INTERELASI DAKWAH DENGAN SAIN DAN TEKNOLOGI
Dinamaika perkembangan dakwah pada
dasawarsa kalai ini tidak bisa dilepaskan dengan konteks teknologi. Mungkin,
dampak dari globalisasi lah yeng menyebabkan dakwah mengalami era baru dengan
bersentuhannya dakwah dengan teknologi. Tidak cukup sampai disana, bahkan
pengfaruh kuat reknologi, sampai-sampai menjelma menjadi idiologi baru dalam
menggiring masyarakat untuk mengikuti “tren” hari ini yang mereka anggap
sebagai modern.
Pengaruh dari adanya perkembangan sain
dan teknologi memenga sangat kuat dirasa. Dimulai dari penyebaran informasi
yang serba cepat, perubahan perilaku yang signipikan, hingga pada pengkultusan
pada salah satu trend “modern” yang berakibat manusia bisa lepas dari kemanusiaannya. Yang terjadi hanyalah
manusia yang penuh dengan kesibukan pribadi yang berujung pada terpecahnya
persaudaraan akibat satu kata yakni “persaingan”.
Tidak cukup samapai disana,
problematika hari ini yang dihadapi oleh masyarakat industry, dimana ruang komunikasi digital
semakin terbuka lebar hingga mask pada ruang-ruang privat (baca: teknologi
komunikasi dengan menggunakan fasilitas internet) semakin mempojokkan seseorang
untuk berdimensi di ruang maya. Pertanyaan yang muncul ialah seberapa jauh
masyarakat memanfaatkan teknologi untuk mencari informasi yang berguna bagi
kehidupannya.
Pertanyaanberikutnya, bagaiaman
kaitannya dengan dakwah? Akankah dakwah yang selama ini telah berlangsung
lambat laun akan ditelan oleh gemerlapnya teknologi internet. Dimana hanya
ruang kosong yang menjadikan mansuia mampu berinteraksi dengan yang lain dalam
virtual word tanapa realita. Disinilah diperlukan aggasan baru mengenai dakwah
dalam trend baru yang bisa menjangkauy pada aspek-aspek teknologi. Artinya
kedepan rumusan dakwah harus mampu masuk pada setiap sendi-sendi kehidupan. Dan
bukan saatnya lagi mengartukan dakwah sebagai ceramah, khutbah dan
poidato-pidato di mesjid saja. Melainkan setiap aktifutas harus mampu di
rumuskan, didefinisikan hingga terbentuk langkah opererasional bagaiaman
pemanfaatan dakwah di era teknologi ini.
B.
Pembahasan
1. Filsafat dan Teknologi
Pada zaman Renesaince, teknologi mulai
mempenetrasi kebudayaan di Eropa lebih dalam. Leonardo da vinci telah
melukiskan desaian-desaian mesin, seperti mesin terbang (pesawat) dam mesin
bawah air (kapal laut) walaupun hampir semuanay belum berfungsi. Francis bacon
menggantikan ideal sain klasik dengan sians instrumental zaman modern dan
memasuki wilayah teknosians. Sains
menjadi ekperimental, sain eksperimental termediasikan melaluji instrument dan
dengan demikian bersifat teknologis. Filsafat mulai menjadi sadar dengan
teknologi. Pemikiran Descartes mengenai
keunggulan pikiran atas duni materi cenderung mensubordinasikan kepentingan
ekperimentasi dan teknologi[1].
Karl Marx menyumbang pemikiran tentang
filsafat praksis, yakni fislasafat yang menilai kembali teori danmenghubungkan
teori dengan tidnakan danmateri. Yang paling mendasar adalah praksis, perubahan
dalam prkasis akan mengakibatkan perubahan dalam teori. Cara produksi yang
teknologis sangat mempengaruhi bagaiamana suatu masyarakat dibentuk dan
bagaiamana manusia teralienasi dari dirinya sendiri[2].
Dimulai dari Marx, fenomena teknologi mulai memasuki refleksi filsafat yang
serius.
Penggunaan teknologi dalam perang
dunia, sperti bom atom dan radar pendeteksi musuh, semakin menimbulkan
keprihatinan tentang pengaruh teknologi dalam kehidupan manusia. Sehimhha tak ayal bial kemunculan
teknologi dipertanyakan kenetralannya. Pendapat umum muncul dari determinisme
sosial yakni bahwa teknologi hanyalah entitas yang netral. Teknologi, pada dirinya sendiri tidak memiliki
efek, kecuali ketika berada ditangan manusia.
