Laman

Kamis, 01 November 2018

Komunikasi Spiritual Dalam Islam



Oleh : Ahmad Rifai

Apa Dan Mengapa Dengan Komunikasi
Komunikasi merupakan suatu proses sosial yang sangat mendasar dan vital dalam kehidupan manusia. Dikatakan mendasar karena setiap masyarakat manusia, baik yang primitif maupun yang modern, berkeinginan mempertahankan suatu persetujuan mengenai berbagai aturan sosial melalui komunikasi. Dikatakan vital karena setiap individu memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan individu – individu lainnya sehingga meningkatkan kesempatan individu itu untuk tetap hidup (Rakhmat, 1998:1). Kata komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris berasl dari bahasa Latin communis yang berarti “sama”, communico, communicatio, atau communicare yang berarti “membuat sama” (to make common). 
Istilah pertama (communis) adalah istilah yang paling sering sebagai asal usul komunikasi, yangmerupakan akar dari kata-kata Latin lainnya yang mirip. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama (Mulyana, 2005 : 4).

Secara paradigmatis, komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik langsung secara lisan maupun tak langsung melalui media (Effendy, 2006 : 5). Masih menurut Muyana, beliau memberikan makna komunikasi dari sudut yang lain. Beberapa pengertian komunikasi terkadang difahami dalam sudut yang sempit seperti komunikasi adalah penyampaian pesan, atau dimaknai teralu luas sebagai proses interaksi antar dua mahluk. Sehingga pelaku komunikasi tersebut bermakna lebih luas lagi bisa manusia, bisa hewan tumbuhan bahkan Jin. Sejatinya makna komunkasi tidak sesempit itud an tidak pula seluas yang kita bayangkan. Ada tigapemahaman mengenai komunikasi yakni komunikasi sebagai tindakan satu arah, komunikasi sebagai interaksi dan komunikasi sebagai transaksi (Mulyana, 2002;60).

