Laman

Senin, 22 Oktober 2018

Ihtiar Penerapan Komunikasi dalam Islam


DAKWAH DAN KOMUNIKASI PART2
(Prinsip-Prinsi Komunikasi dalam Islam)
Matkul : Kapita Selekta Islam dan Komunikasi

Penerapan Komunikasi dalam Islam
Dalam berdakwah, tetunya semua dai dan mubaligh berkomunikasi dengan jamaahanya. Tak satupun mubaligh yang hendak berdakwah ia tidak melakukan proses komunikasi. Dakwah dengan lisan (komunikasi verbal) adalah salah satu cara dai/mubaligh untuk menyampaikan ide dan gagasan dalam dakwahnya. Sejak awal aquran telah memberikan batasan pada manusia untuk melakukan komunikasi (dakwah) kepada masyarakat sesuai dengan kapasitas keilmuan masyarakat tersebut. Tentunya factor budaya menjadi salah satu pertimbangan dalam proses dakwah yang disampaikan. Jangan samapai komunikasi yang disampaikan oleh para mubaligh tidak sesuai dengan dinamuka budaya yang berkembang di suatu masyarakat tersebut.
Rasululah telah memberikan isyarat bahwa dalam berakwah dan berkomuniaksi dengan masyarakat itu harus esuai dengan takarannya “ala qadri uqulihim” hadis tersebut memberikan isyarat pada kita untuk cerdas melihat budaya yang berkembang di suatu masyarakat, maka hakikat komunikasi dalam islam yakni mengenal budaya dan kebiasaan masyarakat tersebut sebelum jauh melakukan proses dialog secara panjang. Maka pendekatan komunikasi lintas budaya menjadi elemen penting dalam penguasaan konsep komunikasi di dalam islam. Dimana kita fahami bahwa Komunikasi Lintas budaya adalah proses dimana dialihkan ide atau gagasan suatu budaya yang satu kepada budaya yang lainnya dan sebaliknya, dan hal ini bisa antar dua kebudayaan yang terkait ataupun lebih, tujuannya untuk saling mempengaruhi satu sama lainnya, baik itu untuk kebaikan sebuah kebudayaan maupun untuk menghancurkan suatu kebudayaan, atau bisa jadi sebagai tahap awal dari proses akulturasi (penggabungan dua kebudayaan atau lebih yang menghasilkan budaya baru.
Dalam menympaikan pesan-pesan risalahnya, tentu tidak bias berdiri sendiri hanya dengan mengaIndalkan  lisan, melainkan komunikasi yang efektif begitu dibutuhkan dalam dakwah. Melalui kounikasi yang efektif inilah seorang mubaligh akan mendapat feedback dari jamaahnya. Ketika proses komuikasi ini terjadi,terdapat feedback dari jamaahnya, maka ketika itu dakwah sudah terjalin dua arah, dimana komunikator dengan mudah mengekpresikan perasaannya, memelihara kedekatan, mengatur suara, serta merumuskan pesan untuk menyapa audiennya, Karena itu mudah difahami bahwa aplikasi komunikasi bagi para mubaligh sangat bermanfaat dalam rangka menyampaikan pesan-pesan agama kepada para jamaahnya.
Seperti jiga para wali yang menyenandungkan pesan-pesan itu lewat uara gamelan yang sesuai dengan jamananya. Seperti diisyaratkan oleh sejarah, para wali adalah komunikator handal yang cerdas membaca zaman sekaligus pandai memanfaatkan bahsa umatnya. Juru dakwah, mubaligh, penyeru agama dan wali adalah actor komunikasi yang piawai menyampaikan pesan-pesan Tuhan dalam Bahasa yang mudah diterima.
Peran Jurnalis dalam Komunikasi Islam
The Council on American Islamic Relations (CAIR) merasa perlu berterima kasih pada CNN atas poeran positifnya dalam menyebarkan informasi islam ecara objektif dan terbuka. Penyerluasan islam seperti yang dilakukan oleh CAIR dilakukan karena situasinya dipandang positif, terutama setelah opini public terbentuk. CNN telah membentuk citra baru tentang islam yang berbeda dari bangunan citra sebelumnya. Halini menunjukan bahwa peran jurnalis dalammenyebarkan pesan-pesan keisalaman cukup efektif di amerika. Komunikasi islam melalui para jurnalis begitu memiliki peranan penting dalam perkembangan islam di Amerika juga berperan aktif dalam membangun citra islam di Amerika.
Terlebih lagi pada era informasi seperti sekarang ini, usaha tersebut menjadi sangat mudah karena di dukung oleh tersedianya media massa yang memadai. Peranan jurnalis alam mengkomunikasikan islam sangat terbuka, peristiwa yang berkaiatand engan dunia islam baik itu politik sosiall dan ekonomi, dapat disebarluaskan denganmudah melalui teknologi komunikasi dan informasi. Penggunaan media sebagai alat propaganda sudah tidak dapat lagi di bending, media menjelma menjadi alat untuk menusuk dan m,enikam lawan.
