akibat dari interaksi antara ruh dan badan.
Walaupun manusia mempunyai ruh dan badan, tetapi ia dipandang sebagai pribadi
yang terpadu. Dalam
Al-Qur’an surat Al-A’raaf ayat 172, Allah SWT
berfirman:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي
ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ
أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَآ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ {172}
Artinya: “Dan (ingatlah),
ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan
Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
"Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau
Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di
hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah
orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (Q.S.
Al-A’raaf: 172)
Allah
telah mengeluarkan dari sulbi Adam dan keturunannya, generasi demi generasi
sebelum mereka diturunkan ke dunia, dan Allah mengambil kesaksian terhadap
jiwa mereka dengan firman-Nya “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Jawab mereka: “Betul
(Engkau Tuhan kami) kami menjadi saksi.” Dan Allah menyatakan bahwa Ia
mengambil kesaksian terhadap mereka akan kedudukan-Nya sebagai Tuhan agar
mereka pada hari kiamat, tidak menyatakan bahwa mereka tidak tahu akan hal
itu. Dari sini tampak jelas
bahwa dalam diri manusia terdapat kesiapan alamiah untuk mengenal Allah dan
mengesakan-Nya. Jadi, pengakuan terhadap kedudukan Allah sebagai Tuhan tertanam
kuat dalam fitrahnya dan telah ada dalam relung jiwa sejak zaman azali (Ancok
& Suroso, 2008).
Di dalam surat An-Nisa’ ayat 1 juga disebutkan yang artinya:
“Hai sekalian manusia,
bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan
dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah
memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak, dan bertakwalah
kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama
lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu
menjaga dan mengawasi kamu.” (Q.S. An-Nisa’:1).
Dari satu jiwa, nabi Adam AS, Allah menciptakan puluhan miliar jiwa yang
berbeda-beda satu sama lain dan berbeda pula dengan jiwa yang menjadi asalnya.
Hal semacam ini telah menjadi jelas bagi ilmuwan genetika saat ini. Oleh karena
itu, adanya kemiripan dua orang, semata-mata dari aspek genetisnya saja,
kemungkinannya hanya terjadi dalam angka satu persepuluh pangkat empat puluh.
Dari sini pula kita dapat memahami secara mendalam makna firman Allah berikut
ini:
يَاأَيُّهَا
اْلإِنسَانُ مَاغَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ {6} الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ
فَعَدَلَكَ {7} فيِ أَيَّ صُورَةٍ مَّاشَآءَ رَكَّبَكَ {8}
Artinya: “Hai manusia, Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka)
terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu
menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuhmu) seimbang, Dalam
bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.”
Ada dua alasan mendasar mengapa kita perlu menghadirkan psikologi islam.
Alasan yang paling utama adalah karena islam mempunyai pandangan-pandangan
sendiri tentang manusia. Psikologi islam itu merupakan konsep manusia menurut
Al-Qur’an. Al-Quran sebagai sumber utama agama islam. Al-Qur’an adalah kitab
petunjuk, didalamnya banyak terdapat rahasia mengenai manusia. Allah sebagai
pencipta manusia, tentu tahu secara nyata dan pasti tentang siapa manusia.
Melalui Al-Quran, Allah memberitahukan rahasia-rahasia tentang manusia. Oleh
karena itu Psikologi Islam disusun dengan memakai Al-Qur’an sebagai acuan
utamanya. Sementara Al-Qur’an sendiri diturunkan bukan semata-mata untuk
kebaikan umat islam, tetapi untuk kebaikan umat manusia seluruhnya. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa, Psikologi Islam dibangun dengan arahan untuk
kesejahteraan umat manusia.
1.
Ruh
Pengertian
Ruh dalam Al-Quran,
kata Al-Ruh digunakan sebanyak 22 kali.
Penggunaan kata ini diungkapkan dalam berbagai bentuk, seperti ruh, ruha,
ruhan, ruhihi, dan ruhii (misalnya dalam Al-Quran An-Nisa ayat: 171, Al-Hijr ayat: 27-29, Al-Isra ayat: 85, Maryam ayat: 17, Asy-Syura ayat: 52, Shad ayat: 72.
Isyarat yang menyangkut unsur immaterial manusia antara lain berkaitan dengan
keberadaan al-ruh ini. Proses penciptaan manusia, seperti dinyatakan dalam Al-Quran, dilakukan melalui dua tahap,
yaitu penyempurnaan fisik dan peniupan atau penghembusan ruh ilahi ke
dalam dirinya. Pada tahap penciptaan yang bersifat fisik, proses penciptaan
tersebut dilakukan dengan melalui dua model, yaitu penciptaan yang berasal dari
tanah dan penciptaan yang dilakukan melalui fase-fase tertentu di dalam rahim
seorang perempuan. Model yang pertama diperlakukan kepada Nabi Adam AS, sedangkan model yang kedua berlaku
untuk umat manusia secara keseluruhan. Proses penciptaan tersebut dapat dilihat
dalam kutipan ayat:
1)
QS. Al-Hijr ayat: 27-29.