Definisi spiritualitas menurut beberapa ahli :
·         Parks menggambarkan spiritualitas sebagai sebuah pencarian personal untuk menjadi berarti, transenden, menyadari keseluruhan jiwa, mencari tujuan, dan memahami spirit sebagai yang menghidupkan esensi pada hidup. Dewit-Weaver (dalam McEwen, 2004) mendefinisikan spiritualitas sebagai bagaian dari dalam diri individu (core of individuals) yang tidak terlihat (unseen, invisible) yang berkontribusi terhadap keunikan serta dapat menyatu dengan nilai-nilai transendental (suatu kekuatan yang maha tinggi/high power dengan Tuhan/God) yang memberikan makna, tujuan, dan keterhubungan.
·         Spiritualitas juga didefinisikan sebagai suatu tindakan untuk membuat dan mencari makna melalui rasa keterhubungan pada dimensi yang melebihi diri sendiri (Reed, dalam McEwen, 2004). Definisi lain menyatakan bahwa spiritualitas adalah prinsip hidup seseorang untuk menemukan makna dan tujuan hidup serta hubungan dan rasa keterikatan dengan sesuatu yang misteri, maha tinggi, Tuhan, atau sesuatu yang universal (Burkhardt, dalam McEwen 2004).
·         Tischler (2002) mengatakan bahwa spiritualitas mirip dengan suatu cara yang berhubungan dengan emosi atau perilaku dan sikap tertentu dari seorang individu. Menjadi seorang yang spiritual berarti zmenjadi seorang yang terbuka, memberi, dan penuh kasih. Larson (2003) menyatakan bahwa spiritualitas mengacu kepada orientasi seseorang terhadap pengalaman-pengalaman transedensi atau karakteristik hakiki dari kehidupan, seperti makna, arah dan tujuan hidup, serta keterkaitannya. Kadang-kadang spiritualitas mengacu pada pencarian hal-hal suci dalam kehidupan.
·         Spiritualitas merupakan sebuah bentuk multidimensi dan dinamis. Emmons (2003) mengatakan bahwa sangatlah terlalu sederhana untuk mengangg’ap spiritualitas sebagai tingkah laku yang pasif « lencarian aktivitas-aktivitas yang mengembalikan seseorang kepada rasa keterpaduan (coherence), menuju kualitas keutuhan dan kedamaian dalam diri.
·         Beberapa ahli menyamakan konsep spiritualitas dengan agama atau praktik-praktik keagamaan (Emblen & Halstead, 1993; dalam Smith, 1994). Menurut mereka, spiritualitas tidak bertentangan dengan agama, tetapi spiritualitas merupakan fenomena yang lebih inklusif. Bagi beberapa individu, spiritualitas bisa dihubungkan serta diungkapkan melalui agama formal, sedangkan bagi sebagian individu yang lain, spiritualitas dianggap tidak berkaitan dengan keyakinan-keyakinan keagamaan ataupun afiliasi keagamaan yang lainnya (Elkins, et al. 1998, dalam Smith 1994).
 Secara eksplisit, Piedmont (2001) memandang spiritualitas sebagai rangkaian karakteristik motivasional (motivational trait), kekuatan emosional umum yang mendorong, mengarahkan, dan memilih beragam tingkah laku individu. Lebih jauh, Piedmont (2001) mendefinisikan spiritualitas sebagai usaha individu untuk memahami sebuah makna yang luas akan pemaknaan pribadi dalam konteks kehidupan setelah mati (eschatological).        Elkins, dkk (dalam Smith, 1994) mendeskripsikan spiritualitas dari perspektif humanis dan eksistensial dengan menciptakan definisi dari tulisan- tulisan Maslow, Dewey, dan Frankl tentang potensi-potensi positif manusia. Elkins, dkk. kemudian memandang spiritualitas sebagai suatu fenomena yang secara potensial berada di dalam diri setiap manusia. Menurut mereka, spiritualitas dapat diartikan sebagai jalan untuk menjadi serta mengalami kesadaran spiritual yang diperoleh melalui kesadaran dimensi transendental yang ditandai oleh nilai-nilai yang mampu diidentifikasi baik yang datang dari diri sendiri, orang lain, alam, kehidupan maupun nilai-nilai yang mengarahkan seseorang untuk mencapai tujuan puncak (Ultimate).
Dimensi Spiritualitas
Elkins, dkk (dalam Smith, 1994) menjelaskan adanya sembilan dimensi dalam spiritualitas yang berdasarkan studi literatur yang telah dilakukannya adalah sebagai berikut :
  1. Dimensi transenden
Orang spiritual memiliki kepercayaan/belief berdasarkan eksperensial bahwa ada dimensi transenden dalam hidup. Kepercayaan/belief disini dapat berupa perspektif tradisional/agama mengenai Tuhan sampai perspektif psikologis bahwa dimensi transenden adalah eksistensi alamiah dari kesadaran diri dari wilayah ketidaksadaran atau greater self. Orang spiritual memiliki pengalaman transenden atau dalam istilah Maslow “peak experience”. Individu melihat apa yang dilihat tidak hanya apa yang terlihat secara kasat mata, tetapi juga dunia yang tidak dapat terlihat.
  1. Dimensi Makna dan Tujuan hidup.
Orang spiritual akan memiliki makna hidup dan tujuan hidup yang timbul dari keyakinan bahwa hidup itu penuh makna dan orang akan memiliki eksistensi jika memiliki tujuan hidup. Secara aktual, makna dan tujuan hidup setiap orang berbedabeda atau bervariasi, tetapi secara umum mereka mampu mengisi “exixtential vacuum” dengan authentic sense bahwa hidup itu penuh makna dan tujuan.
  1. Dimensi Misi Hidup.
Orang spiritual merasa bahwa dirinya harus bertanggung jawab terhadap hidup. Orang spiritual termotivasi oleh metamotivasi, yang berarti mereka dapat memecah misi hidupnya dalam target-target konkrit dan tergerak untuk memenuhi misi tersebut.
  1. Dimensi Kesucian Hidup.
Orang spiritual percaya bahwa hidup diinfus oleh kesucian dan sering mengalami perasaan khidmad, takzim, dan kagum meskipun dalam setting nonreligius. Dia tidak melakukan dikotomi dalam hidup (suci dan sekuler; akhirat dan duniawi), tetapi percaya bahwa seluruh kehidupannya adalah akhirat dan bahwa kesucian adalah sebuah keharusan. Orang spiritual dapat sacralize atau religionize dalam seluruh kehidupannya.
  1. Dimensi nilai-nilai material/material values.
Orang spiritual dapat mengapresiasi material good seperti uang dan kedudukan, tetapi tidak melihat kepuasan tertinggi terletak pada uang atau jabatan dan tidak mengunakan uang dan jabatan untuk menggantikan kebutuhan spiritual. Orang spiritual tidak akan menemukan kepuasan dalam materi tetapi kepuasan diperoleh dari spiritual.
  1. Dimensi Altruisme.
Orang spiritual memahami bahwa semua orang bersaudara dan tersentuh oleh penderitaan orang lain. Dia memiliki perasaan/sense kuat mengenai keadilan sosial dan komitmen terhadap cinta dan perilaku altrusitik.
  1. Dimensi Idealisme.
Orang spiritual adalah orang yang visioner, memiliki komitmen untuk membuat dunia menjadi lebih baik lagi. Mereka berkomitmen pada idealisme yang tinggi dan mengaktualisasikan potensinya untuk seluruh aspek kehidupan.
  1. Dimensi Kesadaran Akan Adanya Penderitaan.
Orang spiritual benarbenar menyadari adanya penderitaan dan kematian. Kesadaran ini membuat dirinya serius terhadap kehidupan karena penderitaan dianggap sebagai ujian. Meskipun demikian, kesadaran ini meningkatkan kegembiraan, apresiasi dan penilaian individu terhadap hidup.
  1. Hasil dari spiritualitas
Spiritualitas yang dimiliki oleh seseorang akan mewarnai kehidupannya. Spiritualitas yang benar akan berdampak pada hubungan individu dengan dirinya sendiri, orang lain, alam, kehidupan dan apapun yang menurut individu akan membawa pada Ultimate.
Kemudian Smith (1994) merangkum sembilan aspek spiritualitas yang diungkapkan oleh Elkins, dkk. tersebut menjadi empat aspek sebagaimana berikut:
  1. Merasa yakin bahwa hidup sangat bermakna. Hal ini mencakup rasa memiliki misi dalam hidup.
  2. Memiliki sebuah komitmen terhadap aktualisasi potensi-potensi positif dalam setiap aspek kehidupan. Hal ini mencakup kesadaran bahwa nilai-nilai spiritual menawarkan kepuasan yang lebih besar dibandingkan nilai-nilai material, serta spiritualitas memiliki hubungan integral dengan seseorang, diri sendiri, dan semua orang.
  3. Menyadari akan keterkaitan dalam kehidupan. Hal ini mencakup kesadaran akan musibah dalam kehidupan dan tersentuh oleh penderitaan orang lain.
  4. Meyakini bahwa berhubungan dengan dimensi transendensi adalah menguntungkan. Hal ini mencakup perasaan bahwa segala hal dalam hidup adalah suci.
Sementara itu, Piedmont (2001) mengembangkan sebuah konsep spiritualitas yang disebutnya sebagai Spiritual Transcendence, yaitu kemampuan individu untuk berada di luar pemahaman dirinya akan waktu dan tempat, serta untuk melihat kehidupan dari perspektif yang lebih luas dan objektif. Perpektif transendensi tersebut merupakan suatu perspektif di mana seseorang melihat satu kesatuan fundamental yang mendasari beragam kesimpulan akan alam semesta. Konsep ini terdiri atas tiga aspek, yaitu:
  1. Prayer Fulfillment (pengamalan ibadah), yaitu sebuah perasaan gembira dan bahagia yang disebabkan oleh keterlibatan diri dengan realitas transenden.
  2. Universality (universalitas), yaitu sebuah keyakinan akan kesatuan kehidupan alam semesta (nature of life) dengan dirinya.
  3. Connectedness (keterkaitan), yaitu sebuah keyakinan bahwa seseorang merupakan bagian dari realitas manusia yang lebih besar yang melampaui generasi dan kelompok tertentu.
Komunikasi Spiritual dalam Islam
Sebagai agama wahyu, tentunya islam memilki konsep besar dalam makna spiritual. Didalam islam spiritual dimaknai sebagai bentuk ketundukan pada sang Khalik. Bentuk tersebut diwujudkan dalam ibadah yang menajdi ciri umat islam. Ibadah dalam islam adalah bukti spiritualitas dalam beragama. Agama memang tak pernah bisa dilepaskan dari kerohanian (spiritualitas). Agama tanpa spiritualitas bukanlah agama, hanya simbol-simbol tanpa makna. Dan, karena itu, ia tiak melahirkan dampak apa-apa. Bahkan, sungguh tak perlu ada keraguan untuk mengatakan: alpha-omega agama adalah kerohaniahan. Bermula dari janji keimanan kepada Tuhan, yang diikrarkan saat (cikal) manusia masih bersifat rohani dan berakhir ketika manusia menjadi sepenuhnya rohani lagi setelah mati.
 Ibadah kurban adalah sebuah ritus yang memberikan pelajaran simbolik akan keikhlasan dan kepasrahan/kelurusan (hanifiyah) dari Ibrahim dan Ismail (Ishak). Ia memang sepenuhnya melibatkan aspek batin atau kerohaniahan manusia Ibrahim dan anaknya, bukan ritual pengorbanan yang bersifat fisik belaka. Bahkan, kenyataan bahwa pengorbanan anak manusia itu sendiri dibatalkan oleh Tuhan dan digantikan dengan seekor domba membuktikan, yang bersifat fisik hanyalah simbol belaka. “Daging-daging dan darah (hewan kurban) tak sekali-kali dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaan (kesadaran keilahian) (yang mendasari ibadah kurban itu)-mu itulah yang akan mencapai-Nya (Q.S 22:37).  Yakni, kesadaran keilahian yang sepenuhnya bersifat maknawi atau rohani itu. Ketakwaan itulah yang menjadi makna spiritualitas dalam islam, muara dari semua ibadah yakni munculnya derajat takwa dalam diri seorang muslim.
Berdasarkan paradigma Laswell, komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media menimbulkan efek tertentu. (Effendy, 2007:7). Berbagai defenisi spiritual menurut sudut pandang masing-masing. Mahmoodishan (2010) dan Vlasblom (2012) mendefenisikan spiritualitas merupakan konsep yang luas, sangat subjektif dan individualis, diartikan dengan cara yang berbeda pada setiap orang. Spiritualitas adalah kepercayaan seseorang akan adanya Tuhan, dan kepercayaan ini menjadi sumber kekuatan pada saat sakit sehingga akan mempengaruhi keyakinannya tentang penyebab penyakit, proses penyembuhan penyakit dan memilih orang yang akan merawatnya (Blais et al, 2002; Hamid, 2008).
Spiritual mengandung makna rohaniah atau batin. Selalu berkata jujur, tidak pernah bohong (Saefullah, 2007). Menurut Nina syam (2006) komunikasi spiritual adalah komunikasi yang terjadi antara manusia dan Tuhan atau berkenaan dengan agama, melalui amalan-amalan batin, seperti sholat, berdoa zikir dan lain-lain. komunikasi dalam spritual adalah bentuk komunikasi kita dengan sang pencipta. Bentuk yang paling konkritnya adalah doa, dari sabda Rasulullah doa adalah ibadah. Dari hadits tersebut dapat kita telaah dalam setiap ibadah-ibadah yang telah kita lakukan selalu terkandung doa didalamnya yang kita lakukan untuk berkomunikasi dengan-Nya baik itu membaca Al-Quran, berdzikir, shalat, berzakat, berpuasa, dan berhaji.
Secara sederhana komunikasi spiritual dapat digambarkan dalam model stimulu srespon. Model S-R adalah moidel komuniksi spiritual, karena pada dasarnya manusi amelakukan komunikasi langsung dengan Allah SWT.
Komunikator
(Doa,Salat,Dll)
Allah SWT