Menurut Ihde, teknologi tidaklah
netral, dalam arti teknologi sebagai mediator antara manusia dan duninya
mengubah pengalaman manusia mengenai dunia. Budaya juga ikut berubah dengan
penerapan teknologi. Ihde juga berpendapat, teknologi menjadi tidak
netralakibat kekuasaan manusia. Manusia dapatr menggunakan teknologi sebagai
sarana kekuasaan untuk mencapai tujuan dan kepentingan tertentu[3].
Teknologi menjadi optonom dan mendominasi hidup manusia dengan menenggelamkan
manusia dalam cara berfikir yang ekstrumental. Manusia dikondisikan dalam
pikiran instrumental di mana semua, termasuk manusia, dilihat sebagai sarana. Otonomi
teknologi juga memunculkan persoalan tentang teknologi yang artificial versus
dunia yang alamiah. Teknologi yang artificial dapat mengubah esensi manusia
apabila teknologi digunakan sebagai mediasi antara manusia dan dunia.
Dalam teknologi pula berlaku
pemnikiran analitis dan teknis, maunusia direduksi menjadi manusia satu
dimensi. Yakni manusia konsumeristik di mana segala sesuatu menjadi komoditas.
Dengan kedok netralitas, teknologi menyembunyikan kekuasaan idiologi teknokratisme
yang mengontrol masyarakat tanpa resepsi, dengan memanipulasi kebutuhan manusia
demi kepentingan pihak tertentu.
Dewasa ini sains tidak dapat
dipisahkan dari alat teknologi, karena ia mewujud dalam instrument. Hal ini
sungguh mencolok dalam Sains Besar (Big Science) dengan struktur mesin raksasa
(big instruments) yang canggih, semisal akselerator partikel (partikel
accelelator) yang mempunyai panjang lingkaran puluhan kilometer dan dipakai
untuk meneliti aktifitas partikel yang lebih kecil daripada atom. Cirri
produktif juga sangat kentara. Sejarah teknologi sarat dengan ciri-ciri
produktifitas. Hal ini merupakan dampak dari meningkatnya ide kemajuan yang
terus-menerus didengung-dengungkan oleh Zaman Pencerahan.
2. Bagiaman Dengan Dakwah ?
Filsafat dakwah tidak lain adalah
merupakan suatu perumusan secar jelas dan tegas secara ekplisit telah
terkandung problem-problem pembentukan pola kehidupan mental spiritual dan
moral force dalamkaitannya menghadapi tantangan dan kesulitan-kesulitan timbul
pada kehidupan sosial kontemporer masa kini, terutama dalam menghadapi scince
dan teknologi yang mungkin juga merupakan perubahan sosial yang besar
danmendasar yang menyertai kemajuan ilmu pengetahuan.
Kecenderungan pola pikir masyarakat
modern saat ini, juga banyak dipengaruhio oleh gaya hidup dan pemikiran
sekularisme yang mengakibatkan pergeseran pemahaman dan cara pandangan manusia,
dari yang bersifat kolektif ke individualistic, dari yang bernuansa agamis ke
matrelaistik[4].
Kecenderungan pemikiran masyarakat sekuler, langsung maupun tidak langsung,
mempunyai dampak terhadap cara pandang kaum muslimin pada saat sekarang ini.
karena arus informasiglobal dan aruys globalisasi ini, maka dampak dari suatu
cara pandangan masyarakat dunia mempengaruhi juga cara pandang kaum muslimin.
Akibatnya maka kevenderungan – kecenderungan cara berfikir kaum sekuler pun
diadopsi oleh sebagian kaum muslimin.
Pengettian dakwah secara sempit pun
(seperti ceramah). Penciutan makana ini membawa orientasi hanya pada hal-hal
yang bersifat rohani belaka. Istilah “dakwah pemabngunan” hanyalah sekedar
contoh seakan-akan ada dakwah yanghanya merupakan titipan sponsor. Masyarakat sebagai objek dakwah sering diangap sebagai
masyarakat yang vacuum dan streril, padahal dakwah sekarang ini berhadapan
dengnan seting masyarakat dengan ragam nilai serta majemuk dalam tata
kehidupan, masyarakat yang kerap mengalami perubahan secara cepat, yang
m,engarah pada masyarakat fungsional, masyarakat teknologis, saintifik dan
masyarakat terbuka[5].
Dalam rangka pengembangan dakwah
islamiah kita kedepan, tidak ada jalan lain bagi kita selian mempersiapkan diri
untuk berdialog dengan kebudayaan modern, secara aktif mengisinya dengan
subtansi dan nuansa-nuansa Islami. Kata
kunci untuk mengantisipasi perubahan kini dan mendatang adalah informasi dari
ilmu pengetahuan. Pada era globalisasi ini, tentu banyak yang perlu dibenahi
bagaiaman seharusnya dai atau olembaga dakwh melakukan aktivitas dakwah,
termasuk penggunaan berbagai dimensi untuk kepentingan dakwah: komunikasi,
psikologi, public relations.