Artinya: "Dan kami telah menciptakan jin
sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu
berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang
manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang
diberi bentuk; maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah
meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan
bersujud”.
Ayat Al-Quran yang terdapat dalam surat Al-Hijr diatas, secara tegas
membedakan asal kejadian manusia (Adam dan juga keturunannya) dan asal kejadian
jin. Perbedaan itu bukan saja pada unsur tanah dan api, tetapi yang lebih
penting adalah bahwa pada unsur kejadian manusia ada ruh ciptaan Allah swt.
Unsur ruh ini tidak ditemukan pada iblis maupun jin. Unsur ruh itulah yang
mengantar manusia lebih mampu mengenal Allah swt, beriman, berbudi luhur serta
berperasaan halus.
2)
QS. Al-Mu'minun ayat:12-14.
Artinya: "Dan
sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari
tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat
yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu
segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami
jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging.
Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah
Allah, Pencipta yang paling baik”.
Seperti
dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Mu’minum
di atas, bahwa proses reproduksi manusia disebutkan secara bertahap dari fase
ke fase. Proses pembentukan (taswiyah) manusia yang terjadi di dalam rahim
seorang perempuan, terjadi melalui suatu proses transformasi dari fase ke fase.
Proses tersebut diawali dari fase sulalah min thin (saripati dari tanah),
kemudian nuthfah (pertemuan sperma dan ovum), kemudian 'alaqah (berdempetnya
zyghote ke dinding rahim), kemudian mudghah dan 'idzamm (segumpal daging dan
tulang) dan akhirnya sampailah pada titik kesempurnaanya, yaitu susunan
fisiknya yang harmonis.
Dilihat dari proses ini, pembentukan manusia
tersebut murni bersifat "materi". Di sinilah peran
"perantara" yang telah dimainkan oleh para pasangan suami-isteri
dalam proses penciptaan
manusia. Setelah melewati fase-fase tersebut, di saat embrio janin sudah siap,
maka ditiupkan ruh ilahi ke dalam dirinya. Kemudian dijadikanlah ia oleh Allah
makhluk yang berbeda dari yang lain, yaitu dengan jalan menghembuskan ruh ilahi
kepadanya. Memperhatikan proses penciptaan dan kejadian manusia di atas,
secara substansial menunjukkan adanya dimensi fisik atau jasmani di satu pihak
dan dimensi ruhani atau spiritual di pihak lain. Unsur fisik, darah dan daging,
dipandang oleh para ulama tasawuf sebagai unsur yang telah menyebabkan dorongan
manusia melakukan aktivitas untuk mempertahankan hidup jasmani dan
keturunannya, seperti makan, minum dan hubungan seksual.
Sedangkan
unsur ruh telah menyebabkan manusia berhubungan dengan penciptanya. Karena
seperti diketahui bahwa unsur ruh tersebut berasal dan bersumber langsung dari
Allah SWT atau dalam istilah al-Quran min ruhi. Melalui unsur ruh yang ada
dalam dirinya, mengantarkan manusia untuk menundukkan kebutuhan-kebutuhan
jasmaninya sesuai dengan tuntunan ilahi. Al-ruh Al-ilahi adalah daya tarik yang
mengangkat manusia ke tingkat kesempurnaan, ahsani taqwim. Apabila manusia
melepaskan dari daya tarik tersebut, ia akan jatuh meluncur ke tempat sebelum
daya tarik tadi berperan dan ketika itu terjadilah kejatuhan manusia. Manusia
mencapai tingkat yang setinggi-tingginya (ahsan taqwim) apabila terjadi
perpaduan yang seimbang antara kebutuhan jasmani dan ruhani, antara kebutuhan
fisik dan jiwa. Tetapi, apabila manusia hanya memperhatikan dan melayani
kebutuhan-kebutuhan jasmaninya saja, maka ia akan kembali atau dikembalikan kepada
proses awal kejadiannya, sebelum ruh ilahi menyentuh fisiknya, yaitu kembali ke
asfala safilin.
3)
QS. An-Nisa ayat: 171
Artinya:
"Wahai ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan
janganlah kamu mengatakan
terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam
itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang
disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya. Maka
berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan:
"(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik
bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai
anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah
menjadi Pemelihara".
4)
QS. Shad ayat: 71-74
Artinya:
"(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya
Aku akan menciptakan manusia dari tanah". Maka apabila telah Kusempurnakan
kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya
ruh (ciptaan)Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud
kepadanya". Lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya, kecuali
Iblis, dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir”.
Sebagian
orang mengatakan bahwa hakekat manusia terdiri dari jasad (materi) dan ruh.
Manusia dikatakan mulia/baik bila ruh mendominasi jasadnya, sebaliknya manusia
dikatakan hina/jahat bila jasad mendominasi ruhnya. Dengan demikian, bila ingin
menjadi manusia yang mulia/baik, maka perlu meningkatkan ruhnya. Lalu, apa
pengertian ruh dalam pernyataan ini? Apakah ruh dalam arti nyawa? Karena ruh
dalam arti nyawa dapat diindera melalui manifestasi-manifestasinya, yaitu;
tumbuh, bergerak dan bereproduksi. Ruh
dalam pengertian nyawa merupakan tenaga penggerak yang juga dikategorikan materi. Ketika semua manifestasi
tersebut tidak ada, maka dikatakan manusia itu mati dan tidak terdapat ruh
(nyawa).
Ruh
memiliki beberapa arti (musytarak). Ada ruh yang artinya nyawa (Q.S. Al-Isra:
85), ruh yang artinya Jibril (Q.S. Asy-Syu’ara: 193-194) dan ruh yang artinya
syariah /Al Qur’an (Q.S. Asy-Syura: 52).
1)
Q.S. Al-Isra’ ayat: 85
“Dan
mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “nyawa (Ruh) itu termasuk
urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.
Abdullah
(dalam, saktiyono 2012) menyatakan bahwa maksud dari “Kutiupkan kepadanya
ruh-Ku” (Q.S. Shad: 71-72), maksudnya adalah ruh ciptaan-Ku, bukan ruh bagian
dari-Ku. Karenanya Allah berfirman: “Katakanlah; ruh itu termasuk urusan
Tuhanku” (Q.S. Al-Isra’: 85), maksudnya telah diciptakan dengan perintah Allah.
Ruh itu adalah urusan ketuhanan yang menakjubkan, yang melemahkan kebanyakan
akal dan paham dari pada mengetahui hakikatnya.
Menurut
Al-Ghazali ruh adalah daya yang mendatangkan kehidupan, disebut juga dengan daya
kebinatangan atau ruh binatang. Ruh, laksana cahaya, ia telah mendatangkan daya
kehidupan terhadap seluruh organ atau anggota tubuh. Sementara itu, Ibn Qayyim
berpendapat, bahwa ruh adalah daya yang berbentuk cahaya yang bergerak dari
dunia maknawi menuju badan yang bersifat materi. Ruh lah yang telah memberikan
kehidupan pada jasmani sehingga dapat diraba dan dirasakan.
Beralasan
dengan makna kata ruh yang berlainan sesuai konteksnya, Thabathaba'i
berkesimpulan bahwa ruh yang ditanyakan dalam Al-Quran surat al-Isra ayat 85 di
atas, adalah berkaitan dengan hakekat ruh itu sendiri. Jawaban atas pertanyaan
itu itu adalah bahwa ruh itu urusan Tuhan dan ilmu yang dimiliki manusia
berkaitan dengan hakekat ruh tidak memadai. Ruh memiliki wilayah dalam wujud ini,
mempunyai kekhususan dan ciri-ciri serta dampak di alam raya ini yang sungguh
indah dan mengagumkan, tetapi ada tirai yang menghalangi manusia untuk
mengetahuinya.
Ruh
Allah ini, seperti dinyatakan dalam ayat-ayat di atas, masuk ke dalam diri
manusia melalui suatu proses yang di dalam Al-Quran digunakan istilah
al-nafakh. Secara bahasa nafakh berarti tiupan atau hembusan, jadi Allah
meniupkan atau menghembuskan ruh-Nya kepada manusia. Pengertian bahasa seperti
ini, tidak tepat serta tidak sesuai, sebab tidak mungkin bagi Allah melakukan
aktifitas tiupan ataupun hembusan. Menurut Al-Gazali, al-nafakh di sini tidak
dapat diartikan secara harfiah, sebab itu mustahil bagi Allah. Al-nafakh di
sini dapat dilihat dari dua sisi. Dilihat dari sisi Allah, al-nafakh adalah
kemurahan Allah (Al-jud Al-ilahi) yang memberikan wujud kepada sesuatu yang
menerimanya. Al-jud ini mengalir dengan sendirinya (Fayyad Fi An-Nafsihi) atas
segala hakekat yang diadakan-Nya. Dengan demikian, penciptaan ini bersifat
emanasi, yakni ruh mengalir dari Zat Allah melalui al-jud al-ilahi kepada
manusia tanpa suatu perubahan pada diri Allah.
2)
Q.S. Asy-Syu’ara, ayat: 193-194
“Dia
dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu
menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan”.
3)
Q.S. Asy-Syura, ayat: 52
“Dan
demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur’an) dengan perintah Kami.
Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula
mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang
Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.
Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”.
Ruh
yang membuat manusia menjadi mulia/baik dan mempunyai sifat-sifat yang luhur
dan mengikuti kebenaran. Ruh merupakan unsur yang di dalamnya terkandung
kesiapan manusia untuk merealisasikan hal-hal yang paling luhur dan sifat-sifat
yang paling suci. Ruhlah yang membuat manusia siap untuk membumbung tinggi
melampaui peringkat hewan. Dengan penciptaan seperti itu, manusia dibedakan
dari seluruh makhluk ciptaan Allah. Manusia, dalam beberapa hal, sama dengan
hewan, misalnya keadaan fisik dan emosinya untuk mempertahankan diri. Ruh yang
ada dalam dirinya menjadikan manusia cenderung mencari Allah dan rindu akan
keutamaan yang akan mengantarkannya mencapai kesempurnaan manusiawi. Oleh
karena itulah manusia layak untuk menjadi khalifatullah di bumi ini. Pendek
kata, bahwa yang membedakan manusia dari hewan adalah percikan ruh dari Allah
atas dirinya
Dengan
demikian, ruh (idrak shillah billah) bukan bagian dari bentukan/hakekat
manusia. Karena kesadaran hubungan dengan Allah datangnya bukan dari zat/unsur
manusia itu sendiri, melainkan dari proses berpikir atau pembelajaran. Seorang
ateis yang mengingkari keberadaan Allah, tidak akan menyadari hubungannya
dengan Allah, meskipun demikian tetap saja ia disebut manusia. Hakekat manusia
adalah materi. Karena manusia merupakan benda yang dapat diindera, begitu pula
dengan ruhnya (nyawa tenaga penggerak) yang dapat diindera melalui
manifestasi-manifestasinya, yaitu: tumbuh, bergerak dan bereproduksi.
Dengan
pemikiran yang mendalam dan cemerlang terhadap alam, hidup dan manusia akan
nampak bahwa ketiganya berupa materi, yang dimaksud dengan materi di sini
adalah sesuatu yang dapat dijangkau dan diindera, baik materi itu didefinisikan
sebagai sesuatu yang menempati ruang dan memiliki massa, atau di definisikan
sebagai tenaga yang dapat menggerakkan, baik tampak maupun tidak. Perilaku
manusia dilihat dari sisi zatnya, tanpa dilihat lagi faktorfaktor dan
pertimbangan-pertimbangan lain adalah materi belaka, An-Nabhani (Satiyono, 2012).
Abdurrahman
(Satiyono, 2012) juga menyatakan bahwa manusia
berbentuk benda yang bisa diraba dan diindera secara langsung. Demikian halnya
dengan gerakan tubuh manusia juga dapat diindera dan diraba, maka manusia
sejatinya merupakan materi.
Menurut Al-Ghazali, terapat dua pengertian ruh. Pertama, ruh berarti tubuh halus (jisim lathif). Sumbernya itu lubang hati
yang bertubuh. Lalu berterbar dengan perantaraan urat-urat yang memanjang,
kesegala bahagian tubuh yang lain. Ruh itu mengalirnya dalam tubuh,
membanjirnya cahaya hidup, perasaan, penglihatan, pendengaran dan penciuman
dari padanya kepada anggota-anggota tubuh. Ruh menurut Al-Ghazali menunjukkan kelembutan
ilahi (lathifah ilahiyah) dan berada dalam hati badaniah manusia. Ruh
dimasukkan ke dalam tubuh melalui 'saringan yang halus. Pengaruhnya terhadap
tubuh adalah seperti lilin di dalam kamar. Tanpa meningalkan tempatnya,
cahayanya memancarkan sinar kehidupan bagi seluruh tubuh. Karena ruh merupakan
lathifah maka ia merupakan suatu unsur ilahi. Sebagai sesuatu yang halus, ruh
merupakan kelengkapan pengetahuan yang tertinggi dari manusia. Sebagai konsekueni
bahwa ruh berasal dari Allah, maka ia memiliki sifat-sifat yang dibawa dari
asalnya tersebut.
Pada
saat yang sama kebutuhan manusia terhadap agama juga merupakan suatu hal yang
logis karena berasal dari sumber yang sama, yaitu Allah. Itulah sebabnya
mengapa dalam agama keyakinan terhadap Allah menempati prioritas yang utama
bahkan sebagai porosnya. Tetapi karena tarikan-tarikan fisik yang sangat kuat
dan luar biasa dalam diri manusia, kesadaran ilahiyah yang ada dalam dirinya
menjadi tertimbun ke dasar yang paling dalam. Itulah gambaran yang dilukiskan
dalam surat At-Tin
ayat: 5 dengan pernyataan "kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang
serendah-rendahnya", yaitu pada keadaan ketika ruh belum dihembuskan ke
dalam dirinya. Kedua, ruh berarti yang halus dari manusia, yang mengetahui dan
yang merasa.
Menurut
Ibnu Hazm, jiwa dan ruh merupakan dua nama yang sinonim untuk sesuatu yang
sama, sebab makna keduanya sama. Ibnu Hazm berkata jiwa dan ruh itu sama. Makna
firman Allah SWT (QS, Al-Isra’: 85), adalah karena jasad merupakan mahkluk yang
diciptakan dari debu, kemudian dari nutfah
(mani), kemudian dari ‘alaqah, kemudian
dari onggokan daging, kemudian dari tulang, kemudian dari tubuh. Tetapi ruh
tidak demikian keadaannya, Allah hanya berfirman hanya memberi perintah kepada
eksistensi, “Jadilah! Maka, ia telah menjadi”. Ibnu Hazm menegaskan bahwa jiwa,
ruh dan nasmah adalah kata-kata
sinonim. Kadang-kadang pengertian ruh juga digunakan untuk pengertian yang lain.
Misalnya, Jibril a.s adalah ruh Al-amin dan
Al-qur’an adalah ruh yang berasal dari sisi Allah SWT.
