Laman

Kamis, 11 April 2019

dakwah dan sains


INTERELASI DAKWAH DENGAN SAIN DAN TEKNOLOGI
 A. Pendahuluan
          Dinamaika perkembangan dakwah pada dasawarsa kalai ini tidak bisa dilepaskan dengan konteks teknologi. Mungkin, dampak dari globalisasi lah yeng menyebabkan dakwah mengalami era baru dengan bersentuhannya dakwah dengan teknologi. Tidak cukup sampai disana, bahkan pengfaruh kuat reknologi, sampai-sampai menjelma menjadi idiologi baru dalam menggiring masyarakat untuk mengikuti “tren” hari ini yang mereka anggap sebagai modern.
          Pengaruh dari adanya perkembangan sain dan teknologi memenga sangat kuat dirasa. Dimulai dari penyebaran informasi yang serba cepat, perubahan perilaku yang signipikan, hingga pada pengkultusan pada salah satu trend “modern” yang berakibat manusia bisa lepas  dari kemanusiaannya. Yang terjadi hanyalah manusia yang penuh dengan kesibukan pribadi yang berujung pada terpecahnya persaudaraan akibat satu kata yakni “persaingan”.
          Tidak cukup samapai disana, problematika hari ini yang dihadapi oleh masyarakat  industry, dimana ruang komunikasi digital semakin terbuka lebar hingga mask pada ruang-ruang privat (baca: teknologi komunikasi dengan menggunakan fasilitas internet) semakin mempojokkan seseorang untuk berdimensi di ruang maya. Pertanyaan yang muncul ialah seberapa jauh masyarakat memanfaatkan teknologi untuk mencari informasi yang berguna bagi kehidupannya.
          Pertanyaanberikutnya, bagaiaman kaitannya dengan dakwah? Akankah dakwah yang selama ini telah berlangsung lambat laun akan ditelan oleh gemerlapnya teknologi internet. Dimana hanya ruang kosong yang menjadikan mansuia mampu berinteraksi dengan yang lain dalam virtual word tanapa realita. Disinilah diperlukan aggasan baru mengenai dakwah dalam trend baru yang bisa menjangkauy pada aspek-aspek teknologi. Artinya kedepan rumusan dakwah harus mampu masuk pada setiap sendi-sendi kehidupan. Dan bukan saatnya lagi mengartukan dakwah sebagai ceramah, khutbah dan poidato-pidato di mesjid saja. Melainkan setiap aktifutas harus mampu di rumuskan, didefinisikan hingga terbentuk langkah opererasional bagaiaman pemanfaatan dakwah di era teknologi ini.

B.     Pembahasan
1. Filsafat dan Teknologi
          Pada zaman Renesaince, teknologi mulai mempenetrasi kebudayaan di Eropa lebih dalam. Leonardo da vinci telah melukiskan desaian-desaian mesin, seperti mesin terbang (pesawat) dam mesin bawah air (kapal laut) walaupun hampir semuanay belum berfungsi. Francis bacon menggantikan ideal sain klasik dengan sians instrumental zaman modern dan memasuki  wilayah teknosians. Sains menjadi ekperimental, sain eksperimental termediasikan melaluji instrument dan dengan demikian bersifat teknologis. Filsafat mulai menjadi sadar dengan teknologi. Pemikiran Descartes  mengenai keunggulan pikiran atas duni materi cenderung mensubordinasikan kepentingan ekperimentasi dan teknologi[1].
          Karl Marx menyumbang pemikiran tentang filsafat praksis, yakni fislasafat yang menilai kembali teori danmenghubungkan teori dengan tidnakan danmateri. Yang paling mendasar adalah praksis, perubahan dalam prkasis akan mengakibatkan perubahan dalam teori. Cara produksi yang teknologis sangat mempengaruhi bagaiamana suatu masyarakat dibentuk dan bagaiamana manusia teralienasi dari dirinya sendiri[2]. Dimulai dari Marx, fenomena teknologi mulai memasuki refleksi filsafat yang serius.
          Penggunaan teknologi dalam perang dunia, sperti bom atom dan radar pendeteksi musuh, semakin menimbulkan keprihatinan tentang pengaruh teknologi dalam kehidupan  manusia. Sehimhha tak ayal bial kemunculan teknologi dipertanyakan kenetralannya. Pendapat umum muncul dari determinisme sosial yakni bahwa teknologi hanyalah entitas yang netral.  Teknologi, pada dirinya sendiri tidak memiliki efek, kecuali ketika berada ditangan manusia.
          Menurut Ihde, teknologi tidaklah netral, dalam arti teknologi sebagai mediator antara manusia dan duninya mengubah pengalaman manusia mengenai dunia. Budaya juga ikut berubah dengan penerapan teknologi. Ihde juga berpendapat, teknologi menjadi tidak netralakibat kekuasaan manusia. Manusia dapatr menggunakan teknologi sebagai sarana kekuasaan untuk mencapai tujuan dan kepentingan tertentu[3]. Teknologi menjadi optonom dan mendominasi hidup manusia dengan menenggelamkan manusia dalam cara berfikir yang ekstrumental. Manusia dikondisikan dalam pikiran instrumental di mana semua, termasuk manusia, dilihat sebagai sarana. Otonomi teknologi juga memunculkan persoalan tentang teknologi yang artificial versus dunia yang alamiah. Teknologi yang artificial dapat mengubah esensi manusia apabila teknologi digunakan sebagai mediasi antara manusia dan dunia.
          Dalam teknologi pula berlaku pemnikiran analitis dan teknis, maunusia direduksi menjadi manusia satu dimensi. Yakni manusia konsumeristik di mana segala sesuatu menjadi komoditas. Dengan kedok netralitas, teknologi menyembunyikan kekuasaan idiologi teknokratisme yang mengontrol masyarakat tanpa resepsi, dengan memanipulasi kebutuhan manusia demi kepentingan pihak tertentu.
          Dewasa ini sains tidak dapat dipisahkan dari alat teknologi, karena ia mewujud dalam instrument. Hal ini sungguh mencolok dalam Sains Besar (Big Science) dengan struktur mesin raksasa (big instruments) yang canggih, semisal akselerator partikel (partikel accelelator) yang mempunyai panjang lingkaran puluhan kilometer dan dipakai untuk meneliti aktifitas partikel yang lebih kecil daripada atom. Cirri produktif juga sangat kentara. Sejarah teknologi sarat dengan ciri-ciri produktifitas. Hal ini merupakan dampak dari meningkatnya ide kemajuan yang terus-menerus didengung-dengungkan oleh Zaman Pencerahan.

2. Bagiaman Dengan Dakwah ?
          Filsafat dakwah tidak lain adalah merupakan suatu perumusan secar jelas dan tegas secara ekplisit telah terkandung problem-problem pembentukan pola kehidupan mental spiritual dan moral force dalamkaitannya menghadapi tantangan dan kesulitan-kesulitan timbul pada kehidupan sosial kontemporer masa kini, terutama dalam menghadapi scince dan teknologi yang mungkin juga merupakan perubahan sosial yang besar danmendasar yang menyertai kemajuan ilmu pengetahuan.
          Kecenderungan pola pikir masyarakat modern saat ini, juga banyak dipengaruhio oleh gaya hidup dan pemikiran sekularisme yang mengakibatkan pergeseran pemahaman dan cara pandangan manusia, dari yang bersifat kolektif ke individualistic, dari yang bernuansa agamis ke matrelaistik[4]. Kecenderungan pemikiran masyarakat sekuler, langsung maupun tidak langsung, mempunyai dampak terhadap cara pandang kaum muslimin pada saat sekarang ini. karena arus informasiglobal dan aruys globalisasi ini, maka dampak dari suatu cara pandangan masyarakat dunia mempengaruhi juga cara pandang kaum muslimin. Akibatnya maka kevenderungan – kecenderungan cara berfikir kaum sekuler pun diadopsi oleh sebagian kaum muslimin.
          Pengettian dakwah secara sempit pun (seperti ceramah). Penciutan makana ini membawa orientasi hanya pada hal-hal yang bersifat rohani belaka. Istilah “dakwah pemabngunan” hanyalah sekedar contoh seakan-akan ada dakwah yanghanya merupakan titipan sponsor. Masyarakat  sebagai objek dakwah sering diangap sebagai masyarakat yang vacuum dan streril, padahal dakwah sekarang ini berhadapan dengnan seting masyarakat dengan ragam nilai serta majemuk dalam tata kehidupan, masyarakat yang kerap mengalami perubahan secara cepat, yang m,engarah pada masyarakat fungsional, masyarakat teknologis, saintifik dan masyarakat terbuka[5].
          Dalam rangka pengembangan dakwah islamiah kita kedepan, tidak ada jalan lain bagi kita selian mempersiapkan diri untuk berdialog dengan kebudayaan modern, secara aktif mengisinya dengan subtansi dan nuansa-nuansa Islami.  Kata kunci untuk mengantisipasi perubahan kini dan mendatang adalah informasi dari ilmu pengetahuan. Pada era globalisasi ini, tentu banyak yang perlu dibenahi bagaiaman seharusnya dai atau olembaga dakwh melakukan aktivitas dakwah, termasuk penggunaan berbagai dimensi untuk kepentingan dakwah: komunikasi, psikologi, public relations.
          Format dakwah hari ini seyogyanya harus mendasarkan program serta berorientasi pada basic need suatu masyarakat. Basic need inilah yang  mendorong seseorang untuk emmeiliki komitmen dan konsistensi dakwah. Sehingga satu penomien yang muncul hari ini, di era teknologi yang semua serba matrealisme akibat dari adamnya teknologi tersebut. Aspek dakwh yang sering tertinggal yakni dakwah dalam bentuk pengembangan masyarakat. Di era industry ini para penduduk muslim hanya menjadi bagaian yang termarjinalkan, buruh kasar atau hanya pekerja kasar saja. Di tingakt elit hanya sedikit wakil dari kaum muslimin yang memegang kekuasaan. Dan semakin memojokan umat islam dalam kancah pergulatan kehidupan ini. disinilah diperlukan perumusan baru dakwah yang lebih akrab dengan penguasaan teknologi, sehingga pengembangan masyarakatpun bisa dimulai dari hal ini dengan dikuasainya teknologi oleg para elit muslim.
         
3. Perkembangan Teknologi dan Tantangan dakwah
          Alcin Toffer, dalam bukunya The Thire Wave menguraikan bahwa mansia kini memasuki gelombang ketiga yakni era informasi. Era informai ini ditandai oleh semakin banyaknya tenaga kerja, dan kian terarahnya pikiran kedalam kegiatan yang berhubungan dengan tgeknolpogi informasi. Selain itu, era informasi juga ditndai dengan semakin berperannya teknologi informasi dalam kegiatan ekonomi, politik, budaya  dan idiologi, baik ditingkat nasional maupun dio tingkat internasional[6].
          Teknologi moern menyerbu kita bagaiakan air bah. Penemuan-penemuan baru yang diharapkan bisa membuat hidup manusia lebih nyaman, lebih sehat dan lebih berharga. Teknologi modrn yang kecanggihanya terus berkembangn, ringkas kata, membuat manusia kian mampu memecahkan masalah yang dihadapinya. Dikemukanan oleh Edmun Husrel, istilah dinia-kehidupan lahir dari tradisi fenomenologi. Fenomenologi mengkaji pengalaman manusia yang melibatkan dunia yang dihuni oleh manusia dipenuhi oleh teknologi. Teknologi sudah menjadi bagian hidup, bahakan ketika hendak tidurpun teknologi menghampiri kita.
          Ihde menggunakan metode analsiis fenomenologis deskriptif yang diadaptasi dari pemikiran Husserl. Manusia selalu ada di dalam dunia. Dalam arti tertentu dunia bukan di luar sana bagaiaman dikotomi pikiran dan dunia Descartes.  Secara antropologis dan filosofis, manusia berinteraksi dengan lingkungannya. Walaupun tanpa teknolog, hewan juga mengubah lingkungannya, semisal burung mengubah ranting-ranting kayu menjadi rumahnya.
          Dalammenghadapi sebuan macam-macam nilai, keragaman pilihan hidup, sejumlah janji-janji kenikmatan duniawi, dakwah diharapkan bisa menjadi suluh dengan fungsi-fungsi antara lain sebagai factor pengimbang, penyaring dan pemberi arah dalam hidup[7].  Begitupun di era teknologi hari ini, dakwah tidak bisa keluar dari cengkraman teknologi yang kian hari kian membelenggu manusia dalam ketergantungan yang akan selamanya berlangsung pada teknologi.
          Sebagai faktore pengimbang, mestinya dakwah bisa membantu kita tidak hanya berkhidmat pada kehidupan dunia yang kian dimegahkan oleh kemajuan teknologi canggih, tapi tetap menyeimbangkannnya dengan kehidupan rohaniah. Sebagai penyaring, berarti dakwah diharapkan dapat membantu kita untuk dapat menetapkan pilihan-pilihan nilai yang lebih manusiawi dan islami, dalam arus perubahan yang terjadi akibat penemuan dan penerapan berbagai teknologi modern.
          Kajian dakwah yanbg multidimensional menjadi sangat dibutuhkan, namun dalam era ini peluang dakwah juga menjadi besar jasa perkembangan teknologi. Lebih tepatnya teknologi komunikasi yang kian hari kian menunjkan taringnya dalam kehidupan ini, sekana mengatakan bahwa tidak ada satu detik pun dalam klehidupan ini yang tidak menggunakan jasa teknologi komunikasi.
          Dalam konteks ini, inti kegiatan dakwah adalah bagaiamana dengan rupa-rupa teknologi modern dan dalam gaya hidup modern, cinta kita pada Allah SWt dan kepada sesame manusia sebagai hubungan hablum minannas dapat terwujud. Pertama, orientasi dakwah harus lebih mengacu pada penunjukan dan pembuktian kemahabesaran Alah SWT. Dengan cara-cara yang diterima oleh akal sehat. Dengan demikian dakwah kita kedepan akan lebih fungsional dan lebih berdayaguna dalam mengembangkan benih-benih pengenalan dan kecintaan kita pada TuhanYang Maha pencipta. Pengenalan, kekaguman dan kecintaan kepada Allah SWT lewat dakwah seperti itu niscaya akan membantu kita untuk menemukan wujud-wujud ketundukan kepada-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari.
          Kedua, kecintaan kepada sesame manusia, juga merupakan inti kegiatan bedakwah. Kecintaan ini dapat dicapai lewat keyakinan bahwa kita semua sesungguhnya bersaudara, dan dengan demikian kita harus saling mengenal. Pengenalan dimanifestasikan dalam berbagai bentuk hubungan yang positif. Sehingga kita dapat saling menghargai, karena kita semua adalah ciptaan yang unik dengan kelebihan dan kekuarangan masing-masing[8].


Bagaiman Kegiatan dakwah yang dapat dilakukan?      
          Kegiatan dakwah dalam beberapa hal dapat dilihat sebagai kegiatan komunikasi, meskipun dakwah itu bukan komunikasi dalam arti bahwwa dakwah itu = lkomunikasi. Akan tetapi beberapa unsure-unsur dakwah memang berkaitan dengan komunikasi. Kesamaan itu setidaknya terdapat dalam komponen komunikasi yang harus diperhatikan diantaranay komunikator, pesan, mediaum, komunikan dan fed back. Semua hal itu terdapat pula dalam serangkaian kegaitan dakwah.
          Sehingga pertanyan mesti dipertanyakan yakni bagaiaman  agar kegiatan dakwah itu bisa berjalan dengan efektif. Pertama, makna komunikator harus diperluas. Kalau selama ini komunikator lebih dipandang sebagai penyampai pesan hanyalah mereka yang dapat diosebut sebagai ualama, kiai dan mubaligh. Yanghanya berada di majlistaklim, mesjid-mesjid ataupun di surau-surau. Kita harus kembali meneguhkan bahwa dalam profesi apapun sesungguhnya kita memiliki kewajiban akan kedakwahan itu sendiri.
          Kedua,  isi pesan dakwah ityu pun harus diperluas. Isi dari pesan dakwah tidak hanya merujuk kepada Al-Quran, hadis, sunnah, dalam arti sumber baku. Meliankuan perlu juga merujuk pada “Quran besar” yaitu universum, langit dan bumi serta segala yangada di antara keduanya.
          Ketiga, media untuk menyampaiakan pesan dakwah juga perlu diperluas maknanya. Semua jenis media, massa, seperti radio, televise, surat kabar, majalah dan sterusnya mesti dapat dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan dakwah. Tentu daja kontak internal tak kalah pentingnya.
Keempat. Khalayak atau target audiens juga perlu diperluas maknanya. Selain dimesjid, langgar musholla, majelis taklim. Juga mereka yang berada di majlis-majlis taklim seperti di kantor-kantor , perusahaan, rum,ah sakit dan sebagainya. Tentu saja dengan cara apapun pendekatan yag berbeda-beda. Semua anggota masyarakat terlayani.
Kelima, sebagai pendekatan terakhir dalamkegiatan berdakwah, seperti halanya dalam proses komunikasi, feedback amat penting. Kesadaran dan kepekaan kita dalam mendeteksi feedback akan membuat proises berdakwah lebih efektif. Kita misalkan bisa mengubah model dakwah setelah melihat umpan balik dari khalayak. Feedback juga memungkinkan munculnya dialog yang lebih produktif.  
            
.


[1] Francis Lim.  Filsafat Teknologi. (Yogyakarta: Kanisus, 2008) hal 16
[2] Francis Lim. Ibid. hal 17
[3] Francis Lim. Ibid hal 18
[4] Samsu Munir Amin. Rekontruksi Pemikiran Dakwah Islam. (Jakarta: Amzah, 2008) hal 34-35
[5] Ahmad Anas. Paradigma Dakwah Kontemporer. Semarang: Pustaka Rizki Utama, 2006. Hal 13
[6] Marwah Daun Ibrahim. Teknologi Emansipasi dan transendensi.(Bandung: Mizan, 1994) hal 186
[7] Ibid hal 191
[8] Marwah Daud Ibrahim. Ibid. hal  193