KOMUNIKASI ANTAR PERADABAN DALAM
QURAN
“Sesungguhnya
orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua
saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat nikmat.” (Q.S
Al-Hujurat: 10)
Melalui ayat ini dijelaskan bahwa
sesungguhnya setiap orang mukmin itu bersaudara seperti hubungan persaudaraan
antara orang-orang seketurunan karena sama-sama menganut unsur keimanan yang
sama dan kekal. Jadi sebagai seorang muslim kita harus senantiasa menjaga
persaudaraan kita, supaya tidak ada perpecahann diantara umat islam.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah
suatu kaum mengolok-olok suatu kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang
diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula
wanita-wanita mengolol-olokkan) wanita-wanita lain ( karena) boleh jadi
wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang
diperolok-olokan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu
panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Sebutuk-buruk panggilan ialah
(panggilan) yang buruk sesudah iman, dan barang siapa yang tidak bertaubat,
maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”(Q.S Al-Hujurat: 11)
Untuk ayat 11 ini Allah menjelaskan
kepada kita tentang cara kita dalam bergaul. Pertama, Kita diperingantakan
supaya jangan saling menolokkan karena boleh jadi kaum yang diperolok-olokkan
pada sisi Allah jauh lebih mulia dan terhormat dari mereka yang
mengolok-olokkan dan kaum wanita pun jangan saling mengolokkan Karen boleh jadi
wanita yang mengolok-olokkan ada sisi Allah SWT. Kedua, Allah melarang kaum
mukmin mencela diri mereka sendiri karena mereka bagaikan satu tubuh yang
diikat degan persatuan. Dan yang ketiga, kita dilarang pula panggil-memanggil
dengan gelar yang buruk seperti panggilan kepada seseorang yang sudah
beriman.
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah
kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan
janglah kamu mencari-cari kesalahan orng lain dan jangnlah sebagian kamu
menggunjingkan sebagian yang lain. Sukakah salah salah seorang di antara kamu
memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik
kepdanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat
lagi Maha Penyayang.” (Q.S Al-Hujurat: 12)
Untuk ayat 12 ini Allah menjelaskan
supaya kita menjauhkan diri dari su’udzan (Prasangka buruk terhadap orang-orang
beriman) dan memeraintahkan kita supaya menjaukahn diri dari prasangka karena
sebagian dari prasangka itu adalah dosa. Selain su’udzan, melalui ayat ini pula
Allah melarang kita untuk berbuat ghibah, namimah, dan mencari-cari kesalahan
orang lain.
REPORT
THIS AD
Adapun beberapa pengecualian
dibolehkannya ghibah adalah sebagai berikut:
1. Orang yang mazlam (dianiaya) menceritakan keburukan
orang yang menzaliminhya dalam rangka menuntut haknya.
2. Jika bertujuan memberi nasihat kepada kaum
muslimin tentang agama dan dunia mereka.
3. Dilakikan dengan niat baik dan mengharapkan ridha
Allah semata.
“Hai manusia, sesungguhnya Kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamua ialah orang-orang yang
paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal.” (Q.S
Al-Hujurat: 13)
Dalam ayat 13 ini Allah menjelaskan
kepada kita bahwa manusia diciptakan-Nya bermacam-macam bangsa dan suku supaya
saling megenal dan salaing menolong dalam kehidupan bermasyarakat. Dan tidak
ada kemuiliaan seseorang di sisi Allah kecuali dengan ketakwaannya. Selain itu
juga, dijelaskan dalam ayat ini bahwa persaudaraan islam berlaku untuk seluruh
umat manusia tanpa dibatasi oleh bangsa, warna kulit, kekayaan dan eilayah
melaimkan didasari oleh ikatan aqidah.
Komunikasi Antar Peradaban
Dalam Qs Al Kafirun
قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا
أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا
أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5)
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6)
Katakanlah, "Hai orang-orang yang
kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian bukan
penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah men]adi penyembah apa
yang kalian sembah, dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang
aku sembah. Untuk kalianlah agama kalian, dan untukkulah agamaku.”