Menurut
Ibnu Taimiyah, kata Ar-ruh digunakan
juga untuk pengertian jiwa. Dia berkata: “Ruh yang mengatur badan yang
ditinggalkan setelah kematian adalah ruh yang dihembuskan kedalamnya (badan);
dan dialah jiwa yang meninggalkan badan melalui proses kematian”. Nabi Muhammad
saw. Pernah bersabda setelah bermimpi tentang salat, “Sesungguhnya Allah
menggenggam ruh kita sekehendak-Nya dan mengembalikannya sekehendak-Nya pula”. Lalu Bilal r.a bertanya, “Wahai
rasulullah, apakah yang mengambil jiwaku sama dengan yang mengambi jiwamu?”.
Allah
SWT juga berfirman: “Allah memegang jiwa (orang)
ketika matinya dan memegang jiwa (orang) yang belum mati diwaktu tidurnya; maka
Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan
jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan (QS. Az-Zumar: 42).
Di
dalam Ash-Shahihain
disebutkan
bahwa Nabi
Muhammad
SAW
pernah berdoa ketika hendak tidur, “Dengan nama-Mu Tuhanku engkau telah
meletakkan sisiku, dan kepada-Mu aku mengangkatnya. Jika engkau mengangkat
jiwaku, maka ampuniah dan sayangilah jiwaku tetapi jika engkau mengirimnya,
maka peiharalah sebagaimana engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang salih.”
Dalam hadis lain dengan sangat sahih
juga disebutkan, “Sesungguhnya
jika ruh manusia digenggam, maka malaikat berkata, ‘keluarlah wahai jiwa yang
baik yaang pernah berada dijasad yang baik, keluarlah dengan penuh keridhaan
dan dirdhai!’ ada juga yang berkata ‘keluarlah wahai jiwa buruk yang pernah
berada dijasad yang buruk, keluarlah dengan keadaan murka dan dimurkai’.”
Ruh
yang dicabut pada saat kematian dan pada saat tidur disebut ruh dan jiwa;
begitu pula yang diangkat ke langit disebut ruh dan jiwa. Ia disebut jiwa
lantaran sifatnya yang mengatur badan, dan disebut ruh lantaran sifat
lembutnya. Kata ruh sendiri meniscayakan makna kelembutan, iu sebabnya angin
juga disebut dengan ruh. Ibnu Taimiyah
menyebutkan bahwa kata
ruh dan jiwa mengandung berbagai makna, yaitu:
1) Ruh
adalah udara yang keluar masuk badan.
2) Ruh
adalah asap yang keluar dari dalam hati dan mengalir di darah.
3) Jiwa
adalah sesuatu itu sendiri, sebagaimana firman Allah SWT (QS. Al-An’am:54)
Artinya: Tuhanmu teah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang.
4) Jiwa
adalah darah yang berada di dalam tubuh hewan, sebagaimana ucapan para ahli
fiqih, “Hewan yang memiliki darang yang mengalir dan hewan yang memiliki darah
yang tidak mengalir.”
5) Jiwa
adalah sifat-sifat jiwa yang tercela atau jiwa yang mengikui keinginannya.
Tentang tempat
jiwa atau ruh yang berdiam di dalam tubuh, maka Ibnu taimiyah berpendapat,
“tidak ada tempat khusus ruh di dalam jasad, tetapi ruh mengalir di dalam jasad
sebagaimana kehidupan mengalir mengalir didalam seluruh jasad. Sebab, kehidupan
membutuhkan adanya ruh. Jika ruh ada didalam jasad, maka di dalamnya ada
kehiduan (nyawa), tetapih jika ruh berpisah dengan jasad, maka ia berpisah
dengan nyawa”.
2.
Nafsu
Psikoanalisa
dipandang banyak mendasarkan konsepnya pada dimensi Al-Nafsu yang merupakan salah satu
dimensi dalam aspek nafsiah. Kemudian Baharuddin menyimpulkan bahwa
psikoanalisa memandang perilaku manusia banyak dipengaruhi oleh masa lalu,
ketidak sadaran, dan dorongan-dorongan biologis (nafsu-nafsu), yang selalu
menuntut kenikmatan untuk segera dipenuhi. Jadi psikoanalisa memandang manusia
adalah buruk, liar, kejam, non etis, egois, sarat nafsu, dan bertuhan kepada
kenikmatan jasmani (Baharuddin, 2005).
Dalam
pandangan Sigmund Freud kepribadian manusia terdiri dari tiga system, yaitu id,
ego, dan super ego, id adalah bagian yang paling primitive dan orisinil dalam
kepribadian manusia. Ia merupakan gudang penyimpan kebutuhan-kebutuhan manusia
mendasar, seperti makan, minum, istirahat atau rangsangan agresivitas dan
seksualitas (Baharuddin, 2005). Ego, atau ’diri’ merupakan dimensi kesadaran
rasional yang merupakan jembatan manusia berhubungan dengan dunia luar. Ego ini
berkembang sejalan dengan proses perkembangan pikiran (kognitif) manusia.
Sementara itu super ego merupakan dimensi moralitas yang menjadi pemandu
perilaku manusia. Dalam kehidupan sehari-hari ego senantiasa menghadapi
pertentangan antara dorongan dasar dari id dan nilai-nilai moral dari super ego
(Subandi, 2015).
Kajian
psikologi Islam mengenai struktur kepribadian dasar manusia banyak berkaitan
dengan konsep nafsu, akal dan hati. Istilah-istilah tersebut bisa dipadankan
dengan id, ego, dan super ego dalam konsep psikoanalisis. Nafsu adalah id, akal
adalah ego dan hati adalah super ego (Subandi, 2015).
Nafsu
adalah aspek kebinatangan dalam diri manusia. Para sufi menggambarkan hawa
nafsu sebagai binatang buas, seperti anjing pencuri, rubah yang licik, kuda
liar, bahkan ular atau naga. Dorongan aspek kebinatangan dalam diri manusia ini
bersifat primitif. Dia seringkali menyusup dalam setiap perilaku manusia, meski
manusia tersebut sering tidak disadari (Subandi, 2015).
Sigmund
Freud berpendapat bahwa dorongan dasar yang paling dominan dalam diri manusia
adalah dorongan seksual dan dorongan agresif. Dua dorongan inilah yang melatar
belakangi seluruh perilaku manusia. Meskipun tidak dalam bentuk yang asli,
dorongan seksualitas dapat berubah bentuk (sublimasi) menjadi keinginan untuk
memiliki, keinginan untuk menguasai (Subandi, 2015).
Meskipun
tidak sesuai semuanya, konsep akal dalam sufisme bisa disejajarkan dengan
konsep ego dalam psikoanalisis. Seperti akal, ego berfungsi untuk mengendalikan
dorongan id yang tidak sesuai dengan realitas. Misalnya, id membutuhkan
dorongan seksual, maka ego tidak mengijinkannya karena kondisi realitas tidak
memungkinan. Kalau id mendesak terus, maka ego akan terus berusaha mengekangnya
karena ego mendapatkan pesan dari super ego bahwa hal itu tidak boleh.
Disinilah kemudian sering terjadi pertentangan antara id dan ego (Subandi,
2015).
Ketika nafsu
menguasai akal atau id mendominasi ego, maka orang tersebut tidak dapat
berpikir dan bertindak secara rasional. Dia akan mengembangkan berbagai bentuk
mekanisme pertahanan diri yang kurang sehat untuk membela diri sendiri.
Mekanisme ini timbul ketika ego merasa terancam. Tujuannya tidak lain adalah
supaya ego merasa aman (Subandi, 2015).
3. Akal
Secara
Etimologi, akal memiliki arti Al-Imsak
(menahan), Al-Ribath
(ikatan), Al-Hajr
(menahan), Al-Nahy
(melarang), dan Man’u
(mencegah). Berdasarkan makna bahasa ini maka yang disebut orang berakal (Al-Aqil) adalah orang
yang mampu menahn dan mengikat hawa nafsunya. Jika hawa nafsunya terikat maka
jiwa rasionalitasnya mampu bereksistensi.
Akal
merupakan organ tubuh yang terletak di kepala lazimnya disebut dengan otak (Al-Dimagh) yang memiliki cahaya nurani
yang dipersiapkan dan mampu memperoleh pengetahuan (Al-Ma’rifah) dan kognisi (Al-Mudrikat). Akal juga diartikan sebagai
energi yang mampu memperoleh, menyimpan dan mengeluarkan pengetahuan. Akal
mampu menghantarkan manusia pada substansi humanistik (Zat Insaniyah) atau potensi fithrah yang
memiliki daya-daya pembeda antara hal-hal yang baik dan buruk, yang bergunakan
dan membahayakan. Dengan demikian akal merupakan daya berpikir manusia untuk memperoleh
pengetahuan yang bersifat rasional dan dapat menentukan eksistensi manusia.
Akal
secara psikologi memiliki fungsi kognisi (daya cipta). Kognisi adalah suatu
konsep umum yang mencakup semua bentuk pengalaman kognisi, mencakup semua
bentuk pengalaman kognisi, mencakup mengamati, melihat, memperhatikan,
memberikan pendapat, mengasumsikan dan lain sebagainya. Diskursus tentang akal
lebih banyak dibicarakan oleh para filsuf. Filsuf
yang terpopuler adalah Ibnu Sina. Menurut Ibnu Sina, manusia memiliki tiga
jiwa, yaitu jiwa tumbuh-tumbuhan (Al-Nafs Al-Nabatiyah), jiwa binatang (Al-Nafs Hayawaniyah), dan jiwa berpikir (Al-Nafs
Al-Natiqhah). Jiwa berpikir (akal) pada puncaknya mampu menerima limpahan
pengetahuan dari Allah SWT melalui akal fa’al. (Nasution,
1995).