Format dakwah hari ini seyogyanya
harus mendasarkan program serta berorientasi pada basic need suatu masyarakat. Basic
need inilah yang mendorong seseorang
untuk emmeiliki komitmen dan konsistensi dakwah. Sehingga satu penomien yang
muncul hari ini, di era teknologi yang semua serba matrealisme akibat dari
adamnya teknologi tersebut. Aspek dakwh yang sering tertinggal yakni dakwah
dalam bentuk pengembangan masyarakat. Di era industry ini para penduduk muslim
hanya menjadi bagaian yang termarjinalkan, buruh kasar atau hanya pekerja kasar
saja. Di tingakt elit hanya sedikit wakil dari kaum muslimin yang memegang
kekuasaan. Dan semakin memojokan umat islam dalam kancah pergulatan kehidupan
ini. disinilah diperlukan perumusan baru dakwah yang lebih akrab dengan
penguasaan teknologi, sehingga pengembangan masyarakatpun bisa dimulai dari hal
ini dengan dikuasainya teknologi oleg para elit muslim.
3. Perkembangan Teknologi dan Tantangan dakwah
Alcin Toffer, dalam bukunya The Thire
Wave menguraikan bahwa mansia kini memasuki gelombang ketiga yakni era
informasi. Era informai ini ditandai oleh semakin banyaknya tenaga kerja, dan
kian terarahnya pikiran kedalam kegiatan yang berhubungan dengan tgeknolpogi
informasi. Selain itu, era informasi juga ditndai dengan semakin berperannya
teknologi informasi dalam kegiatan ekonomi, politik, budaya dan idiologi, baik ditingkat nasional maupun
dio tingkat internasional[6].
Teknologi moern menyerbu kita
bagaiakan air bah. Penemuan-penemuan baru yang diharapkan bisa membuat hidup
manusia lebih nyaman, lebih sehat dan lebih berharga. Teknologi modrn yang
kecanggihanya terus berkembangn, ringkas kata, membuat manusia kian mampu
memecahkan masalah yang dihadapinya. Dikemukanan oleh Edmun Husrel, istilah
dinia-kehidupan lahir dari tradisi fenomenologi. Fenomenologi mengkaji
pengalaman manusia yang melibatkan dunia yang dihuni oleh manusia dipenuhi oleh
teknologi. Teknologi sudah menjadi bagian hidup, bahakan ketika hendak tidurpun
teknologi menghampiri kita.
Ihde menggunakan metode analsiis
fenomenologis deskriptif yang diadaptasi dari pemikiran Husserl. Manusia selalu
ada di dalam dunia. Dalam arti tertentu dunia bukan di luar sana bagaiaman
dikotomi pikiran dan dunia Descartes. Secara
antropologis dan filosofis, manusia berinteraksi dengan lingkungannya. Walaupun
tanpa teknolog, hewan juga mengubah lingkungannya, semisal burung mengubah
ranting-ranting kayu menjadi rumahnya.
Dalammenghadapi sebuan macam-macam
nilai, keragaman pilihan hidup, sejumlah janji-janji kenikmatan duniawi, dakwah
diharapkan bisa menjadi suluh dengan fungsi-fungsi antara lain sebagai factor
pengimbang, penyaring dan pemberi arah dalam hidup[7].
Begitupun di era teknologi hari ini,
dakwah tidak bisa keluar dari cengkraman teknologi yang kian hari kian
membelenggu manusia dalam ketergantungan yang akan selamanya berlangsung pada
teknologi.
Sebagai faktore pengimbang, mestinya
dakwah bisa membantu kita tidak hanya berkhidmat pada kehidupan dunia yang kian
dimegahkan oleh kemajuan teknologi canggih, tapi tetap menyeimbangkannnya
dengan kehidupan rohaniah. Sebagai penyaring, berarti dakwah diharapkan dapat
membantu kita untuk dapat menetapkan pilihan-pilihan nilai yang lebih manusiawi
dan islami, dalam arus perubahan yang terjadi akibat penemuan dan penerapan
berbagai teknologi modern.
Kajian dakwah yanbg multidimensional
menjadi sangat dibutuhkan, namun dalam era ini peluang dakwah juga menjadi
besar jasa perkembangan teknologi. Lebih tepatnya teknologi komunikasi yang kian
hari kian menunjkan taringnya dalam kehidupan ini, sekana mengatakan bahwa
tidak ada satu detik pun dalam klehidupan ini yang tidak menggunakan jasa
teknologi komunikasi.