Surat ini adalah surat yang menyatakan
pembebasan diri dari apa yang dilakukan oleh orang-orang musyrik, dan surat ini
memerintahkan untuk membersihkan diri dengan sebersih-bersihnya dari segala
bentuk kemusyrikan. Maka firman Allah Swt.:
{قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ}
Katakanlah, "Hai orang-orang
kafir.” (Al-Kafirun: 1)
mencakup semua orang kafir yang ada di
muka bumi, tetapi lawan bicara dalam ayat ini ditujukan kepada orang-orang
kafir Quraisy. Menurut suatu pendapat, di antara kebodohan mereka ialah, mereka
pernah mengajak Rasulullah Saw. untuk menyembah berhala-berhala mereka selama
satu tahun, lalu mereka pun akan menyembah sembahannya selama satu tahun. Maka
Allah Swt. menurunkan surat ini dan memerintahkan kepada Rasul-Nya dalam surat
ini agar memutuskan hubungan dengan agama mereka secara keseluruhan; untuk itu
Allah Swt. berfirman:
{لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ}
Aku tidak akan menyembah apa yang kalian
sembah. (Al-Kafirun: 2)
Yakni berhala-berhala dan sekutu-sekutu
yang mereka ada-adakan.
{وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا
أَعْبُدُ}
Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang
aku sembah. (Al-Kafirun: 3)
Yaitu Allah semata, tiada sekutu
bagi-Nya. Lafaz ma di sini bermakna man. Kemudian
disebutkan dalam firman berikutnya:
{وَلا أَنَا عَابِدٌ مَا
عَبَدْتُمْ وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ}
Dan aku tidak pernah menyembah apa yang
kalian sembah, dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku
sembah. (Al-Kafirun: 4-5)
Yakni aku tidak akan melakukan
penyembahan seperti kalian. Dengan kata lain, aku tidak akan menempuh cara itu
dan tidak pula mengikutinya. Sesungguhnya yang aku sembah hanyalah Allah sesuai
dengan apa yang disukai dan diridai-Nya. Karena itulah disebutkan oleh
firman-Nya:
{وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا
أَعْبُدُ}
dan kalian tidak pernah (pula) menjadi
penyembah Tuhan yang aku sembah. (Al-Kafirun: 5)
Artinya, kalian tidak mau menuruti
perintah-perintah Allah dan syariat-Nya dalam beribadah kepada-Nya, melainkan
kalian telah membuat-buat sesuatu dari diri kalian sendiri sesuai hawa nafsu
kalian. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَما
تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدى
Mereka tidak lain hanyalah mengikuti
sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan
sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. (An-Najm: 23)
Maka Rasulullah Saw. berlepas diri dari
mereka dalam semua yang mereka kerjakan; karena sesungguhnya seorang hamba itu
harus mempunyai Tuhan yang disembahnya dan cara ibadah yang ditempuhnya. Rasul
dan para pengikutnya menyembah Allah sesuai dengan apa yang telah diperintahkan
oleh-Nya. Untuk itulah maka kalimah Islam ialah 'Tidak ada Tuhan selain Allah,
Muhammad adalah utusan Allah.' Dengan kata lain, tiada yang berhak disembah
selain Allah, dan tiada jalan yang menuju kepada-Nya selain dari apa yang
disampaikan oleh Rasulullah Saw. Sedangkan orang-orang musyrik menyembah selain
Allah dengan cara penyembahan yang tidak diizinkan oleh Allah. Karena itulah
maka Rasulullah Saw. berkata kepada mereka, sesuai dengan perintah Allah Swt.:
{لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ}
Untuk kalianlah agama kalian dan
untukkulah agamaku. (Al-Kafirun: 6)
Semakna dengan apa yang disebutkan dalam
ayat lain melalui firman-Nya:
وَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقُلْ لِي عَمَلِي
وَلَكُمْ عَمَلُكُمْ أَنْتُمْ بَرِيئُونَ مِمَّا أَعْمَلُ وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا
تَعْمَلُونَ
Jika mereka mendustakan kamu, maka
katakanlah, "Bagiku pekerjaanku dan bagi kalian pekerjaan kalian. Kalian
berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap
apa yang kalian kerjakan.” (Yunus: 41)
Dan firman Allah Swt.:
لَنا أَعْمالُنا وَلَكُمْ أَعْمالُكُمْ
bagi kami amalan kami dan bagi kalian
amalan kalian. (Al-Baqarah: 139)
Imam Bukhari mengatakan bahwa
dikatakan: Untukmulah agamamu. (Al-Kafirun: 6) Yakni
kekafiran. dan untukkulah agamaku. (Al-Kafirun: 6) Yaitu agama
Islam, dan tidak disebutkan dini, karena akhir semua ayat memakai huruf nun,