Akal
di dalam Al-Qur’an
disebutkan sebanyak 49 kali. Jumlah ini tidak termasuk sinonimnya, seperti Al-Lubb dan sebagainya. Akal dalam
Al-Qur’an tidak seperti kalbu. Akal hanya diungkap dalam bentuk kata kerja
(fi’il) dan satu pun tidak disebutkan dalam bentuk kata benda (isim). Hal ini
menunjukkan bahwa akal bukanlah suatu substansi (jauhar) yang bereksistensi,
melainkan aktivitas substansi tertentu. Jika akal dipahami sebagai suatu
aktivitas maka substansi apakah yang melakukan aktivitas? Komponen nafsani yang
mampu berakal adalah kalbu. Seperti yang tertuang di dalam Al-Qur’an surah Zl- Hajj: 46.
أَفَلَمْ
يَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ
بِهَا فَإِنَّهَا لا تَعْمَى الأبْصَارُ
وَلَكِنْ
تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ (٤٦)
“Maka Apakah mereka tidak berjalan di
muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami
atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena
Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di
dalam dada.”
Berdasarkan
ayat ini, para mufassir sebagaimana yang diulas oleh al-Ghazali dan Wahbah Al-Zukhailiy berbeda pendapat.
Sebagian ada yang berpendapat bahwa kalbulah yang berakal, sedangkan sebagian
yang lain menyebutnya otak (al-Dimagh)
yang berakal. Al-Zukhailiy menjelaskan bahwa pendapat yang valid adalah
pendapat kedua, yakni otak yang berakal bukan kalbu. Adapun maksud dari QS.
Al-Hajj ayat 46 tersebut adalah bahwa dalam tardisi kebahasaan, seseorang
sering menggunakan kalbu untuk menyebutkan akal, sehingga dalam Al-Qur’an
menggunakan kalbu untuk berakal. Pendapat ini senada dengan pendapat plato.
Bagi Plato, jiwa rasional itu bertempat di kepala (otak) manusia, sehingga yang
berpikir adalah akal dan bukan kalbu. (Nasution, 1995).
Akal bukanlah
kalbu. Ia merupakan substansi nafsani tersendiri yang berkedudukan di otak dan
berfungsi untuk berpikir. Ia bukan kalbu, hanya saja memiliki kesamaan dengan
kalbu dalam memperoleh daya kognisi, tetapi cara dan hasilnya berbeda. Akal
mampu mencari pengetahuan rasional tetapi tidak mampu mencapai pengetahuan
supra-rasional. Akal mampu menangkap hal-hal yang abstrak tetapi belum mampu
merasakan hakikatnya. Serta akal mampu mrenghantarkan eksistensi manusia pada
pada tingkat kesadaran tetapi tidak mampu menghantarkan pada tingkat
supra-kesadaran. Dan akal mampu mencapai kebenaran tetapi belum mampu melakukan
semacam ibadah, sebab sebagian ibadah ada yang bersifat supra-rasional.
4.
Qalbu
Secara
bahasa, qalbu bermakna hati, isi, lubuk hati, jantung, inti (lubb), akal
(‘aql), kekuatan, semangat, keberanian, bagian dalam (bâthin), pusat, tengah,
bagian tengah (wasath), dan yang murni (khâlish, mahdh). Al-Quran dan hadits
sendiri menggunakan kata qalb dalam makna yang beraneka ragam dan tidak keluar
dari cakupan makna bahasa tersebut.
Pertama,
makna qalbu berkaitan dengan fisik. Ingatlah bahwa di dalam tubuh itu ada
segumpal mudghah, bila mudghah itu baik, maka baiklah seluruh tubuh itu, dan bila
mudghah itu rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Mudghah itu adalah qalbu (HR.
Bukhari dan Muslim).
Kedua,
makna qalbu berkaitan dengan proses berpikir.
Artinya:
Dan Allah telah mengunci mati qalbu mereka, maka mereka tidak mengetahui
(akibat perilaku mereka) (Q.S. At-Taubah: 93)
Artinya:
Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai qalbu
yang dengan itu mereka dapat memahami (Q.S. Al- Hajj: 46).
Ketiga,
makna qalbu berkaitan dengan perasaan.
Artinya:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut
nama Allah gemetarlah qalbu mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka
(karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal (Q.S. Al-Anfâl: 2).
Artinya:
Akan Kami masukkan ke dalam qalbu orang-orang kafir rasa takut, disebabkan
mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan
keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah
seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim (Q.S. Ali ’Imrân: 151).
Artinya:
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan qalbu mereka menjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah qalbu menjadi
tenteram (Q.S. Ar-Ra’d: 28).
Keempat,
makna qalbu berkaitan dengan iman, syak, dan taqwa. Iman sebagai pembenaran
yang tegas tanpa sedikit pun keraguan didapatkan melalui qalbu (dalam kaitannya
dengan perasaan) dan Syarat dari keyakinan yang tegas tanpa keraguan (tashdîq
jâzim) adalah kesesuaiannya dengan akal. Apabila keyakinan yang pasti dalam
qalbu dan kesesuaian akal dengan keyakinan tersebut ada, maka terbentuklah iman
itu. Berkaitan dengan masalah ini, Allah S.W.T berfirman:
Artinya:
Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan
Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal qalbunya tetap tenang dalam
beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk
kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar (Q.S.
An-Nahl: 106).
Bila
dicermati, makna-makna qalbu tersebut berkaitan dengan psikofisiologis.