Dalam konteks ini, inti kegiatan
dakwah adalah bagaiamana dengan rupa-rupa teknologi modern dan dalam gaya hidup
modern, cinta kita pada Allah SWt dan kepada sesame manusia sebagai hubungan
hablum minannas dapat terwujud. Pertama, orientasi dakwah harus lebih
mengacu pada penunjukan dan pembuktian kemahabesaran Alah SWT. Dengan cara-cara
yang diterima oleh akal sehat. Dengan demikian dakwah kita kedepan akan lebih
fungsional dan lebih berdayaguna dalam mengembangkan benih-benih pengenalan dan
kecintaan kita pada TuhanYang Maha pencipta. Pengenalan, kekaguman dan
kecintaan kepada Allah SWT lewat dakwah seperti itu niscaya akan membantu kita
untuk menemukan wujud-wujud ketundukan kepada-Nya dalam kehidupan kita
sehari-hari.
Kedua, kecintaan kepada sesame
manusia, juga merupakan inti kegiatan bedakwah. Kecintaan ini dapat dicapai
lewat keyakinan bahwa kita semua sesungguhnya bersaudara, dan dengan demikian
kita harus saling mengenal. Pengenalan dimanifestasikan dalam berbagai bentuk
hubungan yang positif. Sehingga kita dapat saling menghargai, karena kita semua
adalah ciptaan yang unik dengan kelebihan dan kekuarangan masing-masing[8].
Bagaiman Kegiatan dakwah yang dapat
dilakukan?
Kegiatan dakwah dalam beberapa hal
dapat dilihat sebagai kegiatan komunikasi, meskipun dakwah itu bukan komunikasi
dalam arti bahwwa dakwah itu = lkomunikasi. Akan tetapi beberapa unsure-unsur
dakwah memang berkaitan dengan komunikasi. Kesamaan itu setidaknya terdapat
dalam komponen komunikasi yang harus diperhatikan diantaranay komunikator,
pesan, mediaum, komunikan dan fed back. Semua hal itu terdapat pula dalam
serangkaian kegaitan dakwah.
Sehingga pertanyan mesti dipertanyakan
yakni bagaiaman agar kegiatan dakwah itu
bisa berjalan dengan efektif. Pertama, makna komunikator harus
diperluas. Kalau selama ini komunikator lebih dipandang sebagai penyampai pesan
hanyalah mereka yang dapat diosebut sebagai ualama, kiai dan mubaligh. Yanghanya
berada di majlistaklim, mesjid-mesjid ataupun di surau-surau. Kita harus
kembali meneguhkan bahwa dalam profesi apapun sesungguhnya kita memiliki
kewajiban akan kedakwahan itu sendiri.
Kedua, isi pesan dakwah ityu pun harus diperluas. Isi
dari pesan dakwah tidak hanya merujuk kepada Al-Quran, hadis, sunnah, dalam
arti sumber baku. Meliankuan perlu juga merujuk pada “Quran besar” yaitu
universum, langit dan bumi serta segala yangada di antara keduanya.
Ketiga, media untuk
menyampaiakan pesan dakwah juga perlu diperluas maknanya. Semua jenis media,
massa, seperti radio, televise, surat kabar, majalah dan sterusnya mesti dapat
dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan dakwah. Tentu daja kontak internal tak kalah
pentingnya.
Keempat. Khalayak atau target audiens juga perlu
diperluas maknanya. Selain dimesjid, langgar musholla, majelis taklim. Juga
mereka yang berada di majlis-majlis taklim seperti di kantor-kantor ,
perusahaan, rum,ah sakit dan sebagainya. Tentu saja dengan cara apapun
pendekatan yag berbeda-beda. Semua anggota masyarakat terlayani.
Kelima, sebagai pendekatan terakhir
dalamkegiatan berdakwah, seperti halanya dalam proses komunikasi, feedback amat
penting. Kesadaran dan kepekaan kita dalam mendeteksi feedback akan membuat
proises berdakwah lebih efektif. Kita misalkan bisa mengubah model dakwah
setelah melihat umpan balik dari khalayak. Feedback juga memungkinkan munculnya
dialog yang lebih produktif.
.
[2]
Francis Lim. Ibid. hal 17
[3]
Francis Lim. Ibid hal 18
[4]
Samsu Munir Amin. Rekontruksi Pemikiran Dakwah Islam. (Jakarta: Amzah,
2008) hal 34-35
[5]
Ahmad Anas. Paradigma Dakwah Kontemporer. Semarang: Pustaka Rizki Utama,
2006. Hal 13
[6]
Marwah Daun Ibrahim. Teknologi Emansipasi dan transendensi.(Bandung:
Mizan, 1994) hal 186
[7]
Ibid hal 191
Tidak ada komentar:
Posting Komentar