Doa Dikabul
 





Dari model S-R daiatas, dapat difahami bahwa bentuk stimulus dari adanya komunikasi spiritual yakni adanya kebutuhan manusia akan hajat hidupnya. Maka manusia sebagai komunikator melakujkan deliveri massage kepada Allah SWT, melalui ibadah ritual, apakah salat, zakat hajai dan doa sekalipuin. Ketika hamba berdoa maka ketika itupu;la ia sedang melakukan komunikasi spiritual dengan snga Khalik. Pesan yang diterima oleh Allah berupa permohonan ampunan, dosa, atyau keinginan yang diinginkan oleh hambanya.
Perbedaan yakni terletak pada respon yang diberikan oleh Allah SWT, jika dalam komunikasi antar manusia pesan tersebut didapat dari komunikator direspon berup[a tanggapan atau perubahan sikap dan prilaku. Namun dalam komunikasi spiritual respon tersebut di jawab oleh Allah berupa dikabulkannya doa dan harapan yang dimaksud. Respon berikutnya disamapaikan oleh Allah berupa balasan yang setimpal atas segala kebaikan yang pernah ditanam manusia selama hidupnya.

Walahualam bishowab





Rabu, 24 Oktober 2018

Konsep Penelitian


konsep, variabel, teori, asumsi, serta hipotesis pada metodologi penelitian.Konsep adalah istilah dan definisi yang digunakan untuk menggambarkan gejala secara abstrak, contohnya seperti kejadian, keadaan, kelompok. ... Proposisi adalah hubungan yang logis antara dua konsep

Kerangka konseptual penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antarakonsep satu terhadap konsep yang lainya dari masalah yang ingin diteliti.Kerangka konsep ini gunanya untuk menghubungkan atau menjelaskan secara panjang lebar tentang suatu topik yang akan dibahas

Dasar-dasar dalam Penelitian Pendidikan 1. ... Sukmadinata (2011) menjelaskan bahwa penelitian merupakan suatu proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara sistematis dan logis untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Adapun pengumpulan data dan analisis data menggunakan metode ilmia

Senin, 22 Oktober 2018

Ihtiar Penerapan Komunikasi dalam Islam


DAKWAH DAN KOMUNIKASI PART2
(Prinsip-Prinsi Komunikasi dalam Islam)
Matkul : Kapita Selekta Islam dan Komunikasi

Penerapan Komunikasi dalam Islam
Dalam berdakwah, tetunya semua dai dan mubaligh berkomunikasi dengan jamaahanya. Tak satupun mubaligh yang hendak berdakwah ia tidak melakukan proses komunikasi. Dakwah dengan lisan (komunikasi verbal) adalah salah satu cara dai/mubaligh untuk menyampaikan ide dan gagasan dalam dakwahnya. Sejak awal aquran telah memberikan batasan pada manusia untuk melakukan komunikasi (dakwah) kepada masyarakat sesuai dengan kapasitas keilmuan masyarakat tersebut. Tentunya factor budaya menjadi salah satu pertimbangan dalam proses dakwah yang disampaikan. Jangan samapai komunikasi yang disampaikan oleh para mubaligh tidak sesuai dengan dinamuka budaya yang berkembang di suatu masyarakat tersebut.
Rasululah telah memberikan isyarat bahwa dalam berakwah dan berkomuniaksi dengan masyarakat itu harus esuai dengan takarannya “ala qadri uqulihim” hadis tersebut memberikan isyarat pada kita untuk cerdas melihat budaya yang berkembang di suatu masyarakat, maka hakikat komunikasi dalam islam yakni mengenal budaya dan kebiasaan masyarakat tersebut sebelum jauh melakukan proses dialog secara panjang. Maka pendekatan komunikasi lintas budaya menjadi elemen penting dalam penguasaan konsep komunikasi di dalam islam. Dimana kita fahami bahwa Komunikasi Lintas budaya adalah proses dimana dialihkan ide atau gagasan suatu budaya yang satu kepada budaya yang lainnya dan sebaliknya, dan hal ini bisa antar dua kebudayaan yang terkait ataupun lebih, tujuannya untuk saling mempengaruhi satu sama lainnya, baik itu untuk kebaikan sebuah kebudayaan maupun untuk menghancurkan suatu kebudayaan, atau bisa jadi sebagai tahap awal dari proses akulturasi (penggabungan dua kebudayaan atau lebih yang menghasilkan budaya baru.
Dalam menympaikan pesan-pesan risalahnya, tentu tidak bias berdiri sendiri hanya dengan mengaIndalkan  lisan, melainkan komunikasi yang efektif begitu dibutuhkan dalam dakwah. Melalui kounikasi yang efektif inilah seorang mubaligh akan mendapat feedback dari jamaahnya. Ketika proses komuikasi ini terjadi,terdapat feedback dari jamaahnya, maka ketika itu dakwah sudah terjalin dua arah, dimana komunikator dengan mudah mengekpresikan perasaannya, memelihara kedekatan, mengatur suara, serta merumuskan pesan untuk menyapa audiennya, Karena itu mudah difahami bahwa aplikasi komunikasi bagi para mubaligh sangat bermanfaat dalam rangka menyampaikan pesan-pesan agama kepada para jamaahnya.
Seperti jiga para wali yang menyenandungkan pesan-pesan itu lewat uara gamelan yang sesuai dengan jamananya. Seperti diisyaratkan oleh sejarah, para wali adalah komunikator handal yang cerdas membaca zaman sekaligus pandai memanfaatkan bahsa umatnya. Juru dakwah, mubaligh, penyeru agama dan wali adalah actor komunikasi yang piawai menyampaikan pesan-pesan Tuhan dalam Bahasa yang mudah diterima.
Peran Jurnalis dalam Komunikasi Islam
The Council on American Islamic Relations (CAIR) merasa perlu berterima kasih pada CNN atas poeran positifnya dalam menyebarkan informasi islam ecara objektif dan terbuka. Penyerluasan islam seperti yang dilakukan oleh CAIR dilakukan karena situasinya dipandang positif, terutama setelah opini public terbentuk. CNN telah membentuk citra baru tentang islam yang berbeda dari bangunan citra sebelumnya. Halini menunjukan bahwa peran jurnalis dalammenyebarkan pesan-pesan keisalaman cukup efektif di amerika. Komunikasi islam melalui para jurnalis begitu memiliki peranan penting dalam perkembangan islam di Amerika juga berperan aktif dalam membangun citra islam di Amerika.
Terlebih lagi pada era informasi seperti sekarang ini, usaha tersebut menjadi sangat mudah karena di dukung oleh tersedianya media massa yang memadai. Peranan jurnalis alam mengkomunikasikan islam sangat terbuka, peristiwa yang berkaiatand engan dunia islam baik itu politik sosiall dan ekonomi, dapat disebarluaskan denganmudah melalui teknologi komunikasi dan informasi. Penggunaan media sebagai alat propaganda sudah tidak dapat lagi di bending, media menjelma menjadi alat untuk menusuk dan m,enikam lawan.
Mc Luhan yang terkenal dengan teori perpanjangan tangan alat indra, menyebutkan bahwa media merupakan perluasan dari alat indra. Melalui media kita bias menikmati peristiwa-peristiwa dunia yang terjadi pada saat yang sama telinga kita bias memanjangkan sketika dengan bantuan telepon, seoarang mubaligh dapat menyampikan pesan-pesan agamanya melalui media massa yang ada. Dengan adanya seperti itu, sejatiya setiap juru dkwah dapat menyebarluaskan dakwahnya keberbagai pelosok negeri tanpa perlu memikirkan transportasi lagi. Karena sentuhan-sentuhan komunkasi dengan jamaahnya dapat di maksimalkan melalui media yang tersedia, baik melalui media elektronik maupun media maya.
Melalui cara seperti itu, seorang mubaligh dapat mengkomunikasikan pean-pesan keislamannya pada ruang dan tempo yang sama dapat menjangkau ratusan, bahkan jutaan public pembaca ataupun pendengar. Media jurnalistik telah memainkan peranan yang cikup besar bagi kpentingan dakwah islam. Pada sisi ini lah dipandang perlunya kemampuan jurnalistik dimiliki oleh lembaga-lembaga dkwah islam. Karena melalui pemahaman kan jurnalistiklah mereka dapat mengolah pesan dan menyampaikan pesan-pesan quran kepada seluruh khalayak dengan tepat guna dan tepat sasaran.
Pers dan Penyebaran Pesan-Pesan Agama
Pers, baik itu cetak maupun elektronik merupakan media alternative yang efektif untuk dijadikan alat komunikasi massa. Efektif karena kekuatan daya persuasinya yang mampu menembus daya rasa dan daya piker para pembaca dan pendengarnya. Efisien karena pembaya dan pendengarnya sangat luas bias menjangkau puluhan bahkan jutaan pendengar dalam satu kali siaran. Munculnya pers yang bernuansa agama mengindikasikan bahwa adanya respon positif atas kecenderungan masyarakat dalam beragama. Maalah-masalah yang menyangkut pemahaman keagamaan, pembaharuan pemikiran islam, aspirasi umat dan lain-laian akan dpat dengan mudah di kaji dan didekati dengan kacamata dan melalui media komunikasi.
Ronal Compesi, pernah melakukan risset media massa pada program televise All My Children di Oregon Amerika. Hasil yang didapat dari 221 penonton acara tersebut bahwa salah satu alasan mereka menonton acara tersebut yakni untuk melarikan diri dari masalah yang dihadapinya. Karena mereka membutuhkan nasihat-nasihat yang terdapat dalam acara tersebut. Hal ini menunjukan bahw kebutuhan spiritualitas semakin meningkat, maka komunikasi yang efektif melalui program-program media massa perlu di tingkatkan kualitas dan kuantitasnya.
Fenomena semakin derasnya arus sajian rubric keagamaan pada media massa, baik cetak maupun elektronik telah mendorong para pemogram acara ataupun pengasuh rubric untuk lebih serius mengelola pesan dakwahnya di media.
Disini diperlukan suatu metode yang tepat bagaimana seseorang mampu menyiasati massa melalui penggunaansuatu media. Bagi para juru dakwah bagaimana mereka mampu menafaatkan media itu sevara tepat, memindahkan bahsa mimbar menjadi Bahasa koran, mendesaian gaya tabligh akbar dilapangan terbuka menjadi suatu program acara mimbar agama islam di televise yangsingkat tetapi menarik perhatian pemirsa. Begitupun dalam merancang dakwah di media-medai social berbasis internet, kemapuan seorang dai dalam merancang program dakwahnya patut di perhitungkan, itu semua dapatterjadi jika semua elemen islam memahami pentingnya dan urgensi komunikasi massa.
Itulah sebabnya untuk mewujudkan rancangan ideal sajian agama di media massa, perlu terus dikembangkan kolaborasi produktif antara ulama dan media massa. Ulama menanfaatkan media massa lewat usaha merumuskan tema-tema keagamaan untuk dikomunikasikan kepada masyarakat, dan insan pers juga dapat meningkatkan pengetahuannya dalam menterjemahkan tema-tema itu kedalam pesan-pesan komunikasi agama yang lebih universal.
Lewat media massa juru dakwah dapat mengunjungi rumah-rumah, kantor-kantor bahkan kamar rahasia sekalipun, untuk membisikan pesan etika dan moral. Melalui pesan-pesan persuasinya media massa akan menghadirkan nilai-nilai moral dan agama secara universal, sekaligus menghindario munculnya kesan eklusif. Globalisasi informasi yang berkembang saat ini tidak menutup kemungkinan akan mengahirkan phenomena baru. Bahwa bukan hanya umat islam yang akan mengkonsumsi materi-materi dakwh yang disamapikananya, bias jadi umat di luar islam puna kan mengakses hal yang sama. Mereka dapat denga mudah membaca mengamati dan mengkaji aajaran-ajaran islam yang disampaikan melalui media massa.

Jumat, 19 Oktober 2018


DAKWAH DAN KOMUNIKASI


A.    Pendahuluan
Dinamika dakwah yang berkembang saat ini masih menunjukan pasang surut yang dalam pengamatan penulis masih terus menjajaki konsitensinya gerakannya. Atau mungkin satu hal yang perlu penulis pertanyakan, sebetulnya bagaimana respon dan dampak dari adanya gerakan dakwah yang acapkali dilakukan dengan berbagai sistematika. Secara kasat mata, kita bisa menyaksikan berbagai variasi dari gerakan dakwah yang kali ini mulai banyak fenomena.
Bila diurutkan, setidaknya penulis dapat mengkategorikan dakwah yang dimasuk dalam berbagai hal. Pertama ada yang melakukan dakwah dengan pendekatan politik dan kekuasaan. Golongan yang satu ini mengatakan bahwa dengan syiasah dakwah atau dakwah politik, ini bisa membangun peradaban Islam yang madani. Karena unsur-unsur kekuasaan dapat dikuasai oleh para dai. Golongan yang ini bisaanya diwakili oleh beebrapa partai politik yang menamakan diri sebagai partai dakwah atau partai Islam. Kedua, ada yang bersintesa bahwa gerakan dakwah yang dimaksud untuk mengembalikan kemulyaan Islam yakni dengan mendirikan Negara Islam. Golongan yang satu ini diwakili oleh gerakan dakwah hijbut tahrir. Ketiga adanya gerakan dakwah yang menitik beratkan pada pembentukan kulur.  Atau gerakan dakwah kultural  yang bisaanya diwakili oleh para ormas Islam dalam dakwahnya.
Dalam makalah ini, penulis ingin mencoba melihat, masyarakat sebagai bagian terpenting dalam pelaksanaan komunikasi. Artinya, antara dakwah dan komunikasi itu tidak akan bisa dipisahkan. Meskipun ada sebagian golongan yang menganggap adanya dakwah bil hall –dakwah dengan menampilkan perilaku terpuji- namun tetap saja dalam pandangan ilmu komunikasi itu digolongkan kepada komunikasi simbolik, atau komunikasi nonverbal.
Karena itulah makalah ini ingin memfokuskan bahwa bagaimana masyarakat bila ditinjau dalam komunikasi serta bentuk-bentuk komunikasi, sebagai bagian penting dalam proses dakwah yang terjadi. Sehingga dalam akhir pembahasan diharapkan mampu terjawab, bagaimana unsur-unsur yang terdapat dalam komunikasi mampu melihat serta memprediksi kegiatan dakwah yang sudah berjalan atau yang akan dijalankan kembali.

B.     Dakwah dalam tinjauan Komunikasi
Keumuman orang, memandang  dakwah sebagai suatu kegiatan yang multi tafsir dan pemahaman, setidaknya dakwah difahami sebagai suatu penerangan. Artinya mempunyai suatu tujuan tertentu sekurang-kurangnya menarik orang atau memberikan pengertian kepada orang lain tentang sesuatu hal. Penerangan lebih cenderung kepada pasif artinya tidak memerlukan reaksi yang nyata dari orang yang menerima penerangan itu[1].   Selain itu dakwah juga disamakan dengan penyiaran. Karena penyiaran juga salah satu dari dakwah atau salah satu cara dari pelaksanaannya. Tetapi  penyiaran bisa dipergunakan untuk penjelasan yang sudah ada pokok-pokok pesoalannya, dan bsia pula dipergunakan untuk menyiarkan persoalan-persoalan pokok.
Sehingga dakwah difahami sebagai usaha-usaha menyerukan dan menyampaikan kepada perorangan manusia dan seluruh umat manusia konsepsi Islam tentang pandangan dan tujuan hidup manusia di dunia ini, dan yang meliputi amal makruf dan nahyi mungkar dengan berbagai macam cara dan media yang diperbolehkan ahklak dan membimbing pengalamannya dalam kehidupan bermasyarakat[2].  sedangkan Ali Mahfudz mendefinisikan dakwah sebagai suatu kegiatan memotiofasi manusia untuk berbuat kebajikan, mengikuti petunjuk, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, agar mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Dari beberapa definisi diatas, meskipun digolongkan pada definisi yang telah lama ada, setidaknya dapat difahami bahwa tidak ada salah satu unsur dakwah pun yang lepas dari komunikasi. Baik itu ketika dakwah difahami sebagai kegiatan menyeru,  mengajak atau memberikan informasi kesemua itu menggambarkan akan adanya hubungan komunikiasi satu sama lainnya. Meskipun Saudra Hybles, memberikan makna bahwa komunikasi ialah proses pertukaran informasi, gagasan, dan perasaan. Proses itu meliputi informasi yang disampaikan tidak hanya secara lisan dan tulisan, tetapi juga dengan bahasa tubuh, gaya maupun penampilan diri, atau menggunakan alat bantu di sekeliling kita untuk memperkaya sebuah pesan. Sementara  Billie J Walhstrm mengungkapkan komunikasi ialah (1) pernyataan diri yang efektif, (2) pertukaran pesan-pesan yang tertulis, pesan-pesan dalam percakapan, bahkan melalui imajinasi, (3) pertukaran informasi atau hiburan dengan kata-kata melalui percakapan atau dengan metode lain, (4) pengalihan informasi dari seseorang kepada orang lain[3].
Artinya ketika ingin melihat dakwah atau lebih tepatnya proses dakwah yang telah berlangsung di masyarakat dalam sudut pandang komunikasi. Tidak cukup hanya memahami bahwa dakwah itu sebagai usaha mengajajak dan menyeru pada jalan Allah. Bila pemahaman itu hanya diartikan dalam arti sempit, maka tidak ada pencerahan yang bersifat linier antara dai dengan mad`u-nya. Sementara komunikasi mengharapkan adanya feedbek dalam proses komunikasinya, untuk terjalin pemahaman bersama. Tidak bisa difahami hanya sebatas penyampaian pesan dan ide yang dibawakan secara dogmatis.
Sekali lagi ingin saya tegaskan bahwa komunikasi itu merupakan bentuk hubungan interpersonal dengan mana, dapat dikatakan orang dapat mengadakan kontak dengan isi pikiran orang lain. Mekanisme komunikasi meliputi pengkodean informasi melalui simbol-simbol tingkah laku pengirim dan penerimaan simbol-simbol itu melaui  persepsi, dan penguraian kode-nya. Dalam pertukaran pesan atau berita ataupun  pertukaran itu telah terjadi secara jujur dan cukup tepat, maka penerimaan dan pengirim berita mempunyai informasi yang hampir sama[4].
Keberhasilan komunikator dalam komunikasi, yakni dengan menguji keberhasilan pertukaran informasi mereka melalui feedback, yaitu dengan melihat tanda-tanda pada tingkah laku orang lain  lain yang melibatkan efek-efek penerima berita sebelumnya[5]. Artinya komunikasi memandang bahwa salah satu keberhasilan dalam adanya proses komunikasi yakni dengan melihat sejauh mana perubahan perilaku yang di tampilkan oleh penerim pesan.
Nah! ketika analogi ini dimasukan dalam melihat dakwah sebagai salah satu kegiatan yang tidak pernah dan tidak akan lepas dari komunikasi. Maka dakwah ketika ingin dilihat dari sudut pandang ilmu komnikasi maka salah satu butir untuk melihat bagaiman keefektipan dari dakwah itu sendiri yakni dengan melihat feedback yang diberikan oleh mad`u. Setelah feedback itu ditemukan atau difahami oleh pemberi pesan yaitu  dai. Maka dalam hal ini, tidak dikatakan terjadi proses dakwah jikalau tidak adanya  feedback dari mad`u serta tidak ada perubahan sikap yang dialami leh mad`u. Karena dakwah itu ialah proses pemberian pesan dengan disertai adanya respon dan perubahan sikap, jika dipandang dalam sudut pandang komunikasi.
 Dengan demikian pemahaman akan adanya proses dakwah yang sudah berlangsung dari dulu hingga sekarang, sudah sepatutmnya perlu kita renungkan kembali, atau bisa dirubah pemahaman bila diperlukan. Dengan demikian prosesi dakwah yang bisaanya kaku dalam metode komunikasi, melalui paper ini, ingin penulis sampaikan bahwa sebetulnya dakwah itu bisa dikemas dengan metode komunikasi yang efektif hingga bisa menggugah kesadaran para pendengar. Artinya model komunikasi dakwah yang perlu mendapat perhatian lebih jauh. Dengan komunikasi yang dikemas secara efektif dan efisien diharapkan inovasi-inovasi baru dalam pelaksanaan dakwah bisa dilahirkan selama proses itu berlangsung.
Dengan demikian, ketika mengguakan sudut pandang komunikasi dalam melihat dakwah, otomatis dengan sendirinya proses dalam pelaksanaan dakwah itupun harus dirubah. Meskipun Qs, An-Nahl ayat 125 menyerukan akan adanya kewajiban berdakwah bagi umat Islam.  Dalam hal ini tentunya dikatakan sebagai suatu kewajiban manusia untuk berdakwah, jelas sudah bahwa dakwah yang dimaksud pada awalnya syarat dengan nuansa teologis. Namun tatkala hendak ditinjau dalam konsep komunikasi, maka dakwah tidak bisa lagi hanya dipandang sebatas unsur teologis.
Melainkan dakwah harus diturunkan menjadi konsep Teologi-Humanis, karena dalam praksisnya dakwah tidak bisa dilepaskan dari manusia itu sendiri, sebagai mahluk yang senantiasa berkomunikasi satu sama lain. Maka dari itu pemahaman akan dakwah yang lebih humanis, melalui pendekatan komunikasi dengan adanya seruan-seruan persuatif tidak dokriner adalah suatu keharusan. Pengemasan bahasa yang membangun kesadaran bukan mengarahkan secara dikotomis nampakanya menjadi elemen utama jikalau tetap dakwah ingin dilihat dalam pandangan komunikasi. Singkat kata tidak ada salah satu unsur yang lepaspun dalam  dakwah yang terlepas dalam komunikasi. Semua bentuk dakwah tidak bisa lepas dari komunikasi baik verbal maupun nonverbal.

  1. Bentuk-Bentuk Komunikasi
Dalam melhiat  komunikasi yang terjadi di masyarakat, meskipun sekilas nampak begitu saja terjadi suatu komunikasi di masyarakat. Namun ingin penulis samapaikan bahwa pada dasarnya komunikasi tersebut sudah jauh-jauh hari digolongkan oleh para ahli ilmu komunikasi. Berikut penjelasan dari model-model komunikasi yang dimaksud:

1.      Model Retoris
Model retoris ialah model yang dicetuskan oleh Aristoteles, seorang filosofYunani terkemuka yang hidup pada tahun (340-335 SM). Model ini intinya ialah komunikasi melalui pendekatan persuasi. Ia berjasa dalam merumuskan model komunikasi verbal pertama. Komunikasi terjadi ketika seorang pembicara menyampaikan pembicaraannya kepada khalayak.
Pesan 
 
Pendengar 
 
Pembicara
 
                                                                                       Setting
 


                                                                                      Setting
           
Menurut Aristhoteles persuasi dapat dicapai oleh siapa anda (etos-kepercayaan anda), argument anda (logos-logika dalam pendapat anda), dan dengan memainkan emosi kalayak (Pathos-emosi khalayak)[6]. Salah satu kelemahan dari teori ini yakni, komunikasi dianggap sebagai fenomena yang statis. Seseorang berbicara, pesannya berjalan kepada khalayak dan khalayak mendengarkan. Tahap-tahap dalam peristiwa itu berurutan alih-alih terjadi secara simultan. Disamping itu, model ini juga berfokus pada komunikasi yang bertujuan (disengaja) yang terjadi ketika seseorang berusaha membujuk orang lain untuk menerima pendapatnya. Kelemahan lain dari model retoris ini adalah tdak dibahasnya aspek-aspek nonverbal dalam persuasi.

2.      Model Komunikasi Antar Pribadi-Wilbur Schramm
Model Scharuman yang satu ini, berkenaan dengan model komunikasi antarpersonal antara seseorang dengan orang lain. Schramm menganggap bahwa komunikasi sebagai interaksi dengan kedua belah pihak yang menjadi, menafsirkan, menyadi balik, mentransmisikan, dan  menerima sinyal[7].  Dalam komunikasi antar pribadi terdapat dua karakteristik penting, yakni: pertama, hubungan antarpribadi berlangsung melalui beberapa tahapan, mulai dari tahap interaksi awal sampai ke  pemutusan (dissolution). Kedua, hubungan antar pribadi berbeda-beda dalam keluasan (breadth) dan kedalamannya (dept)[8]. Kebanyakan hubungan mungkin semua, berkembang melalui tahap-tahap. Kita tidak menjadi kawan akrab segera setelah pertemuan terjadi. Kita menumbuhkan keakraban secara bertahap, emlalui serangkaian langkah atau tahap.

3.      Model Komunikasi Dua tahap
Model komunikasi dua tahap pertama kali ditemukanoleh Paul Lazarselfeld dan elihu Katz. Model komunikasi ini dimulai dengan tahap pertama sebagai proses komunikasi, massa dan tahapan berikutnya atau kedua sebagai proses komunikasi antarpersonal. Model ini pada awlanya merupakan model komunikasi yang berhubungan dengan komunikasi massa, karena komunikator pertama menyampaikan pesan lewat media massa, baik cetak maupun elektronik. Kemudian masing-masing anggota kelompok menyampaikannya kembali kepada orang lain dalam berbagai kesempatan dan tempat secara tatap muka[9].
Model ini menggmbarkan bahwa pesan lewat media massa diterima oleh individu-individu yang menaruh perhatian lebih pada media massa, sehingga mereka menjadi  orang yang informasi. Mereka inilah para opinion leader, yang akan menginterpretasikan setiap pesan yang diterimanya sesuai dengan Frame of reference dan field of experence. Kedua dia seorang opinion leader akan menyampaikannya kepada individu lain setelah ia interpretasikan. Opinion leader nampakannya masih amat diperlukan karena kondisi masyarakat Indonesia, amat diperlukan karena kondisi warga indonesia relatif masih jarang diterpa media massa.

D.    Masyarakat Komunikasi
Secara bahasa masyarakat itu diartikan sebagai pergaulan atau atau persekutuan, yang diambil dari bahasa arab : “syaroka, yusyariku, musyarokah “ yang kalau dalam bahasa inggris itu lebih dikenal dengan sebutan “society” . dalam al-quran masyarakat itu disebutkan dsebagai syu`ub, qaum, dan ummah  berbeda dengan hal diatas Parker mengartikan masyarakat sebagai suatu kelompok orang yang tinggal dalam satu wilayah, dan bekerja sama dengan organisasi-organisasi dan lembaga-lembaga yang dibentuk sesama mereka (1992:92).
 Realitas masyarakat, merupakan kenyataan dinamis dari berbagai cara pandang dan variasi perilaku individu, meskipun realitas itu seolah-olah dikotomi dengan kenyataan lain, bahwa manusia adalah creator kehidupan sosial yang potensial. Sebagaimana konsep masyarakat dan budaya berlaku, maka secara langsung atau tidak langsung potensi individu akan terjebak dalam sistem kehidupan normatif yang dapat menghentikan proses dinamis dari berbagai potensi individu yang dimaksud.
Disitulah peranan penting adanya komunikasi yang melingkari itu semua, artinya tanpa ada komunikasi yang berjalan di tengah masyarakat, maka nsicaya tidak ada hubungan yang akrab antar inidvidu. Secara langsung, maka tidak ada proses pembentukan norma dalam kehidupan ini jikalau tidak ada unsur komunikasi yang menghubungkan fungsi-fungsi sosial yang ada dalam masyarakat. Di antara para ahli komunikasi, ada yang menyebutkan bahwa konunikasi antar individu, dinilai efektip. Bagi yang setuju dengan pandangan tersebut, mereka menyebutkan bahwa ketika komunikasi antar individu berlangsung, komunikator dapat melihat seketika tanggapan komunikan, baik secara verbal dalam bentuk jawaban kata-kata maupun secara non verbal dalam bentuk gerak-gerik sehingga komunikator kadang-kadang mengulangi penyampaian pesannya untuk meyakinkan bahwa komunikan mengerti apa yang disampaikannya. Pengertian efektif dalam komunikasi antar individu ini ialah dalam hubungannya dengan perubahan sikap[10]. 
            Sedangkan komunikasi  sosial, memiliki tendensi yang berbeda tidak hanya sebatas menyampiakan pesan dan difahami pesan tersebut oleh komunikan. Lebih jauh dari itu, apa yang dikomunikasikan mempunyai pengaruh dan akibat terhadap hubungan sosial anggota masyarakat yang menerima apa yang disampaikan oleh komunikator. Komunikasi dalam kehidupan  sosial mempunyai kemampuan mengubah masyarakat demikian juga melalui komunikasi maka individu akan mampu  menyelesaikan diri dengan kemlompoknya[11].
Begitu penting dan menariknya komuniasi sosial dalam merubah tatan nilai dan norma sosial, Astrid Susanto, Ph.D, menjelaskan bahwa; komuhikasi sosial adalah suatu kegiatan yang lebih diarahkan kepada pencapaian suatu situasi integrasi sosial. Karena itu kegiatan komunikasi sosial adalah lebih intensif dari pada komunikasi massa. Titik pangkal dari suatu komunikasi sosial karenanya adalah bahwa komunikator dan komunikan perlu seia dan sependapat tentang bahan/materi yang akan dibahas dalamkegiatan komunikasi yang akan dilangsungkan.
Ditinjau dari segi ini suatu komunikasi sosial akan berhasil bila kedua belah pihak yang terlibat dalam proses komunikasi ini menganggap adanya manfaat dalam kegiatan komunikasi tersebut. Melalui komunikasi sosial inilah terjadi aktualisasi dari masalah-masalah yang dibahas. Selain kesadaran dan pengathuan tentang materi yang dibahas makin meluas dan bertambah. Melalui komunikasi sosial sekaligus sosialisasi. Melalui komunikasi sosial, kelangsungan hidup dari suatu kelompok sosial akan terjamin. Melalui komuniaksi sosial nilai-nilai budaya luhur dalam masyarakat akan terus terpelihara. Dan melalui komunikasi soial kesadaran masyarakat akan dipupuk, dibina, diperluas, serta melalui komuniaksi sosial masalah-masalah sosial akan dipecahkan melalui konsesus[12].
Inilah peranan penting dari suatu masyarakat yang berkomunikasi satu sama lainnya. Artinya dari hal ini dapat difahamai bahwa komunikasi tidak hanya sebatas menyampaikan pesan dan berita kepada khalayak yang diajak untuk bicara. Lebih jauh dari itu, komunikasi ini memiliki peranan penting dalam menghidupkan fungsi-fungsi sosial yang ada dalam masyarakat. Justru melalui komunikasi inilah suatu tatanan dalam masyarakat  akan terbentuk.
Karena itulah masyarakat komuniksai yakni masyarakat yang senantiasa terbentuk suatu kesepahaman bersama dalam membentuk aturan-aturan yang kemudian mampu diterapkan sebagai norma yang mengikat bagi penduduknya. Demikian pula dengan dakwah yang selama ini sudah berlangsung. Jika dengan komunikasi dapat terbentuk suatu norma dalam masyarakat, bahkan lebih jauh lagi bisa memcahkan berbagai persoalan yang dihadapi  oleh masyarakat.
Nampaknya begitupun dakwah pula harus bisa menjangkau hingga terbentuknya tatanan atau pranata sosial Islam. Tidak cukup hanya dilakukan dimesjid-mesjid melainkan harus menjelma menjadi suatu kesatuan yang utuh dalam tatanan kehidupna. Maka melalui komunkiasi inilah dakwah sudah saat bisa disosialisasikan dengan baik dan tepat sasaran. Sehingga kehidupan menuju khairo ummah yang dicita-citakan oleh para aktifis dakwah, bukan lagi bahasa langit yang mengapung nun jauh disana. Akan tetapi perlahan nan pasti kedepan khairo ummah yang dimaksud dapat menjelma menjadi kenyataan. Mengkomunikasi dakwah dengan efektif dan tepat guna ialah solusi yang perlu dicoba terus agar pembentukan, masyarakat madani bisa dapat tercapai.



PENUTUP
Demikianlah uraian singkat dalam makalah ini, mengenai dakwah dan komunikasi. Yang pada intinya dimanapun dan kapanpun kegiatan dakwah ini tidak akan bisa lepas dari unsur komunikasi. Bahkan  ketika hanya diam dan memberi suri tauladan pun itu sudah termasuk proses komunikasi, yang para pakar sebut sebagai komunikasi nonverbal. Sehingga ketika dakwah ingin dilihat dalam sudut pandang komunikasi, maka dalam aplikasinya dakwah tidak bisa hanya perpegang pada patokan teologis.
Pendekatanyang lebih lunak dan humanis, bisa dijadikan acuan dalam penerapan dakwah yang dimaksud tadi. Sehingga dengan menggunkan teknik komuniaksi yang tepat dan efisien, diharapkan hasil akhir dari adanya dakwah ini mampu menjelma dalam tatana kehidupan yang penuh dengan keserasian anatar nilai-nilai keislaman yang tertuang dalam Al-Quran. Dengan amalam praksis yang bisa diamati secara langsung baik dalam urusan ibadah –duniawiyah, maupun ibadah yang bertendesi kepada Allah. Inilah renungan dakwah yang ingin penulis utarakan dalam makalah ini.















DAFTAR PUSTAKA

Alo Liliweri, Dr., M.S. Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: LKIS. 2009
Dedi Mulayana. Ilmu Komunikasi; suatu pengantar. Bandung: Remaja Rosda Karya. 2002
Joseph A Devito. Komunikasi antar Manusia. Jakarta: Profesional Books. 1997
Ujang Saefullah. Model Komunikasi Dakwah Jamaah Tabligh. Dalam Jurnal Ilmu Dakwah. Volume 4 No. 14 Juni-Desember 2009
HM Thoha Yahya Omar. Islam dan Dakwah.. Jakarta: Zakia Islami Pres. 2004
Sayamsu Munil Mulkam. Rekontruksi Pemikiran Dakwah Islam. Jakarta: Amzah. 2008
Newcom. Psikologi Sosial. Bandung: CV Diponegoro. 1985
T.A.Latihief Rousydiy. Rethorika Komunikasi dan Informasi. Medan: Firma Rimbow Medan. 1995








[1] HM Thoha Yahya Omar. Islam dan Dakwah. (Jakarta: Zakia Islami Pres, 2004) hal 67
[2] Sayamsu Munil Mulkam. Rekontruksi Pemikiran Dakwah Islam.( Jakarta : Amzah, 2008) hal 5
[3] Alo Liliweri, Dr., M.S. Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya. (Yogyakarta: LKIS, 2009) hal 3-4
[4] Newcom. Psikologi Sosial. (Bandung: CV Diponegoro, 1985) hal 294
[5]  Newcomb. Ibid. hal 294
[6] Dedi Mulayana. Ilmu Komunikasi; suatu pengantar. (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2002) hal 34
[7] Dedi Mulayana.Ibid. hal 140
[8] Joseph A Devito. Komunikasi antar Manusia. (Jakarta: Profesional Books, 1997) hal 232
[9] Ujang Saefullah. Model Komunikasi Dakwah Jamaah Tabligh. Dalam Jurnal Ilmu Dakwah. Volume 4 No. 14 Juni-Desember 2009
[10] T.A. Latihief Rousydiy. Rethorika Komunikasi dan Informasi. (Medan: Firma Rimbow Medan, 1995) hal 87
[11] T.A. Latihief Rousydiy. Ibid. hal 87-88
[12] T.A Lathief Rousydiy..Ibid .  hal 90