Singkatnya, qalbu itu adalah segumpal mudghah yang menjadi tempat pikiran dan
perasaan. Dengan meminjam istilah zaman sekarang, qalbu bisa di ibaratkan
sebagai “motherboard” dalam personal
computer, yang menjadi tempat bagi prosesor dan komponen-komponen lainnya untuk
menjalankan aplikasi atau program. Namun, tentu saja “motherboard” ciptaan Allah ini tidak selalu tetap bentuknya (fixed)
seperti buatan manusia, melainkan “motherboard”
ini secara psikologis maupun fisiologis bisa berubah-ubah (dinamis).
Sebagaimana ungkapan do'a Rasulullah berikut ini : Wahai Dzat yang
membolak-balikkan qalbu, teguhkanlah qalbuku diatas ketaatan kepada-Mu (HR.
Muslim).
Berdasarkan
definisi qalbu yang telah dipaparkan, maka ditetapkan proposisi-proposisi
sebagai berikut:
1. Bila
qalbu ini berjalan dengan baik, maka proses berpikir dan merasa akan baik,
sehingga muncul perilaku yang baik dan menghasilkan respon fisiologis yang
menyehatkan bagi tubuh.
2. Bila
qalbu ini rusak, maka proses berpikir dan merasa akan cenderung menyimpang,
sehingga muncul perilaku yang cenderung menyimpang dan menghasilkan respon
fisiologis yang menyakitkan bagi tubuh.
3. Bila
qalbu ini dikunci mati, maka proses berpikir dan merasa akan tetap seperti
sebelum dikunci dan menjadi tidak bisa menerima masukan apapun dari luar,
sehingga hidayah (petunjuk / informasi) dari Allah tidak bisa masuk, akibatnya
tidak terjadi perubahan perilaku (misal, tetap berperilaku kafir)
4. Qalbu
ini menjadi ragu, yang bisa diakibatkan oleh pertentangan (konflik) antar
komponen dalam qalbu itu sendiri, yaitu pertentangan antara pikiran dengan
5. Qalbu
ini menjadi panas dalam arti psikologis dan fisiologis, yang bisa diakibatkan
oleh meningkatnya proses berpikir dan merasa yang menyimpang dan terjadi secara
terus menerus, sehingga memunculkan respon-respon fisiologis seperti : kepala
terasa panas, jantung berdebar kencang, tekanan darah tinggi, dada terasa
sesak, dan ritme pernafasan tidak beraturan.
6. Qalbu
ini menjadi tenteram dalam arti psikologis dan fisiologis, yang bisa
diakibatkan oleh menurunnya proses berpikir dan merasa yang menyimpang, dan
meningkatnya proses berpikir dan merasa yang lebih adaptif, sehingga
memunculkan respon-respon fisiologis seperti : kepala terasa dingin, jantung
berdebar normal, tekanan darah normal, dada terasa lega, dan ritme pernafasan
beraturan.
7. Qalbu
ini menjadi keras seperti batu dalam arti psikologis dan fisiologis, yang bisa
diakibatkan proses berpikir dan merasa yang telah di-fixed oleh individunya, sehingga hidayah (petunjuk / informasi)
dari Allah (yang bertentangan dengan proses berpikir dan merasa yang telah di-fixed tadi) diabaikan, akibatnya sirkuit
/ pathways menjadi fixed dalam waktu yang relatif lama dan
sulit berkembang.
8. Qalbu
ini diberi label “taqwa”, manakala proses berpikir dan merasa senantiasa sesuai
dengan syariah / Al Qur’an, sehingga seluruh perilakunya mengikuti
perintahperintah Allah dan menjauhi larangan-larangan Allah.
Qalbu ini
dikatakan telah diinstall / ditanamkan “keimanan”, manakala proses berpikir dan
merasa telah terintegrasi dan melekat secara sempurna (embedded), mengimani Allah dan apa-apa yang dibawa oleh Rasul- Nya,
sehingga tidak menimbulkan pertentangan antara pikiran dan perasaan, akibatnya
menampilkan perilaku yang mantap / yakin (Purwoko, S. B, 2012).
Daftar
Pustaka
Ancok, DJamaluddin., & Suroso,
Fuad Nashori. (2008). Psikologi Islam, Solusi Islam Atas Problem Psikologi, Cet
VII. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Baharuddin. (2005). Aktualisasi Psikologi Islam. Pustaka Pelajar. Yogyakarta
Nasution, H. (1995). Filsafat dan Mistisisme dalam
Islam. Jakarta: Bulan-Bintang.
Purwoko, S. B. (2012). Psikologi Islami Teori dan Penelitian, Edisi
Kedua. Bandung: Saktiyono WordPress.
Saktiyono. B., & Purwoko. (2012).
Psikologi Islami: Teori dan Pengertian (Edisi kedua). Saktiyono WordPress:
Bandung.
Subandi, M. A. (2015). Konsep Psikologi Islam Dalam Sastra Sufi.
Retrieved Maret 6, 2016, from Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah.
website: www.iailm.ac.id/index.php/19-sample-data-articles/joomla/24-joomla.html