maka huruf ya-nya dibuang. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain:
{فَهُوَ يَهْدِينِ}
maka Dialah yang menunjuki aku. (Asy-Syu'ara: 78)
Dan firman Allah Swt.:
{يَشْفِينِ}
Dialah Yang menyembuhkan aku. (Asy-Syu'ara: 80)
Selain Imam Bukhari mengatakan bahwa
sekarang aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah, dan aku tidak akan
pula memenuhi ajakan kalian.dalam sisa usiaku, dan kalian tidak akan menyembah
Tuhan yang aku sembah. Mereka adalah orang-orang yang disebutkan di dalam
firman-Nya:
وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيراً مِنْهُمْ مَا
أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْياناً وَكُفْراً
Dan Al-Qur’an yang diturunkan kepadamu
dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi
kebanyakan di antara mereka. (Al-Maidah: 64)
Ibnu Jarir telah menukil dari sebagian
ahli bahasa Arab bahwa ungkapan seperti ini termasuk ke dalam Bab "Taukid
(Pengukuhan)" sebagaimana yang terdapat di dalam firman-Nya:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً إِنَّ
مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan
ilu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Alain Nasyrah: 5-6)
Dan firman Allah Swt.:
لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ ثُمَّ
لَتَرَوُنَّها عَيْنَ الْيَقِينِ
niscaya kalian benar-benar akan melihat
neraka Jahim, dan sesungguhnya kalian benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul
yaqin. (At-Takatsur: 6-7)
Demikianlah menurut apa yang
diriwayatkan oleh sebagian dari mereka —seperti Ibnul Juzi dan lain-lainnya—
dari Ibnu Qutaibah; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Kesimpulan dari pembahasan di atas dapat
dikatakan bahwa ada tiga pendapat sehubungan dengan makna ayat-ayat surat ini.
Pendapat yang pertama adalah sebagaimana yang telah kami kemukakan di atas.
Pendapat yang kedua adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan
lain-lainnya dari ulama tafsir, bahwa makna yang dimaksud dari
firman-Nya: aku tidak pernah menyembah apa yang kalian sembah. Dan
kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. (Al-Kafirun: 2-3) Ini
berkaitan dengan masa lalu, sedangkan firman-Nya: Dan aku bukan
penyembah apa yang kalian sembah, dan kalian bukanpulapenyembah Tuhan yang aku
sembah. (Al-Kafirun: 4-5) Ini berkaitan dengan masa mendatang. Dan pendapat
yang ketiga mengatakan bahwa hal tersebut merupakan taukid (pengukuhan kata) semata.
Masih ada pendapat lainnya, yaitu
pendapat keempat; pendapat ini didukung oleh Abu Abbas ibnu Taimiyah dalam
salah satu karya tulisnya. Disebutkan bahwa yang dimaksud dengan
firman-Nya: aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah.
(Al-Kafirun:2) menafikan perbuatan karena kalimatnya adalah jumlah
fi'liyyah, sedangkan firman-Nya: Dan aku tidak pernah menjadi
penyembah apa yang kalian sembah. (Al-Kafirun: 4) menafikan penerimaan
tawaran tersebut secara keseluruhan, karena makna jumlah ismiyah yang
dinafikan pengertiannya lebih kuat daripada jumlah fi 'liyah yang dinafikan.
Jadi, seakan-akan yang dinafikan bukannya hanya perbuatannya saja, tetapi juga
kejadiannya dan pembolehan dari hukurn syara'. Pendapat ini dinilai cukup baik
pula; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Imam Abu Abdullah Asy-Syafii dan
lain-lainnya telah menyimpulkan dari ayat ini, yaitu firman-Nya: Untuk
kalianlah agama kalian, dan untukkulah agamaku. (Al-Kafirun: 6)
sebagai suatu dalil yang menunjukkan bahwa kufur itu semuanya sama saja, oleh
karenanya orang Yahudi dapat mewaris dari orang Nasrani; begitu pula
sebaliknya, jika di antara keduanya terdapat hubungan nasab atau penyebab yang
menjadikan keduanya bisa saling mewaris. Karena sesungguhnya semua agama selain
Islam bagaikan sesuatu yang tunggal dalam hal kebatilannya.
Imam Ahmad ibnu Hambal dan ulama lainnya
yang sependapat dengannya mengatakan bahwa orang Nasrani tidak dapat mewaris
dari orang Yahudi, demikian pula sebaliknya. Karena ada hadis yang diriwayatkan
dari Amr ibnu Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya yang mengatakan bahwa
Rasulullah Saw. telah bersabda:
«لَا يَتَوَارَثُ أَهْلُ مِلَّتَيْنِ شَتَّى»