Mc Luhan yang terkenal dengan teori perpanjangan tangan alat indra, menyebutkan bahwa media merupakan perluasan dari alat indra. Melalui media kita bias menikmati peristiwa-peristiwa dunia yang terjadi pada saat yang sama telinga kita bias memanjangkan sketika dengan bantuan telepon, seoarang mubaligh dapat menyampikan pesan-pesan agamanya melalui media massa yang ada. Dengan adanya seperti itu, sejatiya setiap juru dkwah dapat menyebarluaskan dakwahnya keberbagai pelosok negeri tanpa perlu memikirkan transportasi lagi. Karena sentuhan-sentuhan komunkasi dengan jamaahnya dapat di maksimalkan melalui media yang tersedia, baik melalui media elektronik maupun media maya.
Melalui cara seperti itu, seorang mubaligh dapat mengkomunikasikan pean-pesan keislamannya pada ruang dan tempo yang sama dapat menjangkau ratusan, bahkan jutaan public pembaca ataupun pendengar. Media jurnalistik telah memainkan peranan yang cikup besar bagi kpentingan dakwah islam. Pada sisi ini lah dipandang perlunya kemampuan jurnalistik dimiliki oleh lembaga-lembaga dkwah islam. Karena melalui pemahaman kan jurnalistiklah mereka dapat mengolah pesan dan menyampaikan pesan-pesan quran kepada seluruh khalayak dengan tepat guna dan tepat sasaran.
Pers dan Penyebaran Pesan-Pesan Agama
Pers, baik itu cetak maupun elektronik merupakan media alternative yang efektif untuk dijadikan alat komunikasi massa. Efektif karena kekuatan daya persuasinya yang mampu menembus daya rasa dan daya piker para pembaca dan pendengarnya. Efisien karena pembaya dan pendengarnya sangat luas bias menjangkau puluhan bahkan jutaan pendengar dalam satu kali siaran. Munculnya pers yang bernuansa agama mengindikasikan bahwa adanya respon positif atas kecenderungan masyarakat dalam beragama. Maalah-masalah yang menyangkut pemahaman keagamaan, pembaharuan pemikiran islam, aspirasi umat dan lain-laian akan dpat dengan mudah di kaji dan didekati dengan kacamata dan melalui media komunikasi.
Ronal Compesi, pernah melakukan risset media massa pada program televise All My Children di Oregon Amerika. Hasil yang didapat dari 221 penonton acara tersebut bahwa salah satu alasan mereka menonton acara tersebut yakni untuk melarikan diri dari masalah yang dihadapinya. Karena mereka membutuhkan nasihat-nasihat yang terdapat dalam acara tersebut. Hal ini menunjukan bahw kebutuhan spiritualitas semakin meningkat, maka komunikasi yang efektif melalui program-program media massa perlu di tingkatkan kualitas dan kuantitasnya.
Fenomena semakin derasnya arus sajian rubric keagamaan pada media massa, baik cetak maupun elektronik telah mendorong para pemogram acara ataupun pengasuh rubric untuk lebih serius mengelola pesan dakwahnya di media.
Disini diperlukan suatu metode yang tepat bagaimana seseorang mampu menyiasati massa melalui penggunaansuatu media. Bagi para juru dakwah bagaimana mereka mampu menafaatkan media itu sevara tepat, memindahkan bahsa mimbar menjadi Bahasa koran, mendesaian gaya tabligh akbar dilapangan terbuka menjadi suatu program acara mimbar agama islam di televise yangsingkat tetapi menarik perhatian pemirsa. Begitupun dalam merancang dakwah di media-medai social berbasis internet, kemapuan seorang dai dalam merancang program dakwahnya patut di perhitungkan, itu semua dapatterjadi jika semua elemen islam memahami pentingnya dan urgensi komunikasi massa.
Itulah sebabnya untuk mewujudkan rancangan ideal sajian agama di media massa, perlu terus dikembangkan kolaborasi produktif antara ulama dan media massa. Ulama menanfaatkan media massa lewat usaha merumuskan tema-tema keagamaan untuk dikomunikasikan kepada masyarakat, dan insan pers juga dapat meningkatkan pengetahuannya dalam menterjemahkan tema-tema itu kedalam pesan-pesan komunikasi agama yang lebih universal.
Lewat media massa juru dakwah dapat mengunjungi rumah-rumah, kantor-kantor bahkan kamar rahasia sekalipun, untuk membisikan pesan etika dan moral. Melalui pesan-pesan persuasinya media massa akan menghadirkan nilai-nilai moral dan agama secara universal, sekaligus menghindario munculnya kesan eklusif. Globalisasi informasi yang berkembang saat ini tidak menutup kemungkinan akan mengahirkan phenomena baru. Bahwa bukan hanya umat islam yang akan mengkonsumsi materi-materi dakwh yang disamapikananya, bias jadi umat di luar islam puna kan mengakses hal yang sama. Mereka dapat denga mudah membaca mengamati dan mengkaji aajaran-ajaran islam yang disampaikan melalui media massa.

6 komentar: